A. PENGERTIAN
Drama berasal dari bahasa Yunani “Dramoi” yang sama dengan “to ackt” (bahasa Inggris) artinya bergerak berbuat.
Istilah lain untuk drama adalah : sandiwara, tonil, lakon.
Sandiwara dari kata “sandi” yang artinya tersamar, tidak jelas dan kata “wara” artinya berita. Jadi drama adalah karya sastra yang melukiskan kehidupan dan watak manusia lewat gerak dan dialog di atas pentas.
B. MACAM-MACAM DRAMA
1. Ketoprak (Jawa Tengah)
2. Lenong (Betawi)
3. Randai (Minang)
4. Ludruk (Jawa Timur)
5. Reog (Jawa Timur)
6. Rangda (Bali)
C. UNSUR-UNSUR DRAMA
1. Naskah atau teks play atau lakon
2. Pemain (aktor atau aktris)
3. Tempat pertunjukan (teater)
4. Penonton (audiens)
D. UNSUR-UNSUR NASKAH DRAMA
1. Tema
2. Plot
3. Dialog
4. Perwatakan atau karakteristik
E. PROSES PENGADAAN DRAMA
1. Tema
Pengarang mengkhayalkan kisah manusia yang akan didramakan sehingga lahirlah sebuah ide atau masalah.
2. Menuliskan
Ide yang telah tercetus itu, dituangkan dalam bentuk karangan drama, sehingga menjadi sebuah kisah atau naskah drama atau lakon.
3. Memainkan
Naskah yang telah tersusun, oleh para aktor atau aktris dimainkan agar menjadi hidup.
4. Menyaksikan
Para audiens atau penonton menyaksikan lakon yang dipentaskan.
F. SUSUNAN PLOT ATAU ALUR DRAMA
1. Eksposisi
Lakon atau plot dimulai dengan sesuatu insiden yang mengawali adanya konflik.
2. Komplikasi
Dari insiden permulaan, timbullah penanjakan lakon sehingga berkembang menjadi konflik.
Ketegangan pun mencapai klimaks.
3. Resolusi
Lama-kelamaan konflik mulai mengendor, karena telah didapat jalan keluar.
Konflik menuju suatu penyelesaian dan akhirnya konfliks itu terselesaikan.
GAMBAR ALUR
KETERANGAN :
1. Eksposisi
2. Komplikasi
3. Resolusi
G. TEKNIK BERMAIN DRAMA
1. Teknik Muncul
Teknik seorang pemain untuk pertama kalinya tampil di atas pentas dalam satu drama.
2. Teknik Memberi Isi
Teknik menimbulkan kesan yang berbeda-beda.
3. Teknik Mengembangkan Improvisasi (cerita)
Teknik yang bertujuan untuk mengembangkan suatu drama sehingga drama tidak monoton dan menyebalkan.
Teknik ini ada 4 macam, yaitu :
3.1. Menaikkan volume suara.
3.2. Menaikkan nada suara
3.3. Menaikkan kecepatan tempo suara
3.4. Improfisasi : volume suara, tinggi nada dan kecepatan nada.
4. Teknik Membina Puncak Cerita
Ujung kunci dalam cerita.
5. Teknik Timing atau waktu
Ketepatan hubungan antara gerakan jasmani yang berlangsung sekejap dengan kata atau kalimat.
H. LANGKAH MEMBUAT NASKAH DRAMA
1. Menentukan tema
2. Menyusun alur cerita terlebih dahulu, untuk menentukan kapan mulai peleraian.
3. Perhatikan konsistensitas untuk seorang tokoh.
4. Keterangan gerak harus sesuai dengan watak tiap pelaku.
5. Latar dibuat sederhana tetapi meyakinkan.
6. Dialog singkat, tetapi jelas dan koherensif.
I. UNTUK BERMAIN DRAMA YANG BAIK
1. Mengetahui jalan cerita drama
2. Menghayati betul alur cerita
3. Menghayati betul tokoh yang kita perankan
4. Menguasai teknik bermain drama dengan baik.
J. ALAT PEMBANTU DRAMA
1. Babak
Drama terdiri atas beberapa babak, tetapi tidak sedikit pula sandiwara yang hanya satu babak.
Drama biasanya dianggap baik, kalau terdiri atas 5 babak.
Tiap babak ditandai dengan dekor tertentu.
2. Adegan
Tiap-tiap babak terdiri atas beberapa adegan.
Jadi berbeda dengan babak, perubahan tiap-tiap adegan itu disertai dengan perubahan dekorasi.
3. Proloog
Proloog adalah kata pendahuluan yang membuka babak pertama dalam Drama.
Proloog memberikan pemandangan tentang para pelaku drama serta konfliks atau pertentangan yang akan mereka alami di atas pentas.
4. Monoloog
Monoloog adalah percakapan seorang pelaku dengan dirinya sendiri.
5. Dialog
Dialog adalah percakapan antara beberapa orang pelaku (dialog antar tokoh)
6. Mimiek
Mimiek adalah gerak-gerik air muka serta isyarat.
7. Reira atau Nyanyian Bersama
Tiap babak diakhiri dengan reira yang berisi kesimpulan daripada babak yang baru saja berakhir.
8. Epiloog
Epiloog adalah kata penutup yang mengakhiri drama guna menyimpulkan dan menarik pelajaran dari apa yang telah dipertunjukkan itu.
K. ISI DRAMA
1. DRAMA TRAGEDI
Drama Tragedi adalah drama yang penuh dengan kesedihan.
Hal ini disebabkan pelaku utama dari awal hingga akhir pertunjukkan senantiasa kandas dalam melawan nasibnya yang buruk.
Contoh :
a. Nyai Dasima
b. Ken Arok dan Ken Dedes karya Muhammad Yamin
c. Hamlet karya Shakespeare
2. DRAMA KOMEDI
Drama Komedi adalah drama penggeli hati.
Drama komedi ini berisi sindiran atau kecaman terhadap orang-orang atau suatu keadaan pelaku yang dilebih-lebihkan.
Bahannya diambil dari kejadian yang terdapat dalam masyarakat serta berakhir dengan kegembiraan.
Contoh :
a. Tuan Amin karya Amal Hamzah
b. Liburan Seniman karya Usmar Ismail
3. DRAMA TRAGEDI KOMEDI
Drama Tragedi Komedi adalah drama yang penuh dengan kesedihan tetapi disamping itu kita jumpai juga hal-hal yang menggembirakan hati kita.
Contoh :
a. Api karya Usmar Ismail
b. Saijen en Adinda (Petikan dari Roman Max Havelar) karya Multatuli
4. LELUCON ATAU DAGELAN
Lelucon atau Dagelan adalah drama yang membuat penonton tertawa dari awal sampai akhir pertunjukan..
Hal ini disebabkan pelaku utama dari awal hingga akhir pertunjukkan senantiasa kandas dalam melawan nasibnya yang buruk.
Contoh :
a. Pak Pandir
b. Pak Bendul
c. Pak Jago
5. OPERA
Opera adalah drama yang berisi nyanyian dan musik.
Perkataan Opera berasal dari bahasa Italia yang berarti perbuatan.
Contoh :
Julius Caesar terjemahan Muhammad Yamin
6. OPERETTE
Operette adalah opera yang lebih pendek.
7. PANTOMINE
Pantomine adalah drama yang disampaikan dengan gerak-gerik serta isyarat saja tanpa kata-kata.
8. TABLEU
Tableu adalah drama yang disampaikan dengan gerak-gerik.
9. PASSIE
Passie adalah drama yang bersifat religius yang mempertunjukkan penderitaan dan perjuangan Jesus sampai saat penyaliban atas dirinya.
L. PENGARANG DRAMA
1. USMAR ISMAIL
Sebagai pelopor sandiwara modern.
Pada zaman Jepang, Usmar Ismail, El-Hakim dan Rosihan Anwar merupakan tiga serangkai pemimpin dan pendiri perkumpulan sandiwara “Maya”
Drama karangan Usmar Ismail, yaitu :
a. Mutiara dari Nusa Laut
b. Sedih dan Gembira,
Yaitu buku kumpulan 3 drama : Citra, Api dan Liburan Seniman
2. EL-HAKIM (Dr. ABU HANIFAH)
Ia terkenal sebagai pelopor perkumpulan sandiwara serta pengarang yang bertema nasional – realisme.
Buku kumpulan dramanya berjudul “Taufan di Atas Asia” terdiri dari atas 4 buah drama, yaitu :
a. Taufan di Atas Asia
b. Intelek Istimewa
c. Insan Kamil
d. Dewi Reni
3. SANUSI PANE
Hasil karangan dramanya yaitu :
a. Kertajaya
b. Manusia Baru
c. Sandyakalaning Majapahit
4. MUHAMMAD YAMIN
Hasil karangan dramanya yaitu :
a. Airlangga
b. Ken Arok dan Ken Dedes
c. Kala Dewi Tara Sudah Berkata
5. IDRUS
Hasil karangan dramanya yaitu :
a. Dokter Bismo
b. Kejahatan Membalas Dendam
c. Keluarga Surono
6. RUSTAM EFFENDY
Hasil karangan dramanya yaitu :
Bebasari (bentuknya puisi)
7. TULIS SUTAN NAN SATI
Mengarang kembali bentuk prosa Lirik yaitu : Sabai Nan Aluih
8. UTUY TATANG SONTANI
Hasil karangan dramanya yaitu :
a. Bunga Rumah Makan
b. Di Langit Ada Bintang
c. Suling
9. ARMYN PANE
Mengarang dalam “Jinak-Jinak Merpati”, dengan cerita-cerita sandiwara yang lain, yaitu kumpulan 7 buah drama.
Karangan drama itu, yaitu :
a. Jinak-Jinak Merpati
b. Antara Bumi dan Langit
c. Lukisan Masa
d. Nyai Langgeng
e. Barang Tidak Berharga.
Rabu, 11 Januari 2012
PERKEMBANGAN SASTRA MENURUT ZAMAN
A. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT Drs. B. SIMORANGKIR S.
1. Kesusasteraan masa lama atau purba (sebelum datangnya pengaruh India)
Kesusateraan ini meliputi cerita tentang doa, mantra, silsilah, adat kebiasaan dan kepercayaan
2. Kesusasteraan Masa Hindu/Arab
Mulai dengan adanya pengaruh Hindu, dengan kedatangan agama Islam sampai kedatangan orang asing lain
Kesusasteraan ini meliputi cerita-cerita yang mengenai :
2.1. Asal-usul manusia
2.2. Alam
2.3. Agama
2.4. Pengajaran agama Islam
2.5. Keadaan negara asing
2.6. Cerita-cerita yang bersifat didaktis
2.7. Cerita-cerita yang bersifat penglipur lara
2.8. Silsilah raja-raja dan keluarganya
3. Kesusasteraaan Masa Baru
Terbagi atas :
3.1. Kesusasteraan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
3.2. Masa Balai Pustaka
3.3. Masa Pujangga Baru
4. Kesusasteraan Masa Mutakhir
Dari tahun 1942 hingga sekarang, meliputi :
4.1. Masa pendudukan Jepang
4.2. Masa revolusi
4.3. Masa kemerdekaan
B. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT USMAN EFFENDY
1. Kesusasteraan Lama ( ……. – 1920 )
2. Kesusasteraan Baru ( 1920 – 1945 )
3. Kesusasteraan Modern ( 1945 - …….. )
C. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT SABARUDDIN AHMAD
1. Kesusasteraan Lama
1.1. Dinamisme
1.2. Hinduisme
1.3. Islamisme
2. Kesusasteraan Baru
2.1. Masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
2.2. Masa Balai Pustaka
2.3. Masa Pujangga Baru
2.4. Masa Angkatan ‘45
D. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT Drs. UMAR JUNUS
1. Sastra Pre Angkatan ’33 ( Pre Angkatan Pujangga Baru)
Yang dimaksud dengan Pre Angkatan ’33 ialah masa antara tahun 1928 (peresmian bahasa Indonesia oleh Sumpah Pemuda) sampai tahun 1933 (munculnya Pujangga Baru)
2. Sastra Angkatan ’33 (Angkatan Pujangga Baru)
3. Sastra Angkatan ‘45
4. dan seterusnya
E. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT Prof. Drs. SLAMET MULYANA
1. Sastra Melayu Klasik / Kuno : ……….. s.d. Abdullah
2. Sastra Melayu Modern / Baru : dari 1920 - 1945
3. Sastra Indonesia : mulai tahun 1945
F. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT H.B. JASSIN
1. Sastra Melayu Lama
2. Sastra Melayu Modern
2.1. Angkatan ‘20
2.2. Angkatan ’33 atau Pujangga Baru
2.3. Angkatan ‘45
2.4. Angkatan ‘66
G. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT AJIP ROSIDI
1. Masa Kelahiran atau Masa Kejadian (Awal abad XX – 1945)
1.1. Periode awal abad XX – 1933
1.2. Periode 1933 – 1942
1.3. Periode 1942 – 1945
2. Masa Perkembangan ( sejak 1945 – kini)
2.1. Periode 1945 – 1953
2.2. Periode 1953 – 1960
2.3. Periode 1960 – kini
H. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT NUGROHO NOTOSUSANTO
1. Sastra Melayu Lama
2. Sastra Indonesia Modern
2.1. Masa Kebangkitan
2.1.1. Periode ‘20
2.1.2. Periode ‘33
2.1.3. Periode ’42
2.2. Masa Perkembangan
2.2.1. Periode ‘45
2.2.2. Periode ‘50
I. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT J.S. BADUDU
1. Kesusasteraan Lama dengan Angkatan Lamanya :
1.1. Kesusasteraan Masa Purba
1.2. Kesusasteraan Masa Hindu – Islam
2. Kesusasteraan Peralihan dengan Angkatan Peralihannya:
2.1. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
2.2. Angkatan Balai Pustaka
J. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT PERKEMBANGAN BAHASA
1. Sastra Masa Balai Pustaka
2. Sastra Masa Angkatan Pujangga Baru
3. Sastra Masa Angkatan ‘45
4. Sastra Masa sesudah Angkatan ‘45
SASTRA MELAYU PURBA
Sebelum tahun 1950 sastra Melayu berupa cerita lisan. Yang termasuk dalam sastra lisan ialah peribahasa, yaitu kata adat yang sudah berbentuk tetap. Semua itu menggambarkan tabiat, watak orang Melayu.
Demikian juga dengan pantun, dongeng anak-anak, legenda, cerita jenaka, penglipur lara.
A. KEPERCAYAAN BANGSA MELAYU
1. Pantang bahasa
Kata-kata menimbulkan tenaga atau kekuatan.
Kata celaka mendatangkan kecelakaan, sebaliknya kata selamat menimbulkan keselamatan.
Kata ular diganti dengan akar, harimau diganti dengan nenek.
2. Kepercayaan pada roh halus
3. Kepercayaan pada pawang.
Pawang dianggap sebagai orang keramat yang mempunyai kedudukan terhormat, dan pandai bercerita serta membacakan mantera.
B. CERITA MELAYU KLASIK
Cerita yang berkembang pada saat itu adalah :
1. Cerita Pak Kodok
Seorang yang baik hati memiliki maksud-maksud yang baik juga, tetapi karena kebodohannya maka malanglah nasibnya.
2. Si Kelambai
Kelambai adalah raksasa yang bodoh. Jika anak manusia ditegurnya akan menjadi batu dan batang pisang. Raksasa yang besar dapat dikalahkan oleh manusia karena kebodohannya.
3. Hikayat Si Miskin
Si Miskin berasal dari raja keinderaan yang dikutuk oleh Batara Indera, sehingga suami isteri itu hidup melarat.
4. Cerita Penglipur Lara
Contohnya :
a. Hikayat Malim Deman
b. Hikayat Raja Muda
c. Hikayat Raja Budiman
Sedangkan tokoh yang sering dan selalu muncul dalam cerita penglipur lara adalah :
1. Kembang Manusia atau Kembang Cina
Yaitu seorang puteri yang melayani anak raja itu sebelum bertemu dengan puteri yang diperkenankan kepadanya.
2. Nenek Kebayan
Nenek yang menjadi perantara antara anak raja dengan puteri yang dicintainya.
3. Bujang Selamat
Seorang bujang yang amat setia pada anak raja dan rela mengorbankan diri bagi majikannya.
KESUSASTERAAN ZAMAN HINDU
A. PENGARUH HINDU
Pengaruh Hindu pada kesusasteraan Melayu sangat besar, sehingga berurat berakar karena lamanya bangsa Hindu menetap di Indonesia.
Pengaruh Hindu terhadap sastra Melayu dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
1. Cerita-cerita yang langsung masuk ke Indonesia
Contoh : Mahabarata dan Ramayana
2. Cerita-cerita yang datangnya melalui Persia dahulu
Contoh : Panca Tandera, Hitopadesya
3. Pengaruh Hindu tampak pada berbagai cerita sehingga dalam hikayat-hikayat Melaytu terdapat persamaan atau mirip dengan cerita-cerita Hindu, nama-nama dewa dan sebagainya.
B. MAHABARATA DAN RAMAYANA
Mahabarata dan Ramayana merupakan epos atau wiracarita terkenal, masing-masing disusun oleh oleh Wiyasa dan Walmiki.
1. MAHABARATA
Mahabarata terdiri dari 18 jilid atau parwa.
Bagi orang Hindu buku ini bukan hanya hikayat kepahlawanan tetapi juga sebuah buku agama.
Sebuah cerita sisitan atau episode yang terkenal dalam buku ini adalah “Bhagawat Gita” yang berisi percakapan antara “Kresna” sebagai guru dan “Arjuna” sebagai murid.
Pada pokoknya Mahabarata berisi :
a. Perebutan kerajaaan oleh keturunan Bharata yaitu Pandawa dan Kurawa.
b. Bermacam-macam hal, ajaran kaum Brahmana, keagamaan, adat istiadat.
c. Bermacam-macam sage yang berupa cerita sisipan atau episode.
Seperti : Bhagawat Gita, Nala dan Damayanti
2. RAMAYANA
Ramayana terdiri dari 8 jilid atau kanda.
Dalam bahasa Indonesia terkenal dengan “Hikayat Seri Rama”.
Hal ini dapat kita lihat dan saksikan seperti pada cerita-cerita yang terdapat pada pahatan di candi-candi, cerita Ramayana dapat pula kita saksikan di Candi Prambanan .
Dari pahatan di Prambanan terkenal dongeng “ Loro Jonggrang”
PENGARUH ISLAM DALAM PERKEMBANGAN SASTRA DI INDONESIA
A. MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
Menurut sejarah, masuknya Islam ke Indonesia ialah pada abad ke-13, terbukti dari keterangan-keterangan pelancong antara lain :
1. Marcopolo sudah mendapatkan kaum Islam di Sumatera pada tahun 1292.
2. Dibuktikannya adanya tulisan yang tertera pada batu nisan Sultan Pasai yaitu Malikussaleh.
Pengaruah Islam dalam sastra Indonesia tidak langsung dari Arab, melainkan datang dari Persia dibawa oleh orang-orang Gujarat.
Hasil sastra pengaruh Arab Persi itu antara lain :
a. Hikayat Amir Hamzah
b. Hikayat Bkhtiar
c. Hikayat Kaidir
d. Hikayat Iskandar Zulkarnain
e. Hikayat Bayan Budiman
f. Hikayat Muhammad Ibnu Hanafiah
g. Hikayat 1001 malam
h. Kitab Seribu Masalah
i. Tajussalatin
j. Bustanussalatin
B. NAMA PENGARANG ISLAM
Pada zaman ini telah muncul beberapa pengarang Islam, antara lain :
1. Hamzah Fansuri
Karyanya :
a. Syair Perahu
b. Syair Si Burung Pingai
2. Buchari Al Jauhari
Karyanya :
Tajussalatin (Makota Segala Raja)
3. Nuruddin Ar Raniri
Karyanya :
Bustanussalatin ( Taman Segala Raja)
4. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (Pengarang Islam zaman Peralihan)
Karyanya :
a. Hikayat Panca Tandera (Saduran)
b. Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah
SASTRA PERALIHAN
A. MASA PERALIHAN
Yang dimaksud dengan masa peralihan adalah masa peralihan sastra lama ke sastra baru.
Oleh karena itu satu-satunya pengarang yang kenamaan pada masa itu adalah Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (1796 – 1854), sehingga masa itu disebut zaman Abdullah.
Abdullah adalah seorang perintis sejarah kebudayaan Malaka khususnya dan tanah Melayu umumnya.
Sejaman dengan Abdullah ada dua orang pengarang Melayu yaitu Raja Ali Haji dan Sitti Saleha, tetapi keduanya masih berpegang pada tradisi bentuk puisi lama.
B. BUKU ABDULLAH YANG BERNILAI SASTRA
1. Syair Singapura Dimakan Api
2. Hikayat Abdullah
3. Hikayat Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah
4. Hikayat Kailah dan Daminah (saduran)
C. PERBEDAAN KARANGAN ABDULLAH DENGAN SASTRA LAMA
1. Bentuk bahasanya baru, tidak memakai bahasa klise.
Tak banyak lagi dipakai kata-kata Arab secara berlebih-lebihan.
2. Isinya
a. Tidak bersifat istana sentries
b. .Mulai menceritakan orang kebanyakan
c. Tidak bersifat khayal
Dari kedua hal tersebut di atas, Abdullah dapat dipandang sebagai pembaru sastra Melayu. Sayang usaha Abdullah ini berhenti setelah ia meninggal dunia, karena tak ada penerusnya.
Sastra peralihan dimasukkan ke dalam kesusasteraan alam dengan nama zaman peralihan, yang tidak berlangsung lama.
Sehingga batas sastra lama dan baru dapat ditarik lebih kurang tahun 1900.
D. HIKAYAT ABDULLAH
Untuk membandingkannya dengan bentuk karangan atau bahasa sastra lama di bawah ini adalah kutipan dari Hikayat Abdullah :
TENTANG BAHASA MELAYU
Aku pun sehari-hari belajar daripada nahu bahasa Inggris pada tiap-tiap hari, sebab pada fikiranku aku hendak jadikan dia ke dalam bahasa Melayu, sebab kudapati terlalu banyak gunanya, karena perkara yang demikian tiada dalam bahasa Melayu, sebab itulah kebanyakan orang Melayu pergi belajar nahu bahasa Arab, ia tahu bukan barang-barang susahnya dalam seribu tiada orang yang mendapat dengan sempurnanya, dan lagi oleh sebab itu bukan bahasa dirinya.
PERKEMBANGAN KESUSASTERAAN INDONESIA
A. KESUSASTERAAN MELAYU KLASIK
Kesusasteraan lama dimulai semenjak adanya kesusasteraan di muka bumi Indonesia ini sampai kira-kira tahun 1800 atau masa kesusasteraan sebelum Abdullah bin Abdulkadir Munsyi yang hidup tahun 1706 – 1854.
Pada masa itulah bukan main besarnya peranan tukang cerita yang bernama pawing. Kesusasteraan pada masa itu berupa : puisi, mantera, pantun, dongeng dan juga pantun kilat.
B. CIRI KESUSASTERAAN LAMA
1. Bersifat Statis
2. Anonim ( tidak dikenal nama pengarangnya)
3. Tema atau pokok-pokok karangannya, baik prosa maupun puisi bercorak :
a. Khayal dan fantasi
b. Pendidikan dan pelajaran
c. Agama (religius)
d. Istana sentris (cerita berpusat pada cerita lingkungan kerajaan)
4. Bahasa yang digunakan atau dipakai adalah bahasa Melayu Kuno yang penuh dengan :
a. Pepatah
b. Kalimat majemuk yang panjang-panjang
c. Ungkapan-ungkapan klise
d. Dihiasi kata-kata asing
5. Menilik bentuknya kesusasteraan lama mempunyai ciri-ciri :
a. Puisinya sangat terikat oleh syarat-syarat mutlak yang konservatif dan tradisional, seperti :
- Jumlah baris dalam tiap-tiap bait
- Jumlah suku kata dalam tiap baris
- Sajak dan irama
b. Prosanya pun senantiasa menggunakan cara-cara yang tradisional, misalnya saja : pendahuluan yang panjang-panjang serta kearab-araban.
C. KESUSASTERAAN MASA PERALIHAN
1. KESUSASTERAAN SEMASA ABDULLAH
Abdullah selaku ahli bahasa dan pengarang yang produktif dibuktikan dengan jasa-jasanya :
Karangan yang berjudul “Hikayat Abdullah” yang berisikan biografi dirinya sendiri, biografi orang terkemuka pada masa itu serta lukisan keadaan orang-orang sekitarnya.
Puisi gubahannya adalah syair “Singapura Dimakan Api”
Menyajikan naskah kamus bahasa Melayu
Menyalin kitab suci Alquran
Mengadakan penyelidikan atas tata bahasa Melayu
Memberikan bantuan dalam penerbitan Sejarah Melayu
Sebuah kisah yang dikarangnya pada waktu naik haji adalah “Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah”
2. KESUSASTERAAN SESUDAH ABDULLAH
Sebenarnya sesudah Abdullah bin Abdulkadir Munsyi kesusasteraan Indonesia mengalami masa vakum selama lebih dari setengah abad (± 1920).
Memang ada juga ada pengarang pada masa itu, namun jumlahnya sedikit sekali dan mereka masih berpegang teguh kepada tradisi kesusasteraan Indonesia lama, artinya mereka tidak melanjutkan keseusasteraan yang telah dirintis oleh Abdullah.
Nama pengarang pada masa ini diantaranya adalah :
Raja Ali Haji
Haji Ibrahim Datuk Rangkajo
D. KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN
Sastra Indonesia modern yang merupakan sastra nasional terbagi atas beberapa masa, yaitu :
1. MASA KEBANGKITAN
BERDIRINYA BALAI PUSTAKA
Pada tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan lembaga bacaan rakyat yang bernama Volkslectuur dengan Dr.G.A.J. Hazeu sebagai ketuanya di kota Jakarta.
Lembaga ini bertugas memilih karangan-karangan yang kemudian menerbitkannya sebagai bacaan umum, untuk anak-anak dan orang dewasa, guna mengisi waktu senggang dan menambah pengetahuan.
Pada tahun 1917 Volkslectuur itu diubah namanya menjadi “Balai Pustaka” serta para redakturnya terdiri atas penulis dan ahli bahasa Melayu.
TUGAS BALAI PUSTAKA :
a. Mula-mula hanya menerbitkan naskah-naskah lama yang bila perlu dapat diubah dan disempurnakan.
b. Menerbitkan saduran dan terjemahan hasil karya pujangga-pujangga asing yang kenamaan seperti Shakespeare, Cervantes, Jules Verne, Ruyat Kipling, Tolstoi dan lain sebagainya.
c. Menerbitkan naskah-naskah pengarang muda bangsa Indonesia baik berupa puisi maupun prosa
d. Menerbitkan majalah-majalah antara lain :
- Panji Pustaka (bahasa Melayu)
- Sari Pustaka (bahasa Melayu)
- Kejawen (bahasa Jawa)
- Parahiangan (bahasa Sunda)
Selain itu ada kekangan terhadap naskah-naskah karangan dengan syarat-syarat sebagai berikut :
a. Karangan-karangan jangan mengandung unsur-unsur yang menentang pemerintah.
b. Karangan-karangan tidak boleh menyinggung perasaan-perasaan golongan tertentu dalam masyarakat.
c. Karangan-karangan hendaknya bebas dalam agama yakni jangan menyinggung seseorang, hati penganutnya serta hendaknya mengandung tuntunan perangai.
Walaupun Balai Pustaka ini sering menahan atau mengubah naskah-naskah, namun besarlah manfaatnya.
MANFAAT BALAI PUSTAKA :
a. Memberi kesempatan kepada pengarang-pengarang untuk mengembangkan bakatnya.
b. Memberi kesempatan kepada masyarakat untuk dapat menikmati buku-buku bacaan, sehingga bertambah pengetahuannya serta mengisi waktu senggang.
Balai Pustaka hidup terus dan peranannya semakin besaar lebih-lebih pada masa sekarang.
Nama-nama Dr.D.A. Rinkes, Dr. G.A.J.Drewes dan K.A. Hiding pernah menjadi pemimpin Balai Pustaka.
Pada tahun 1922, membawa udara segar bagi atau dalam gelanggang seni sastra Indonesia dengan terbitnya 2 buah buku kesusasteraan yang telah meninggalkan tradisi sastra lama Indonesia, yaitu :
a. Tanah Air kumpulan puisi baru karya Mohammad Yamin
b. Siti Nurbaya, roman karya Marah Rusli
Dengan terbitnya buku “Siti Nurbaya” ini, maka dalam perkembangan sastra masa Balai Pustaka sering disebut Angkatan Siti Nurbaya.
Hal ini dikarenakan karya ini sangat mengagumkan dan menggemparkan pada masa itu.
CIRI-CIRI KESUSASTERAAN BALAI PUSTAKA (SITI NURBAYA)
1. Agak Dinamis
2. Bercorak pasif-romantik
3. Mempergunakan bahasa Melayu baru, tetapi tetap dihiasi ungkapan-ungkapan klise serta uraian yang panjang-panjang.
4. Menilik bentuknya kesusasteraan angkatan Balai Pustaka atau angkatan Siti Nurbaya itu mempunyai ciri-ciri :
4.1 Penyair masih banyak menggunakan bentuk-bentuk puisi lama, pantun dan syair
4.2 Bentuk puisi barat yang tidak terlalu terikat oleh syarat-syarat seperti puisi lama.
Tokohnya adalah Mohammad Yamin, dengan karanganya dalam bentuk Soneta.
4.3 Bentuk prosa yang memegang peranan masa kesusasteraan angkatan Siti Nurbaya atau angkatan Balai Pustaka adalah Roman.
Roman angkatan Siti Nurbaya ini bertema “Perjuangan atau perlawanan terhadap adat istiadat lama”
KESUSASTERAAN ANGKATAN PUJANGGA BARU
Pada masa ini dimulai dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada bulan Mei 1933.
Majalah inilah merupakan faktor penunjang atau sebagai terompet serta penyambung lidah para Pujangga Baru .
Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh “Tiga Serangkai Pujangga Baru” yaitu :
1. Amir Hamzah
2. Armyn Pane
3. Sutan Takdir Alisyahbana
Dalam Manifestasi Pujangga Baru dinyatakan :
“Fungsi kesusasteraan itu, selain melukiskan atau menggambarkan tinggi rendahnya suatu bangsa, juga mendorong bangsa tersebut ke arah kemajuan”
Pada masa ini, lahirlah seorang pujangga religius yang sangat terkenal yaitu “Amir Hamzah”, sehingga akhirnya dinobatkan sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru”
CIRI-CIRI KESUSASTERAAN ANGKATAN PUJANGGA BARU
1. Dinamis
2. Bercorak Romantik- idealistis
3. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu yang lebih modern sudah banyak meninggalkan bahasa klise.
Mereka berusaha membuat ungkapan serta gaya bahasanya menurut kemauannya sendiri.
Pilihan kata, penggabungan ungkapan serta irama sangat dipentingkan sehingga terlalu dicari-cari.
4. Menilik bentuknya, kesusasteraan angkatan Pujangga Baru mempunyai ciri-ciri :
Bentuk puisi
Yang memegang peranan penting adalah Soneta.
Sajak, jumlah suku kata dan syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi.
Contoh : Hang Tuah karya Amir hamzah
Bentuk Prosa
Yang memegang peranan penting adalah Roman.
Temanya bukan lagi pertentangan faham muda dengan adat lama seperti angkatan Siti Nurbaya, melainkan perjuangan kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan.
Contoh : Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana
Pujangga Baru juga mempergunakan drama yang bertema kesadaran nasional.
Bahannya adalah diambil dari sejarah, ada pula yang semata-mata fantasi pengarang sendiri yang menggambarkan jiwa dinamis.
KESUSASTERAAN MASA JEPANG
Pada masa ini, terdapat keretakan dalam kesusasteraan Indonesia.
Pada masa ini, terdapat 2 golongan dalam bidang kesusasteraan yaitu :
1. Yang resmi di bawah Pusat Kebudayaan (Keikin Bunka Shidosa) dengan sensornya yang keras.
2. Yang di luar kegiatan Pusat Kebudayaan
CIRI-CIRI KESUSASTERAAN MASA JEPANG
1. Bercorak romantik – idealisme
2. Simbolis
PENGARANG MASA KESUSASTERAAN JEPANG
1. Chairil Anwar
2. Rosihan Anwar
3. Usmar Ismail
4. Amal Hamzah
5. El-Hakim
6. Bakrie Siregar
2. MASA PERKEMBANGAN
KESUSASTERAAN ANGKATAN ‘45
Angkatan ’45 lahir pada saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Pada saat ini, perkembangan bahasa dan sastra Indonesia semakin maju pesat karena Jepang melarang pemakaian bahasa Belanda.
Sedangkan yang memberi nama Angkatan ’45 adalah Rosihan Anwar dalam majalah Siasat pada tanggal 9 Januari 1949.
Manifes Angkatan ’45 termuat dalam majalah Siasat pada tanggal 23 Oktober 1945 berupa Surat Kepercayaan Gelanggang tanggal 18 Februari 1950, yang dapat kita lihat patokan-patokan Angkatan ’45, yaitu :
1. Ujud pernyataan fikiran lebih dipentingkan
2. Kepribadian seseorang, hendaknya menjadi pegangan dan ukuran nilai mencipta
3. Nilai-nilai baru baru ditempatkan, setelah nilai-nilai lama dihancurkan. Jadi sungguh membentuk yang baru.
4. Pencipta-pencipta harus ada kebebasan penuh, untuk menghasilkan buah cipta.
5. Tekanan diletakkan pada kebudayaan dunia, yakni sifat universal kesenian Indonesia.
CIRI-CIRI ANGKATAN ‘45
1.Bercorak realistis
2.Bertemakan patriotisme, revolusi dan perlawanan terhadap penjajah
3.Bahasa dalam prosa menggunakan bahasa yang ekonomis, kata-katanya padat, dalam, kalimatnya pendek-pendek
4.Prosa menggunakan gaya bahasa menyoal baru
Angkatan ’45 oleh HB. Jassin diberi nama Angkatan Pendobrak.
Sedangkan tokoh-tokoh yang terkenal dalam Angkatan ’45 dalam bidangnya antara lain :
1. Chairil Anwar dalam bidang puisi
2. Idrus dalam bidang prosa
3. KESUSASTERAAN ANGKATAN ‘50
Pada tahun-tahun yang lalu belum ada penegasan tentang adanya Angkatan ’50.
HB. Jassin belum menyebutkan Angkatan ’50, sedang menurut Slamet Mulyono sastrawan Angkatan ’50 hanyalah pelanjut saja, karena dia hanya mengakui sastra Indonesia baru lahir tahun 1945.
Tinjauan yang mendalam dan menyeluruh membuktikan bahwa, masa ini menunjukkan wujud dan hidupnya, yaitu :
a. Berisi kebebasan sastrawan yang lebih luas di atas kebiasaan (tradisi) yang diletakkan pada tahun 1945.
b. Masa ’50 memberikan pernyataan tentang aspirasi (tujuan yang terakhir dicapai) nasional lebih jauh.
Jadi, ada beberapa penyaringan dengan beberapa ciri diantaranya :
a. Pusat kegiatan sastra makin banyak jumlahnya dan makin meluas daerahnya hampir di seluruh Indonesia, tidak hanya berpusat di Jakarta dan Yogyakarta.
b. Terdapat pengungkapan yang lebih mendalam terhadap kebudayaan daerah dalam menuju perwujudan sastra nasional Indonesia.
c. Penilaian keindahan dalam sastra, tidak lagi didasarkan kepada kekuasaan asing, akan tetapi kepada peleburan (kristalisasi) antara ilmu dan pengetahuan asing dengan perasaan dan ukuran nasional.
SASTRAWAN ANGKATAN ‘50
1. Trisnoyuwono
2. Ayip Rosidi
3. Ramadhan KH
4. Nugroho Notosusanto
5. Toto Sudarto Bachtiar
4. KESUSASTERAAN ANGKATAN ‘66
Angkatan ’66 mula-mula diperkenalkan oleh H.B. Jassin dalam bukunya yang berjudul “Angkatan ‘66”, yang mendasarkan sifat politik yang mempengaruhi karya-karya sastra pada masa ini.
Pada atahun 1966 di tanah air kita terjadi peristiwa penting. Peristiwa yang melahirkan Angkatan ’66, yaitu :
“ Suatu generasi baru yang melakukan pendobrakan yang disebabkan oleh penyelewengan-penyelengan besar-besaran yang membawa negara ke jurang kehancuran”
Ada beberapa kumpulan puisi yang menarik perhatian selama demontrasi terhadap pemerintah dalam usaha mengembangkan revolusi terhadap rel Pancasila, yaitu :
1. Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail (dengan nama samaran Ibnu Fajar)
2. Mereka telah Bangkit karya Bur Raswanto
3. Perlawanan karya Mansur samin
4. Pembebasan karya Abdulwahid Situmeang
5. Kebangkitan oleh Lima Penyair Fakultas Syair UI
Menurut kritikus sastra Indonesia, H.B. Jassin, yang masuk Angkatan ’66 ini, tidak hanya mereka yang menulis sanjak-sanjak perlawanan pada permulaan tahun 1966, tetapi juga yang telah tampil beberapa tahun sebelumnya dengan kesadaran.
Penyair yang terkenal pada Angkatan ’66 adalah Taufik Ismail dengan buku karyanya yaitu “Tirani” (1966) dan “Benteng” (1963)
SASTRAWAN ANGKATAN ‘66
1. Ayip Rosidi
2. W.S. Rendra
3. Taufik Ismail
4. Hartono Andangjaya
5. Mansur Samin
6. Jusach Ananda
7. NH. Dini
8. Iwan Simatupang
9. Motinggo Busje
10. Sapardi Djoko Darmono
5. KARYA SASTRA KONTEMPORER
Sekitar tahun 70-an, muncul karya sastra yang lain dari karya sastra sebelumnya.
Kebanyakan isinya tidak menekankan pada makna kata.
Ada ahli sastra menggolongkan jenis karya sastra ini di dalam karya sastra kontemporer.
Kemunculan karya-karya semacam ini dipelopori oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri.
1. Kesusasteraan masa lama atau purba (sebelum datangnya pengaruh India)
Kesusateraan ini meliputi cerita tentang doa, mantra, silsilah, adat kebiasaan dan kepercayaan
2. Kesusasteraan Masa Hindu/Arab
Mulai dengan adanya pengaruh Hindu, dengan kedatangan agama Islam sampai kedatangan orang asing lain
Kesusasteraan ini meliputi cerita-cerita yang mengenai :
2.1. Asal-usul manusia
2.2. Alam
2.3. Agama
2.4. Pengajaran agama Islam
2.5. Keadaan negara asing
2.6. Cerita-cerita yang bersifat didaktis
2.7. Cerita-cerita yang bersifat penglipur lara
2.8. Silsilah raja-raja dan keluarganya
3. Kesusasteraaan Masa Baru
Terbagi atas :
3.1. Kesusasteraan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
3.2. Masa Balai Pustaka
3.3. Masa Pujangga Baru
4. Kesusasteraan Masa Mutakhir
Dari tahun 1942 hingga sekarang, meliputi :
4.1. Masa pendudukan Jepang
4.2. Masa revolusi
4.3. Masa kemerdekaan
B. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT USMAN EFFENDY
1. Kesusasteraan Lama ( ……. – 1920 )
2. Kesusasteraan Baru ( 1920 – 1945 )
3. Kesusasteraan Modern ( 1945 - …….. )
C. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT SABARUDDIN AHMAD
1. Kesusasteraan Lama
1.1. Dinamisme
1.2. Hinduisme
1.3. Islamisme
2. Kesusasteraan Baru
2.1. Masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
2.2. Masa Balai Pustaka
2.3. Masa Pujangga Baru
2.4. Masa Angkatan ‘45
D. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT Drs. UMAR JUNUS
1. Sastra Pre Angkatan ’33 ( Pre Angkatan Pujangga Baru)
Yang dimaksud dengan Pre Angkatan ’33 ialah masa antara tahun 1928 (peresmian bahasa Indonesia oleh Sumpah Pemuda) sampai tahun 1933 (munculnya Pujangga Baru)
2. Sastra Angkatan ’33 (Angkatan Pujangga Baru)
3. Sastra Angkatan ‘45
4. dan seterusnya
E. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT Prof. Drs. SLAMET MULYANA
1. Sastra Melayu Klasik / Kuno : ……….. s.d. Abdullah
2. Sastra Melayu Modern / Baru : dari 1920 - 1945
3. Sastra Indonesia : mulai tahun 1945
F. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT H.B. JASSIN
1. Sastra Melayu Lama
2. Sastra Melayu Modern
2.1. Angkatan ‘20
2.2. Angkatan ’33 atau Pujangga Baru
2.3. Angkatan ‘45
2.4. Angkatan ‘66
G. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT AJIP ROSIDI
1. Masa Kelahiran atau Masa Kejadian (Awal abad XX – 1945)
1.1. Periode awal abad XX – 1933
1.2. Periode 1933 – 1942
1.3. Periode 1942 – 1945
2. Masa Perkembangan ( sejak 1945 – kini)
2.1. Periode 1945 – 1953
2.2. Periode 1953 – 1960
2.3. Periode 1960 – kini
H. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT NUGROHO NOTOSUSANTO
1. Sastra Melayu Lama
2. Sastra Indonesia Modern
2.1. Masa Kebangkitan
2.1.1. Periode ‘20
2.1.2. Periode ‘33
2.1.3. Periode ’42
2.2. Masa Perkembangan
2.2.1. Periode ‘45
2.2.2. Periode ‘50
I. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT J.S. BADUDU
1. Kesusasteraan Lama dengan Angkatan Lamanya :
1.1. Kesusasteraan Masa Purba
1.2. Kesusasteraan Masa Hindu – Islam
2. Kesusasteraan Peralihan dengan Angkatan Peralihannya:
2.1. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
2.2. Angkatan Balai Pustaka
J. PEMBAGIAN SASTRA MENURUT PERKEMBANGAN BAHASA
1. Sastra Masa Balai Pustaka
2. Sastra Masa Angkatan Pujangga Baru
3. Sastra Masa Angkatan ‘45
4. Sastra Masa sesudah Angkatan ‘45
SASTRA MELAYU PURBA
Sebelum tahun 1950 sastra Melayu berupa cerita lisan. Yang termasuk dalam sastra lisan ialah peribahasa, yaitu kata adat yang sudah berbentuk tetap. Semua itu menggambarkan tabiat, watak orang Melayu.
Demikian juga dengan pantun, dongeng anak-anak, legenda, cerita jenaka, penglipur lara.
A. KEPERCAYAAN BANGSA MELAYU
1. Pantang bahasa
Kata-kata menimbulkan tenaga atau kekuatan.
Kata celaka mendatangkan kecelakaan, sebaliknya kata selamat menimbulkan keselamatan.
Kata ular diganti dengan akar, harimau diganti dengan nenek.
2. Kepercayaan pada roh halus
3. Kepercayaan pada pawang.
Pawang dianggap sebagai orang keramat yang mempunyai kedudukan terhormat, dan pandai bercerita serta membacakan mantera.
B. CERITA MELAYU KLASIK
Cerita yang berkembang pada saat itu adalah :
1. Cerita Pak Kodok
Seorang yang baik hati memiliki maksud-maksud yang baik juga, tetapi karena kebodohannya maka malanglah nasibnya.
2. Si Kelambai
Kelambai adalah raksasa yang bodoh. Jika anak manusia ditegurnya akan menjadi batu dan batang pisang. Raksasa yang besar dapat dikalahkan oleh manusia karena kebodohannya.
3. Hikayat Si Miskin
Si Miskin berasal dari raja keinderaan yang dikutuk oleh Batara Indera, sehingga suami isteri itu hidup melarat.
4. Cerita Penglipur Lara
Contohnya :
a. Hikayat Malim Deman
b. Hikayat Raja Muda
c. Hikayat Raja Budiman
Sedangkan tokoh yang sering dan selalu muncul dalam cerita penglipur lara adalah :
1. Kembang Manusia atau Kembang Cina
Yaitu seorang puteri yang melayani anak raja itu sebelum bertemu dengan puteri yang diperkenankan kepadanya.
2. Nenek Kebayan
Nenek yang menjadi perantara antara anak raja dengan puteri yang dicintainya.
3. Bujang Selamat
Seorang bujang yang amat setia pada anak raja dan rela mengorbankan diri bagi majikannya.
KESUSASTERAAN ZAMAN HINDU
A. PENGARUH HINDU
Pengaruh Hindu pada kesusasteraan Melayu sangat besar, sehingga berurat berakar karena lamanya bangsa Hindu menetap di Indonesia.
Pengaruh Hindu terhadap sastra Melayu dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
1. Cerita-cerita yang langsung masuk ke Indonesia
Contoh : Mahabarata dan Ramayana
2. Cerita-cerita yang datangnya melalui Persia dahulu
Contoh : Panca Tandera, Hitopadesya
3. Pengaruh Hindu tampak pada berbagai cerita sehingga dalam hikayat-hikayat Melaytu terdapat persamaan atau mirip dengan cerita-cerita Hindu, nama-nama dewa dan sebagainya.
B. MAHABARATA DAN RAMAYANA
Mahabarata dan Ramayana merupakan epos atau wiracarita terkenal, masing-masing disusun oleh oleh Wiyasa dan Walmiki.
1. MAHABARATA
Mahabarata terdiri dari 18 jilid atau parwa.
Bagi orang Hindu buku ini bukan hanya hikayat kepahlawanan tetapi juga sebuah buku agama.
Sebuah cerita sisitan atau episode yang terkenal dalam buku ini adalah “Bhagawat Gita” yang berisi percakapan antara “Kresna” sebagai guru dan “Arjuna” sebagai murid.
Pada pokoknya Mahabarata berisi :
a. Perebutan kerajaaan oleh keturunan Bharata yaitu Pandawa dan Kurawa.
b. Bermacam-macam hal, ajaran kaum Brahmana, keagamaan, adat istiadat.
c. Bermacam-macam sage yang berupa cerita sisipan atau episode.
Seperti : Bhagawat Gita, Nala dan Damayanti
2. RAMAYANA
Ramayana terdiri dari 8 jilid atau kanda.
Dalam bahasa Indonesia terkenal dengan “Hikayat Seri Rama”.
Hal ini dapat kita lihat dan saksikan seperti pada cerita-cerita yang terdapat pada pahatan di candi-candi, cerita Ramayana dapat pula kita saksikan di Candi Prambanan .
Dari pahatan di Prambanan terkenal dongeng “ Loro Jonggrang”
PENGARUH ISLAM DALAM PERKEMBANGAN SASTRA DI INDONESIA
A. MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
Menurut sejarah, masuknya Islam ke Indonesia ialah pada abad ke-13, terbukti dari keterangan-keterangan pelancong antara lain :
1. Marcopolo sudah mendapatkan kaum Islam di Sumatera pada tahun 1292.
2. Dibuktikannya adanya tulisan yang tertera pada batu nisan Sultan Pasai yaitu Malikussaleh.
Pengaruah Islam dalam sastra Indonesia tidak langsung dari Arab, melainkan datang dari Persia dibawa oleh orang-orang Gujarat.
Hasil sastra pengaruh Arab Persi itu antara lain :
a. Hikayat Amir Hamzah
b. Hikayat Bkhtiar
c. Hikayat Kaidir
d. Hikayat Iskandar Zulkarnain
e. Hikayat Bayan Budiman
f. Hikayat Muhammad Ibnu Hanafiah
g. Hikayat 1001 malam
h. Kitab Seribu Masalah
i. Tajussalatin
j. Bustanussalatin
B. NAMA PENGARANG ISLAM
Pada zaman ini telah muncul beberapa pengarang Islam, antara lain :
1. Hamzah Fansuri
Karyanya :
a. Syair Perahu
b. Syair Si Burung Pingai
2. Buchari Al Jauhari
Karyanya :
Tajussalatin (Makota Segala Raja)
3. Nuruddin Ar Raniri
Karyanya :
Bustanussalatin ( Taman Segala Raja)
4. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (Pengarang Islam zaman Peralihan)
Karyanya :
a. Hikayat Panca Tandera (Saduran)
b. Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah
SASTRA PERALIHAN
A. MASA PERALIHAN
Yang dimaksud dengan masa peralihan adalah masa peralihan sastra lama ke sastra baru.
Oleh karena itu satu-satunya pengarang yang kenamaan pada masa itu adalah Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (1796 – 1854), sehingga masa itu disebut zaman Abdullah.
Abdullah adalah seorang perintis sejarah kebudayaan Malaka khususnya dan tanah Melayu umumnya.
Sejaman dengan Abdullah ada dua orang pengarang Melayu yaitu Raja Ali Haji dan Sitti Saleha, tetapi keduanya masih berpegang pada tradisi bentuk puisi lama.
B. BUKU ABDULLAH YANG BERNILAI SASTRA
1. Syair Singapura Dimakan Api
2. Hikayat Abdullah
3. Hikayat Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah
4. Hikayat Kailah dan Daminah (saduran)
C. PERBEDAAN KARANGAN ABDULLAH DENGAN SASTRA LAMA
1. Bentuk bahasanya baru, tidak memakai bahasa klise.
Tak banyak lagi dipakai kata-kata Arab secara berlebih-lebihan.
2. Isinya
a. Tidak bersifat istana sentries
b. .Mulai menceritakan orang kebanyakan
c. Tidak bersifat khayal
Dari kedua hal tersebut di atas, Abdullah dapat dipandang sebagai pembaru sastra Melayu. Sayang usaha Abdullah ini berhenti setelah ia meninggal dunia, karena tak ada penerusnya.
Sastra peralihan dimasukkan ke dalam kesusasteraan alam dengan nama zaman peralihan, yang tidak berlangsung lama.
Sehingga batas sastra lama dan baru dapat ditarik lebih kurang tahun 1900.
D. HIKAYAT ABDULLAH
Untuk membandingkannya dengan bentuk karangan atau bahasa sastra lama di bawah ini adalah kutipan dari Hikayat Abdullah :
TENTANG BAHASA MELAYU
Aku pun sehari-hari belajar daripada nahu bahasa Inggris pada tiap-tiap hari, sebab pada fikiranku aku hendak jadikan dia ke dalam bahasa Melayu, sebab kudapati terlalu banyak gunanya, karena perkara yang demikian tiada dalam bahasa Melayu, sebab itulah kebanyakan orang Melayu pergi belajar nahu bahasa Arab, ia tahu bukan barang-barang susahnya dalam seribu tiada orang yang mendapat dengan sempurnanya, dan lagi oleh sebab itu bukan bahasa dirinya.
PERKEMBANGAN KESUSASTERAAN INDONESIA
A. KESUSASTERAAN MELAYU KLASIK
Kesusasteraan lama dimulai semenjak adanya kesusasteraan di muka bumi Indonesia ini sampai kira-kira tahun 1800 atau masa kesusasteraan sebelum Abdullah bin Abdulkadir Munsyi yang hidup tahun 1706 – 1854.
Pada masa itulah bukan main besarnya peranan tukang cerita yang bernama pawing. Kesusasteraan pada masa itu berupa : puisi, mantera, pantun, dongeng dan juga pantun kilat.
B. CIRI KESUSASTERAAN LAMA
1. Bersifat Statis
2. Anonim ( tidak dikenal nama pengarangnya)
3. Tema atau pokok-pokok karangannya, baik prosa maupun puisi bercorak :
a. Khayal dan fantasi
b. Pendidikan dan pelajaran
c. Agama (religius)
d. Istana sentris (cerita berpusat pada cerita lingkungan kerajaan)
4. Bahasa yang digunakan atau dipakai adalah bahasa Melayu Kuno yang penuh dengan :
a. Pepatah
b. Kalimat majemuk yang panjang-panjang
c. Ungkapan-ungkapan klise
d. Dihiasi kata-kata asing
5. Menilik bentuknya kesusasteraan lama mempunyai ciri-ciri :
a. Puisinya sangat terikat oleh syarat-syarat mutlak yang konservatif dan tradisional, seperti :
- Jumlah baris dalam tiap-tiap bait
- Jumlah suku kata dalam tiap baris
- Sajak dan irama
b. Prosanya pun senantiasa menggunakan cara-cara yang tradisional, misalnya saja : pendahuluan yang panjang-panjang serta kearab-araban.
C. KESUSASTERAAN MASA PERALIHAN
1. KESUSASTERAAN SEMASA ABDULLAH
Abdullah selaku ahli bahasa dan pengarang yang produktif dibuktikan dengan jasa-jasanya :
Karangan yang berjudul “Hikayat Abdullah” yang berisikan biografi dirinya sendiri, biografi orang terkemuka pada masa itu serta lukisan keadaan orang-orang sekitarnya.
Puisi gubahannya adalah syair “Singapura Dimakan Api”
Menyajikan naskah kamus bahasa Melayu
Menyalin kitab suci Alquran
Mengadakan penyelidikan atas tata bahasa Melayu
Memberikan bantuan dalam penerbitan Sejarah Melayu
Sebuah kisah yang dikarangnya pada waktu naik haji adalah “Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah”
2. KESUSASTERAAN SESUDAH ABDULLAH
Sebenarnya sesudah Abdullah bin Abdulkadir Munsyi kesusasteraan Indonesia mengalami masa vakum selama lebih dari setengah abad (± 1920).
Memang ada juga ada pengarang pada masa itu, namun jumlahnya sedikit sekali dan mereka masih berpegang teguh kepada tradisi kesusasteraan Indonesia lama, artinya mereka tidak melanjutkan keseusasteraan yang telah dirintis oleh Abdullah.
Nama pengarang pada masa ini diantaranya adalah :
Raja Ali Haji
Haji Ibrahim Datuk Rangkajo
D. KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN
Sastra Indonesia modern yang merupakan sastra nasional terbagi atas beberapa masa, yaitu :
1. MASA KEBANGKITAN
BERDIRINYA BALAI PUSTAKA
Pada tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan lembaga bacaan rakyat yang bernama Volkslectuur dengan Dr.G.A.J. Hazeu sebagai ketuanya di kota Jakarta.
Lembaga ini bertugas memilih karangan-karangan yang kemudian menerbitkannya sebagai bacaan umum, untuk anak-anak dan orang dewasa, guna mengisi waktu senggang dan menambah pengetahuan.
Pada tahun 1917 Volkslectuur itu diubah namanya menjadi “Balai Pustaka” serta para redakturnya terdiri atas penulis dan ahli bahasa Melayu.
TUGAS BALAI PUSTAKA :
a. Mula-mula hanya menerbitkan naskah-naskah lama yang bila perlu dapat diubah dan disempurnakan.
b. Menerbitkan saduran dan terjemahan hasil karya pujangga-pujangga asing yang kenamaan seperti Shakespeare, Cervantes, Jules Verne, Ruyat Kipling, Tolstoi dan lain sebagainya.
c. Menerbitkan naskah-naskah pengarang muda bangsa Indonesia baik berupa puisi maupun prosa
d. Menerbitkan majalah-majalah antara lain :
- Panji Pustaka (bahasa Melayu)
- Sari Pustaka (bahasa Melayu)
- Kejawen (bahasa Jawa)
- Parahiangan (bahasa Sunda)
Selain itu ada kekangan terhadap naskah-naskah karangan dengan syarat-syarat sebagai berikut :
a. Karangan-karangan jangan mengandung unsur-unsur yang menentang pemerintah.
b. Karangan-karangan tidak boleh menyinggung perasaan-perasaan golongan tertentu dalam masyarakat.
c. Karangan-karangan hendaknya bebas dalam agama yakni jangan menyinggung seseorang, hati penganutnya serta hendaknya mengandung tuntunan perangai.
Walaupun Balai Pustaka ini sering menahan atau mengubah naskah-naskah, namun besarlah manfaatnya.
MANFAAT BALAI PUSTAKA :
a. Memberi kesempatan kepada pengarang-pengarang untuk mengembangkan bakatnya.
b. Memberi kesempatan kepada masyarakat untuk dapat menikmati buku-buku bacaan, sehingga bertambah pengetahuannya serta mengisi waktu senggang.
Balai Pustaka hidup terus dan peranannya semakin besaar lebih-lebih pada masa sekarang.
Nama-nama Dr.D.A. Rinkes, Dr. G.A.J.Drewes dan K.A. Hiding pernah menjadi pemimpin Balai Pustaka.
Pada tahun 1922, membawa udara segar bagi atau dalam gelanggang seni sastra Indonesia dengan terbitnya 2 buah buku kesusasteraan yang telah meninggalkan tradisi sastra lama Indonesia, yaitu :
a. Tanah Air kumpulan puisi baru karya Mohammad Yamin
b. Siti Nurbaya, roman karya Marah Rusli
Dengan terbitnya buku “Siti Nurbaya” ini, maka dalam perkembangan sastra masa Balai Pustaka sering disebut Angkatan Siti Nurbaya.
Hal ini dikarenakan karya ini sangat mengagumkan dan menggemparkan pada masa itu.
CIRI-CIRI KESUSASTERAAN BALAI PUSTAKA (SITI NURBAYA)
1. Agak Dinamis
2. Bercorak pasif-romantik
3. Mempergunakan bahasa Melayu baru, tetapi tetap dihiasi ungkapan-ungkapan klise serta uraian yang panjang-panjang.
4. Menilik bentuknya kesusasteraan angkatan Balai Pustaka atau angkatan Siti Nurbaya itu mempunyai ciri-ciri :
4.1 Penyair masih banyak menggunakan bentuk-bentuk puisi lama, pantun dan syair
4.2 Bentuk puisi barat yang tidak terlalu terikat oleh syarat-syarat seperti puisi lama.
Tokohnya adalah Mohammad Yamin, dengan karanganya dalam bentuk Soneta.
4.3 Bentuk prosa yang memegang peranan masa kesusasteraan angkatan Siti Nurbaya atau angkatan Balai Pustaka adalah Roman.
Roman angkatan Siti Nurbaya ini bertema “Perjuangan atau perlawanan terhadap adat istiadat lama”
KESUSASTERAAN ANGKATAN PUJANGGA BARU
Pada masa ini dimulai dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada bulan Mei 1933.
Majalah inilah merupakan faktor penunjang atau sebagai terompet serta penyambung lidah para Pujangga Baru .
Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh “Tiga Serangkai Pujangga Baru” yaitu :
1. Amir Hamzah
2. Armyn Pane
3. Sutan Takdir Alisyahbana
Dalam Manifestasi Pujangga Baru dinyatakan :
“Fungsi kesusasteraan itu, selain melukiskan atau menggambarkan tinggi rendahnya suatu bangsa, juga mendorong bangsa tersebut ke arah kemajuan”
Pada masa ini, lahirlah seorang pujangga religius yang sangat terkenal yaitu “Amir Hamzah”, sehingga akhirnya dinobatkan sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru”
CIRI-CIRI KESUSASTERAAN ANGKATAN PUJANGGA BARU
1. Dinamis
2. Bercorak Romantik- idealistis
3. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu yang lebih modern sudah banyak meninggalkan bahasa klise.
Mereka berusaha membuat ungkapan serta gaya bahasanya menurut kemauannya sendiri.
Pilihan kata, penggabungan ungkapan serta irama sangat dipentingkan sehingga terlalu dicari-cari.
4. Menilik bentuknya, kesusasteraan angkatan Pujangga Baru mempunyai ciri-ciri :
Bentuk puisi
Yang memegang peranan penting adalah Soneta.
Sajak, jumlah suku kata dan syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi.
Contoh : Hang Tuah karya Amir hamzah
Bentuk Prosa
Yang memegang peranan penting adalah Roman.
Temanya bukan lagi pertentangan faham muda dengan adat lama seperti angkatan Siti Nurbaya, melainkan perjuangan kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan.
Contoh : Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana
Pujangga Baru juga mempergunakan drama yang bertema kesadaran nasional.
Bahannya adalah diambil dari sejarah, ada pula yang semata-mata fantasi pengarang sendiri yang menggambarkan jiwa dinamis.
KESUSASTERAAN MASA JEPANG
Pada masa ini, terdapat keretakan dalam kesusasteraan Indonesia.
Pada masa ini, terdapat 2 golongan dalam bidang kesusasteraan yaitu :
1. Yang resmi di bawah Pusat Kebudayaan (Keikin Bunka Shidosa) dengan sensornya yang keras.
2. Yang di luar kegiatan Pusat Kebudayaan
CIRI-CIRI KESUSASTERAAN MASA JEPANG
1. Bercorak romantik – idealisme
2. Simbolis
PENGARANG MASA KESUSASTERAAN JEPANG
1. Chairil Anwar
2. Rosihan Anwar
3. Usmar Ismail
4. Amal Hamzah
5. El-Hakim
6. Bakrie Siregar
2. MASA PERKEMBANGAN
KESUSASTERAAN ANGKATAN ‘45
Angkatan ’45 lahir pada saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Pada saat ini, perkembangan bahasa dan sastra Indonesia semakin maju pesat karena Jepang melarang pemakaian bahasa Belanda.
Sedangkan yang memberi nama Angkatan ’45 adalah Rosihan Anwar dalam majalah Siasat pada tanggal 9 Januari 1949.
Manifes Angkatan ’45 termuat dalam majalah Siasat pada tanggal 23 Oktober 1945 berupa Surat Kepercayaan Gelanggang tanggal 18 Februari 1950, yang dapat kita lihat patokan-patokan Angkatan ’45, yaitu :
1. Ujud pernyataan fikiran lebih dipentingkan
2. Kepribadian seseorang, hendaknya menjadi pegangan dan ukuran nilai mencipta
3. Nilai-nilai baru baru ditempatkan, setelah nilai-nilai lama dihancurkan. Jadi sungguh membentuk yang baru.
4. Pencipta-pencipta harus ada kebebasan penuh, untuk menghasilkan buah cipta.
5. Tekanan diletakkan pada kebudayaan dunia, yakni sifat universal kesenian Indonesia.
CIRI-CIRI ANGKATAN ‘45
1.Bercorak realistis
2.Bertemakan patriotisme, revolusi dan perlawanan terhadap penjajah
3.Bahasa dalam prosa menggunakan bahasa yang ekonomis, kata-katanya padat, dalam, kalimatnya pendek-pendek
4.Prosa menggunakan gaya bahasa menyoal baru
Angkatan ’45 oleh HB. Jassin diberi nama Angkatan Pendobrak.
Sedangkan tokoh-tokoh yang terkenal dalam Angkatan ’45 dalam bidangnya antara lain :
1. Chairil Anwar dalam bidang puisi
2. Idrus dalam bidang prosa
3. KESUSASTERAAN ANGKATAN ‘50
Pada tahun-tahun yang lalu belum ada penegasan tentang adanya Angkatan ’50.
HB. Jassin belum menyebutkan Angkatan ’50, sedang menurut Slamet Mulyono sastrawan Angkatan ’50 hanyalah pelanjut saja, karena dia hanya mengakui sastra Indonesia baru lahir tahun 1945.
Tinjauan yang mendalam dan menyeluruh membuktikan bahwa, masa ini menunjukkan wujud dan hidupnya, yaitu :
a. Berisi kebebasan sastrawan yang lebih luas di atas kebiasaan (tradisi) yang diletakkan pada tahun 1945.
b. Masa ’50 memberikan pernyataan tentang aspirasi (tujuan yang terakhir dicapai) nasional lebih jauh.
Jadi, ada beberapa penyaringan dengan beberapa ciri diantaranya :
a. Pusat kegiatan sastra makin banyak jumlahnya dan makin meluas daerahnya hampir di seluruh Indonesia, tidak hanya berpusat di Jakarta dan Yogyakarta.
b. Terdapat pengungkapan yang lebih mendalam terhadap kebudayaan daerah dalam menuju perwujudan sastra nasional Indonesia.
c. Penilaian keindahan dalam sastra, tidak lagi didasarkan kepada kekuasaan asing, akan tetapi kepada peleburan (kristalisasi) antara ilmu dan pengetahuan asing dengan perasaan dan ukuran nasional.
SASTRAWAN ANGKATAN ‘50
1. Trisnoyuwono
2. Ayip Rosidi
3. Ramadhan KH
4. Nugroho Notosusanto
5. Toto Sudarto Bachtiar
4. KESUSASTERAAN ANGKATAN ‘66
Angkatan ’66 mula-mula diperkenalkan oleh H.B. Jassin dalam bukunya yang berjudul “Angkatan ‘66”, yang mendasarkan sifat politik yang mempengaruhi karya-karya sastra pada masa ini.
Pada atahun 1966 di tanah air kita terjadi peristiwa penting. Peristiwa yang melahirkan Angkatan ’66, yaitu :
“ Suatu generasi baru yang melakukan pendobrakan yang disebabkan oleh penyelewengan-penyelengan besar-besaran yang membawa negara ke jurang kehancuran”
Ada beberapa kumpulan puisi yang menarik perhatian selama demontrasi terhadap pemerintah dalam usaha mengembangkan revolusi terhadap rel Pancasila, yaitu :
1. Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail (dengan nama samaran Ibnu Fajar)
2. Mereka telah Bangkit karya Bur Raswanto
3. Perlawanan karya Mansur samin
4. Pembebasan karya Abdulwahid Situmeang
5. Kebangkitan oleh Lima Penyair Fakultas Syair UI
Menurut kritikus sastra Indonesia, H.B. Jassin, yang masuk Angkatan ’66 ini, tidak hanya mereka yang menulis sanjak-sanjak perlawanan pada permulaan tahun 1966, tetapi juga yang telah tampil beberapa tahun sebelumnya dengan kesadaran.
Penyair yang terkenal pada Angkatan ’66 adalah Taufik Ismail dengan buku karyanya yaitu “Tirani” (1966) dan “Benteng” (1963)
SASTRAWAN ANGKATAN ‘66
1. Ayip Rosidi
2. W.S. Rendra
3. Taufik Ismail
4. Hartono Andangjaya
5. Mansur Samin
6. Jusach Ananda
7. NH. Dini
8. Iwan Simatupang
9. Motinggo Busje
10. Sapardi Djoko Darmono
5. KARYA SASTRA KONTEMPORER
Sekitar tahun 70-an, muncul karya sastra yang lain dari karya sastra sebelumnya.
Kebanyakan isinya tidak menekankan pada makna kata.
Ada ahli sastra menggolongkan jenis karya sastra ini di dalam karya sastra kontemporer.
Kemunculan karya-karya semacam ini dipelopori oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri.
Minggu, 01 Januari 2012
SISTEM INFORMASI PENGERTIAN DAN KEPENTINGANNYA
Pengertian
Istilah sistem informasi menyiratkan suatu pengumpulan data yang terorganisasi
beserta tatacara penggunaanya yang mencakup lebih jauh daripada sekadar penyajian.
Istilah tersebut menyiratkan suatu maksud yang ingin dicapai dengan jalan memilih dan
mengatur data serta menyusun tatacara penggunaannya. Keberhasilan suatu siatem
informasi yang diukur berdasarkan maksud pembuatannya tentu bergantung pada tiga
faktor utama, yaitu :
1. keserasian dan mutu data
2. pengorganisasian data, dan
3. tatacara penggunaannya (Cook,1977).
Setiap sistem informasi menyajikan tiga gatra pokok:
(1) pengumpulan dan pemasukan data
(2) penyimpanan dan pengambilan kembali (retrieval) data , dan
(3) penerapan data, yang dalam hal sistem informasi terkomputer termasuk penayangan
(display) (Lynch, 1977).
Suatu sistem informasi terkomputer pada asasnya terdiri atas lima
komponen yang menjadi sub-sistemnya (Knappcit.Smithet al. ,1987), yaitu :
(1) pelambangan (encoding) data dan pemprosesan masukan
(2) pengolahan data
(3) pengambilan kembali data
(4) pengolahan dan analisis data, dan
(5) penayangan data.
Suatu sistem informasi dibuat untuk suatu keperluan tertentu atau untuk memenuhi
permintaan penggunaan tertentu, maka struktur dan cara kerja sistem informasi berbeda-
beda bergantung pada macam keperluan atau macam permintaan yang harus dipenuhi.
Oleh karena kepentingan yang harus dilayani sangat beraneka, mak macam sistem
informasi pun sangat beraneka. Namun demikian, sistem informasi mempunyai banyak
tampakan (features) umum dan menghadapi banyak persoalan yang mirip. Jadi, disamping
perbedaan yang jelas terdapat banyak persamaan antarberbagai sistem informasi. Suatu
persamman yang menonjol ialah semua sistem informasi menggabungkan berbagai ragam
data yang dikumpulkan dari berbagai sumber (Coppock & Anderson, 1987). Untuk dapat
menggabungkan data yang berasal dari berbagai sumber diperlukan suatu sistem alih rupa(transformation) data sehingga menjadi tergabungkan (compatible). Berapa pun
ukurannya dan apa pun ruang lingkupnya, suatu sistem informasi perlu memiliki ketergabungan (compatibility)data yang disimpannya (Moore, & Dawson, 1977).
Ketergantungan dakhil ialah yang merupakan tampakan umum suatu pokok suatu sistem
informasi.
Perkembangan Sistem Informasi
Perkembangan sistem informasi dapat dilihat dari perubahan pada tiga gatra pokok
yang telah dikemukakan tadi, yaitu :
(1) cara pengumpulan dan pemasukan data
(2) cara penyimpanan dan pengambilan kembali data
(3) cara penerapan data.
Sistem informasi tertua muncul setelah manusia mengenal sistem menulis dan
menggambar. Dengan sistem menulis dan menggambar orang dapat mencatat dan
menyimpan hal-hal yang difikirkan untuk kemudian dialihkan kepada orang lain. Sebelumini orang menyampaikan buah fikirannya secara lesan, dari mulut ke mulut. Pada waktu itu orang belum mengenal cara menyimpan informasi, sehingga jangkauannya dalam matra waktu dan ruang terbatas serta keterandalan semata-mata ditentukan oleh daya ingat seseorang.
Naskah-naskah tertulis yang tertua bertanggal 3.250 SM berupa inskripsi pada
monumen dan piramid di Mesir. Setelah ditemukan bahan menulis yang ringan, mudah
dibawa dan lentur ( lempeng lempung, papirus, lontar di Indonesia), barulah naskah-naskah dapat disimpan dalam ruangan khusus. Waktu itulah mulai berdiri perpustakaan tertua, berarti juga informasi tertua. Bangsa Mesir mengenal perpustakaan sejak 3.200 SM dan bangsa Sumeria (bermukim di daerah Irak sekarang) mengenalnya sejak 2.700 SM (Gates,1968). Sejak itu perpustakaan menjadi sistem informasi penting.
Dengan kepandaian menggambar dan mengukur, orang kemudian dapat membuat
peta. Dengan istilah sekarang ilmu membuat peta disebut kartografi. Disamping
menyimpan naskah-naskah tulis, perpustakaan kemudian juga menyimpan peta-peta.
Perpustakaan menjadi sistem informasi klasik. Istilah klasik berarti sesuatu yang berasal dari masa lampau, namun nilainya sampai sekarang tetap tidak usang.
Dalam hal sistem informasi klasik ini pun negara-negara sedang berkembang
sangat tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Ketinggalan ini dapat dilihat dari jumlah judul naskah tulis tiap juta penduduk yang terbit setiap tahun. Menurut statistik tahun 1986 angka-angkanya sebagai berikut (Anon., 1989):
Negara-negara maju 504
Eropa, termasuk USSR 578
Amerika Utara 397
Negara-negara sedang berkembang 58
Asia 67
Amerika Latin dan Karibia 129
Negara-negara Arab 36
Afrika 23
Rerata dunia 167
Dari angka-angka tahun 1983 sebesar 3.000 judul terbit (Usman, 1984) dan jumlah
penduduk sebanyak 156.372.000 dapatlah dihitung bahwa Indonesia baru mencapai 19
judul tiap juta penduduk.
Simpanan volum perpustakaan terbesar dunia dalam jutaan ialah sebagai berikut
(Anon., 1989):
Perpustakaan Negara V.I. Lenin, Moscow 30
Perpustakaan Congress, Washington, D.C. 22
Perpustakaan Museum Inggris, London 15
Perpustakaan Akademi Ilmu Pengetahuan USSR, Leningrad 12
Perpustakaan Universitas Harvard, A.S. 11
Perpustakaan Nasional, Paris 11
Perpustakaan DPR Jepang, Tokyo 8
Perpustakaan Alexandria, Mesir 4
Untuk bandingan, menurut keadaan tahun 1989, jumlah volum yang tersimpan di
Perpustakaan Nasional di Jakarta k.l. 450.000, di semua perpustakaan yang ada di UGM
389.187 dan di Perpustakaan Fakultas Pertanian UGM 27.231 (Rektor/Ketua Senat, 1990).
Menurut keadaan tahun 1983, jumlah judul naskah tulis tiap juta penduduk yang terbit
setiap tahun di Indonesia ialah 19 (Usman, 1984).
Pengumpulan dan penyajian data yang terujukkan dengan ruang yang dikerjakan
dengan kartografi sudah lama dikenal. Bentuknya berupa peta tematik. Setiap peta
merupakan suatu sistem informasi yang menggabungkan berbagai ragam data yang
terujukkan dengan ruang, yang diperoleh dari berbagai sumber. Meskipun banyak badan
tetap mengumpulkan peta atau membuat peta, namun orang makin sadar bahwa menggabungkan dan membandingkan informasi dari sumber-sumber yang berbeda-beda
secara manual
itu sulit, dan karena itu memakan waktu banyak. Kabutuhan waktu banyak ini sering menjadi kendala bagi para pengambil kabijakan dan pembuat keputusan, karena
tindakan harus ditetapkan dalam waktu singkat. Disamping itu penyimpanan data dalam
bentuk peta tidak luwes, dalam arti kata tidak dapat disusun dan dianalisis ulang untuk menyajikan informasi lain.
Untuk menghilangkan pada sistem manual, diciptakan sistem mechanical yang melibatkan pekerjaan memilih dan tabulasi kartu-kartu tertindik ( punched cards ). Jumlah data yang digabungkan lebih banyak daripada yang dapat dilakukan dengan sistem manual. Juga pengambilan kembali data lebih lentur, sehingga dapat melayani berbagai keperluan.
Sekarang makin banyak digunakan sistem informasi terkomputer, meskipun
metode pengumpulan data tetap seperti semula. Yang berubah ialah struktur data yang
dapat menyimpan dan mengolah data dalam jumlah banyak, mengotomatkan penanganan
data yang mempercepat produksi informasi, dan memproduksi serta menganalisis secara
lebih lentur (Coppock & Anderson, 1987). Dewasa ini sistem informasi geografi (GIS)
dipandang sebagai suatu sub-sistem utama dari sistem informasi terkomputer. Ada banyak macam GIS, yang di Amerika Serikat saja terdapat 54 macam (Smithet al.,1987).
Suatu GIS yang dikembangkan oleh International Institut for Aeroscope Survey and
Earth Science (ITC) di Enschede, Belanda, diberi nama Integrated Land and Watershed
Management Information System (ILWIS) (Valenzuela, 1988). Yang termasuk GIS juga
ialah berbagai sistem informasi tanah (SIS) (Moore & Bie, 1977).
Kegunaan Setiap orang yang berkepentingan dengan penanganan dan penganalisisan data
yang terujukkan dengan suatu matra tertentu (ruang, waktu dan/atau lingkungan)
memerlukan suatu sistem informasi. Mereka itu ialah pengelola lahan dan sumberdaya,
peneliti pasar, perencana, administrator, pembuat kebijakan, dsb. (Coppock & Anderson,1987). Fungsi suatu sistem informasi ialah meningkatkan kesanggupan seorang pengguna membuat keputusan dalam penelitian, perencana, dan pengelolaan (Smithet al., 1987).
GIS terutama dikembangkan untuk tatagunalahan dan pengelolaan sumberdaya
alam. Ada juga yang dibuat untuk kegunaan masarakat umum dan usaha swasta. GIS
merupakan suatu teknologi baru dan menjadi alat yang perlu untuk menganalisis dan
mengalihkan secara grafis pengetahuan tentang dunia. GIS digunakan untuk membantu
pembuat keputusan dengan jalan mengunjukkan (indicate) berbagai alternatif dalam
perencanaan pembangunan dan pengawetan serta pengacuan (modelling) kesudahan
potensialdari sederetan skenario. Dengan demikian, perencanaan menjadi lebih makul(rational) (Smithet al., 1987).ILWIS digunakan untuk memintakatkan (zone) penggunaan lahan dan pengelolaanDAS berdasarkan asas salingtindak antara manusia dan sumberdaya alam (Valenzuela,1988). ILWIS sudah dicobakan di DAS Komering, Sumatera Selatan. SIS dapat digunakan untuk klasifikasi tanah, mengharkatkan kemampuan tanah, menelaah morfogenesis, dsb.(Moore & Bie, 1977).
Sistem Informasi dan Pembangunan Pertanian
Arti pembangunan pertanian secara umum ialah proses penegmbangan yang
berlangsung kini untuk mengubah keadaan sekarang menjadi keadaan lain yang lebih baik
bagi masa depan (Weitz, 1971). Jadi, pembangunan pada asasnya bersifat antisipatif,
berbenah diri untuk membuat hari depan yang lebih baik, maka pembangunan menuntut
bahwa orang selalu berkembang, mengembangkan keterampilan baru, dan menguasai
pengetahuan baru (Mosher, 1966).
Menumbuhkan sikap antisipatif, mengembangkan keterampilan baru, dan
menguasai pengetahuan baru memerlukan sistem informasi yang andal. Dalam hal
pembangunan pertanian, sistem informasi yang utama ialah GIS. GIS di Indonesia masih
sangat terbatas, baru dicoba dikembangkan untuk beberapa daerah di Sumatera. Sebetulnya data dasar tentang keadaan fisik lahan, agroekologi, dan demografi Indonesia sudah terkumpul cukup banyak, namun belum disusun dan diolah menjadi suatu sistem informasi yang baik. Data dasar yang tersedia itu pun belum dimanfaatkan secara tuntas. Tanpa mengesampingkan fakta keberhasilan peningkatan produksi pertanian yang membanggakan, terutama keberhasilan berswasenbada beras, pembangunan pertanian di Indonesia pada dasarnya masih berlangsung di atas landasan intuisi dengan sistem trial and error. Oleh karena keterbatasan sistem informasi, pembangunan pertanian belum menggunakan acuan-acuan yang merangkum kekhususan wilayah masing-masing dan yang memuat skenario untuk mengantisipasi keadaan pada ma sa mendatang. Keberhasilan pembangunan pertanian sampai sekarang ini masih terbatas pada peningkatan hasil panen dan belum menyentuh peningkatan produktivitas dan kejituan usahatani. Padahal tujuan utama pembangunan pertanian adalah keterlanjutan dan progresivitas sistem pertanian. Hal ini hanya dapat dengan membangun usahatani sebagai wahana salingtindak antara sumberdaya fisik (tanah, iklim, cahaya matahari, air dan waktu), sumberdaya ekonomi (tenaga kerja, daya, uang tunai dan pasar), dan sumberdaya manusia (petani sebagai pembudidaya, pengelola, pemegang buku, pembeli sara produksi dan menjual hasil panen).
Ketiga sumberdaya itu berada menurut tempat dan berubah menurut waktu.
Untuk membangun usahatani sehingga tangguh dalam menghadapi persaingan
dengan pengguna-pengguna lahan bukan – pertanian, penggunaan acuan-acuan pengimak(simulator) proses menjadi perlu sekali. Akan tetapi hal ini hanya dapat dikerjakan kalau tersedia GIS. Dengan GIS dan acuan pengimak sistem pembangunan pertanian menjadi dinamis, sehingga selalu teradaptasikan denagn keadaan yang berubah dan keterlanjutannya terjamin. Sekarang sudah tampak bahwa sistem pembangunan pertanian yang telah mengantarkan kita mencapai swasembada beras pada tahun 1984, tidak lagi terpercaya untuk mempertahankan swasembada itu. Ketiadaan GIS memaksa kita menerapkan teknologi kejap (instant technology) untuk bagaimanapun juga berswasembada beras. Dalam keasikan mengejar sasaran pragmatik tersebut kita telah melupakan pembuatan landasan pacu yang kokoh berupa sistem informasi, yang
seharusnya merupakan prasyarat.
Istilah sistem informasi menyiratkan suatu pengumpulan data yang terorganisasi
beserta tatacara penggunaanya yang mencakup lebih jauh daripada sekadar penyajian.
Istilah tersebut menyiratkan suatu maksud yang ingin dicapai dengan jalan memilih dan
mengatur data serta menyusun tatacara penggunaannya. Keberhasilan suatu siatem
informasi yang diukur berdasarkan maksud pembuatannya tentu bergantung pada tiga
faktor utama, yaitu :
1. keserasian dan mutu data
2. pengorganisasian data, dan
3. tatacara penggunaannya (Cook,1977).
Setiap sistem informasi menyajikan tiga gatra pokok:
(1) pengumpulan dan pemasukan data
(2) penyimpanan dan pengambilan kembali (retrieval) data , dan
(3) penerapan data, yang dalam hal sistem informasi terkomputer termasuk penayangan
(display) (Lynch, 1977).
Suatu sistem informasi terkomputer pada asasnya terdiri atas lima
komponen yang menjadi sub-sistemnya (Knappcit.Smithet al. ,1987), yaitu :
(1) pelambangan (encoding) data dan pemprosesan masukan
(2) pengolahan data
(3) pengambilan kembali data
(4) pengolahan dan analisis data, dan
(5) penayangan data.
Suatu sistem informasi dibuat untuk suatu keperluan tertentu atau untuk memenuhi
permintaan penggunaan tertentu, maka struktur dan cara kerja sistem informasi berbeda-
beda bergantung pada macam keperluan atau macam permintaan yang harus dipenuhi.
Oleh karena kepentingan yang harus dilayani sangat beraneka, mak macam sistem
informasi pun sangat beraneka. Namun demikian, sistem informasi mempunyai banyak
tampakan (features) umum dan menghadapi banyak persoalan yang mirip. Jadi, disamping
perbedaan yang jelas terdapat banyak persamaan antarberbagai sistem informasi. Suatu
persamman yang menonjol ialah semua sistem informasi menggabungkan berbagai ragam
data yang dikumpulkan dari berbagai sumber (Coppock & Anderson, 1987). Untuk dapat
menggabungkan data yang berasal dari berbagai sumber diperlukan suatu sistem alih rupa(transformation) data sehingga menjadi tergabungkan (compatible). Berapa pun
ukurannya dan apa pun ruang lingkupnya, suatu sistem informasi perlu memiliki ketergabungan (compatibility)data yang disimpannya (Moore, & Dawson, 1977).
Ketergantungan dakhil ialah yang merupakan tampakan umum suatu pokok suatu sistem
informasi.
Perkembangan Sistem Informasi
Perkembangan sistem informasi dapat dilihat dari perubahan pada tiga gatra pokok
yang telah dikemukakan tadi, yaitu :
(1) cara pengumpulan dan pemasukan data
(2) cara penyimpanan dan pengambilan kembali data
(3) cara penerapan data.
Sistem informasi tertua muncul setelah manusia mengenal sistem menulis dan
menggambar. Dengan sistem menulis dan menggambar orang dapat mencatat dan
menyimpan hal-hal yang difikirkan untuk kemudian dialihkan kepada orang lain. Sebelumini orang menyampaikan buah fikirannya secara lesan, dari mulut ke mulut. Pada waktu itu orang belum mengenal cara menyimpan informasi, sehingga jangkauannya dalam matra waktu dan ruang terbatas serta keterandalan semata-mata ditentukan oleh daya ingat seseorang.
Naskah-naskah tertulis yang tertua bertanggal 3.250 SM berupa inskripsi pada
monumen dan piramid di Mesir. Setelah ditemukan bahan menulis yang ringan, mudah
dibawa dan lentur ( lempeng lempung, papirus, lontar di Indonesia), barulah naskah-naskah dapat disimpan dalam ruangan khusus. Waktu itulah mulai berdiri perpustakaan tertua, berarti juga informasi tertua. Bangsa Mesir mengenal perpustakaan sejak 3.200 SM dan bangsa Sumeria (bermukim di daerah Irak sekarang) mengenalnya sejak 2.700 SM (Gates,1968). Sejak itu perpustakaan menjadi sistem informasi penting.
Dengan kepandaian menggambar dan mengukur, orang kemudian dapat membuat
peta. Dengan istilah sekarang ilmu membuat peta disebut kartografi. Disamping
menyimpan naskah-naskah tulis, perpustakaan kemudian juga menyimpan peta-peta.
Perpustakaan menjadi sistem informasi klasik. Istilah klasik berarti sesuatu yang berasal dari masa lampau, namun nilainya sampai sekarang tetap tidak usang.
Dalam hal sistem informasi klasik ini pun negara-negara sedang berkembang
sangat tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Ketinggalan ini dapat dilihat dari jumlah judul naskah tulis tiap juta penduduk yang terbit setiap tahun. Menurut statistik tahun 1986 angka-angkanya sebagai berikut (Anon., 1989):
Negara-negara maju 504
Eropa, termasuk USSR 578
Amerika Utara 397
Negara-negara sedang berkembang 58
Asia 67
Amerika Latin dan Karibia 129
Negara-negara Arab 36
Afrika 23
Rerata dunia 167
Dari angka-angka tahun 1983 sebesar 3.000 judul terbit (Usman, 1984) dan jumlah
penduduk sebanyak 156.372.000 dapatlah dihitung bahwa Indonesia baru mencapai 19
judul tiap juta penduduk.
Simpanan volum perpustakaan terbesar dunia dalam jutaan ialah sebagai berikut
(Anon., 1989):
Perpustakaan Negara V.I. Lenin, Moscow 30
Perpustakaan Congress, Washington, D.C. 22
Perpustakaan Museum Inggris, London 15
Perpustakaan Akademi Ilmu Pengetahuan USSR, Leningrad 12
Perpustakaan Universitas Harvard, A.S. 11
Perpustakaan Nasional, Paris 11
Perpustakaan DPR Jepang, Tokyo 8
Perpustakaan Alexandria, Mesir 4
Untuk bandingan, menurut keadaan tahun 1989, jumlah volum yang tersimpan di
Perpustakaan Nasional di Jakarta k.l. 450.000, di semua perpustakaan yang ada di UGM
389.187 dan di Perpustakaan Fakultas Pertanian UGM 27.231 (Rektor/Ketua Senat, 1990).
Menurut keadaan tahun 1983, jumlah judul naskah tulis tiap juta penduduk yang terbit
setiap tahun di Indonesia ialah 19 (Usman, 1984).
Pengumpulan dan penyajian data yang terujukkan dengan ruang yang dikerjakan
dengan kartografi sudah lama dikenal. Bentuknya berupa peta tematik. Setiap peta
merupakan suatu sistem informasi yang menggabungkan berbagai ragam data yang
terujukkan dengan ruang, yang diperoleh dari berbagai sumber. Meskipun banyak badan
tetap mengumpulkan peta atau membuat peta, namun orang makin sadar bahwa menggabungkan dan membandingkan informasi dari sumber-sumber yang berbeda-beda
secara manual
itu sulit, dan karena itu memakan waktu banyak. Kabutuhan waktu banyak ini sering menjadi kendala bagi para pengambil kabijakan dan pembuat keputusan, karena
tindakan harus ditetapkan dalam waktu singkat. Disamping itu penyimpanan data dalam
bentuk peta tidak luwes, dalam arti kata tidak dapat disusun dan dianalisis ulang untuk menyajikan informasi lain.
Untuk menghilangkan pada sistem manual, diciptakan sistem mechanical yang melibatkan pekerjaan memilih dan tabulasi kartu-kartu tertindik ( punched cards ). Jumlah data yang digabungkan lebih banyak daripada yang dapat dilakukan dengan sistem manual. Juga pengambilan kembali data lebih lentur, sehingga dapat melayani berbagai keperluan.
Sekarang makin banyak digunakan sistem informasi terkomputer, meskipun
metode pengumpulan data tetap seperti semula. Yang berubah ialah struktur data yang
dapat menyimpan dan mengolah data dalam jumlah banyak, mengotomatkan penanganan
data yang mempercepat produksi informasi, dan memproduksi serta menganalisis secara
lebih lentur (Coppock & Anderson, 1987). Dewasa ini sistem informasi geografi (GIS)
dipandang sebagai suatu sub-sistem utama dari sistem informasi terkomputer. Ada banyak macam GIS, yang di Amerika Serikat saja terdapat 54 macam (Smithet al.,1987).
Suatu GIS yang dikembangkan oleh International Institut for Aeroscope Survey and
Earth Science (ITC) di Enschede, Belanda, diberi nama Integrated Land and Watershed
Management Information System (ILWIS) (Valenzuela, 1988). Yang termasuk GIS juga
ialah berbagai sistem informasi tanah (SIS) (Moore & Bie, 1977).
Kegunaan Setiap orang yang berkepentingan dengan penanganan dan penganalisisan data
yang terujukkan dengan suatu matra tertentu (ruang, waktu dan/atau lingkungan)
memerlukan suatu sistem informasi. Mereka itu ialah pengelola lahan dan sumberdaya,
peneliti pasar, perencana, administrator, pembuat kebijakan, dsb. (Coppock & Anderson,1987). Fungsi suatu sistem informasi ialah meningkatkan kesanggupan seorang pengguna membuat keputusan dalam penelitian, perencana, dan pengelolaan (Smithet al., 1987).
GIS terutama dikembangkan untuk tatagunalahan dan pengelolaan sumberdaya
alam. Ada juga yang dibuat untuk kegunaan masarakat umum dan usaha swasta. GIS
merupakan suatu teknologi baru dan menjadi alat yang perlu untuk menganalisis dan
mengalihkan secara grafis pengetahuan tentang dunia. GIS digunakan untuk membantu
pembuat keputusan dengan jalan mengunjukkan (indicate) berbagai alternatif dalam
perencanaan pembangunan dan pengawetan serta pengacuan (modelling) kesudahan
potensialdari sederetan skenario. Dengan demikian, perencanaan menjadi lebih makul(rational) (Smithet al., 1987).ILWIS digunakan untuk memintakatkan (zone) penggunaan lahan dan pengelolaanDAS berdasarkan asas salingtindak antara manusia dan sumberdaya alam (Valenzuela,1988). ILWIS sudah dicobakan di DAS Komering, Sumatera Selatan. SIS dapat digunakan untuk klasifikasi tanah, mengharkatkan kemampuan tanah, menelaah morfogenesis, dsb.(Moore & Bie, 1977).
Sistem Informasi dan Pembangunan Pertanian
Arti pembangunan pertanian secara umum ialah proses penegmbangan yang
berlangsung kini untuk mengubah keadaan sekarang menjadi keadaan lain yang lebih baik
bagi masa depan (Weitz, 1971). Jadi, pembangunan pada asasnya bersifat antisipatif,
berbenah diri untuk membuat hari depan yang lebih baik, maka pembangunan menuntut
bahwa orang selalu berkembang, mengembangkan keterampilan baru, dan menguasai
pengetahuan baru (Mosher, 1966).
Menumbuhkan sikap antisipatif, mengembangkan keterampilan baru, dan
menguasai pengetahuan baru memerlukan sistem informasi yang andal. Dalam hal
pembangunan pertanian, sistem informasi yang utama ialah GIS. GIS di Indonesia masih
sangat terbatas, baru dicoba dikembangkan untuk beberapa daerah di Sumatera. Sebetulnya data dasar tentang keadaan fisik lahan, agroekologi, dan demografi Indonesia sudah terkumpul cukup banyak, namun belum disusun dan diolah menjadi suatu sistem informasi yang baik. Data dasar yang tersedia itu pun belum dimanfaatkan secara tuntas. Tanpa mengesampingkan fakta keberhasilan peningkatan produksi pertanian yang membanggakan, terutama keberhasilan berswasenbada beras, pembangunan pertanian di Indonesia pada dasarnya masih berlangsung di atas landasan intuisi dengan sistem trial and error. Oleh karena keterbatasan sistem informasi, pembangunan pertanian belum menggunakan acuan-acuan yang merangkum kekhususan wilayah masing-masing dan yang memuat skenario untuk mengantisipasi keadaan pada ma sa mendatang. Keberhasilan pembangunan pertanian sampai sekarang ini masih terbatas pada peningkatan hasil panen dan belum menyentuh peningkatan produktivitas dan kejituan usahatani. Padahal tujuan utama pembangunan pertanian adalah keterlanjutan dan progresivitas sistem pertanian. Hal ini hanya dapat dengan membangun usahatani sebagai wahana salingtindak antara sumberdaya fisik (tanah, iklim, cahaya matahari, air dan waktu), sumberdaya ekonomi (tenaga kerja, daya, uang tunai dan pasar), dan sumberdaya manusia (petani sebagai pembudidaya, pengelola, pemegang buku, pembeli sara produksi dan menjual hasil panen).
Ketiga sumberdaya itu berada menurut tempat dan berubah menurut waktu.
Untuk membangun usahatani sehingga tangguh dalam menghadapi persaingan
dengan pengguna-pengguna lahan bukan – pertanian, penggunaan acuan-acuan pengimak(simulator) proses menjadi perlu sekali. Akan tetapi hal ini hanya dapat dikerjakan kalau tersedia GIS. Dengan GIS dan acuan pengimak sistem pembangunan pertanian menjadi dinamis, sehingga selalu teradaptasikan denagn keadaan yang berubah dan keterlanjutannya terjamin. Sekarang sudah tampak bahwa sistem pembangunan pertanian yang telah mengantarkan kita mencapai swasembada beras pada tahun 1984, tidak lagi terpercaya untuk mempertahankan swasembada itu. Ketiadaan GIS memaksa kita menerapkan teknologi kejap (instant technology) untuk bagaimanapun juga berswasembada beras. Dalam keasikan mengejar sasaran pragmatik tersebut kita telah melupakan pembuatan landasan pacu yang kokoh berupa sistem informasi, yang
seharusnya merupakan prasyarat.
EVOLUSI TEORI MANAJEMEN DAN MANAJEMEN DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL
TEORI EVOLUSI MANAJEMEN
Perkembangan teori manajemen pada saat ini telah berkembang dengan pesat. Tapi sampai detik ini pula Belum ada suatu teori yang bersifat umum ataupun berupa kumpulan-kumpulan hukum bagi manajemen yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Para manajemen banyak mengalami dan menjumpai pandangan-pandangan berbeda tentang manajemen, yang berbeda adalah dalam penerapannya. Dimana setiap pandangan hanya dapat diterapkan dalam berbagai masalah yang berbeda pula, sedangkan untuk masalah-masalah yang sama belum tentu dapat diterapkan.
Ada tiga teori pemikiran manajemen yaitu :
Teori manajemen klasik
Ilmu manajemen muncul setelah negara-negara Eropa Barat dan Amerika dilanda revolusi industri, yang terjadi sekitar awal abad ke-20 yaitu mulai ditinggalkannya prinsip-prinsip lama yang sudah tidak efektif dan efisien lagi. Ada dua tokoh yang mengawali munculnya manajemen, yaitu :
1. Robert Owen ( 1971 – 1858 )
Dimulai pada tahun 1800-an sebagai manager pabrik permintalan kapas di New Lanark, Scotlandia. Robert Owen mencurahkan perhatiaannya pada penggunaan faktor produksi produksi tenaga kerja. Dari hasil pengamatannya disimpulkan bahwa bilamana terhadap mesin diadakan suatu perawatan yang baik akan memberikan keuntungan kepada perusahaan, demikian pula apabila tenaga kerja dipelihara dan dirawat (dalam arti adanya perhatian baik kompensasi, kesehatan, tunjangan dan lain sebagainya) oleh pimpinan perusahaan akan memberikan keuntungan pada perusahaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kuantitas dan kualitas hasil pekerjaan dipengaruhi oleh situasi ekstern dan intern dari pekerjaan. Atas hasil penelitiannya Robert Owen dikenal sebagai Bapak Manajemen Personalia.
2. Charles Babbage ( 1792 – 1871 )
Charles Babbage adalah seorang Profesor Matemátika dari Inggris yang menaruh perhatian dan minat pada bidang manajemen. Perhatiannya diarahkan dalam hal pembagian kerja (devision of labour), yang mempunyai beberapa keunggulan, yaitu :
1. Waktu yang diperlukan untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang baru.
2. Banyaknya waktu yang terbuang bila seseorang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dan orang tersebut harus menyesuaikan kembali pada pekerjaan barunya sehingga akan menghambat kemajuan dan keterampilan pekerja, untuk itu diperlukan spesialisasi dalam pekerjaannya.
3. Kecakapan dan keahlian seseorang bertambah karena seorang pekerja bekerja terus menerus dalam tugasnya.
4. Adanya perhatian pada pekerjaannya sehingga dapat meresapi alat-alatnya karena perhatiannya pada itu-itu saja.
Kontribusi lain dari Charles Babbage yaitu menciptakan mesin hitung (calculator) mekanis yang pertama, mengembangkan program-program permainan untuk komputer, mengembangkan kerja sama yang saling menguntungkan antara para pekerja dengan pemilik perusahaan, juga membuat skema perencanaan pembagian keuntungan.
Teori manajemen klasik juga terbagi dalam dua pemikiran yaitu teori manajemen ilmiah dan teori organisasi klasik.
Teori manajemen ilmiah.
Tokoh-tokoh dari teori manajemen ilmiah antara lain :
Frederick Winslow Taylor
Pertama kali manajemen ilmiah atau manajemen yang menggunakan ilmu pengetahuan dibahas pada tahun 1900an. Taylor adalah manager dan penasehat perusahaan dan merupakan salah seorang tokoh terbesar manajemen. Taylor dikenal sebagai bapak manajemen ilmiah (scientifick management). Dari hasil penelitian dan analisanya taylor mengemukakan empat prinsip Scientific Management, yaitu :
a) Menghilangkan sistem coba-coba dan menerapkan metode-metode ilmu pengetahuan disetiap unsur-unsur kegiatan.
b) Memilih pekerjaan terbaik untuk setiap tugas tertentu selanjutnya memberikan latihan dan pendidikan kepada pekerja.
c) Setiap petugas harus menerapkan hasil-hasil ilmu pengetahuan didalam menjalankan tugasnya.
d) Harus dijalin kerja sama yang baik antara pimpinan dan pekerja.
Karya Taylor lainnya yaitu mengenai upah perpotong minimum diberikan kepada pekerja yang menghasilkan sama dengan stándar atau dibawah stándar yang telah ditentukan, sedangkan upah per potong maksimum diberikan kepada pekerja yang menghasilkan diatas stándar. Sistem upah per potong ini lebih dikenal dengan The Taylor Differential Rate System.
Frank Bunker Gilbreth dan Lilian Gilbreth ( 1868 – 1924 dan 1878 – 1917 ).
Suami istri yang berkecimpung dalam mengembangkan manajemen ilmiah. Frank adalah pelopor study gerak dan waktu, mengemukakan beberapa teknik manajemen yang di ilhami oleh pandapat taylor. Dia tertarik pada pengerjaan suatu pekerjaan yang memperoleh effisiensi tertinggi. Sedangkan Lilian Gilbreth cenderung tertarik pada aspek-aspek dalam kerja, seperti penyeleksian penerimaan tenaga kerja baru, penempatan dan latihan bagi tenaga kerja baru. Bukunya yang berjudul The Pshikology of Management menyatakan bahwa tujuan akhir dari manajemen ilmiah yaitu membantu para karyawan untuk meraih potensinya sebagai mahluk hidup.
Hendry Laurance Gantt ( 1861 – 1919 )
Hendry merupakan asisten dari Taylor, dia berdiri sendiri sebagai seorang konsultan. Adapun gagasan yang dicetuskannya adalah :
a) Kerjasama yang saling menguntungkan antara manager dan tenaga kerja untuk mencapai tujuan bersama.
b) Mengadakan seleksi ilmiah terhadap tenaga kerja.
c) Pembayar upah pegawai dengan menggunakan sistem bonus.
d) Penggunaan instruksi kerja yang terperinci.
Harrington Emerson ( 1853 – 1931 )
Prinsip pokoknya adalah tentang tujuan, dimana dari hasil penelitiannya menunjukan kebenaran prinsip yaitu uang akan lebih berhasil bila mengetahui tujuan penggunaannya. Bukti dari pendapat Emerson yaitu adanya istilah Management by Objek (MBO).
Teori organisasi klasik
Tokoh-tokoh teori organisasi klasik antara lain yaitu :
Hanry Fayol ( 1841 – 1925 )
Fayol adalah seorang industrialis Perancis. Fayol mengatakan bahwa teori dan teknik administrasi merupakan dasar pengelolaan organisasi yang kompleks, ini diungkapkan dalam bukunya yang berjudul Administration Industrielle et General atau General and Industrial Management yang ditulis pada tahun 1908 oleh Costance Storrs.
Fayol membagi manajemen menjadi lima unsur yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian dan pengawasan. Fungsi ini dikenal sebagai Fungsionalisme.
Fayol selanjutnya membagi enam kegiatan manajemen yaitu : 1. teknik produksi dan manufakturing produk, 2. Komersial, 3. Keuangan, 4. Keamanan, 5. Akuntansi, dan 6. Manajerial.
Hendry Fayol juga mengemukakan 14 prinsip manajemen yaitu :
1. Devision of work
Adanya spesialisasi dalam pekerjaan, dimana dengan spesialisasi dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan kerja. Tujuannya adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan terbaik dengan usaha yang sama.
2. Uathority and Responsibility
Wewenang yaitu hak untuk memberi perintah dan kekuasaan untuk meminta dipatuhi.
Tanggung jawab yaitu tugas dan fungsi yang harus dikerjakan, untuk ini diperlukan wewenang dari pihak diatasnya. Semua ini diperlukan sangsi agar dipatuhi oleh orang yang menerima.
3. Dicipline
Melakukan apa sudah menjadi persetujuan bersama, disiplin ini Sangat penting dalam tercapainya tujuan bersama, sebab tanpa ini tidak akan mencapai tujuan.
4. Unity of Command
Setiap bawahan hanya menerima instruksi dari seorang atasan saja untuk menghilangkan kebingungan dan saling lempar tanggung jawab. Bila hal ini dilanggar maka wewenang akan berkurang, disiplin terancam dan stabilitas akan goyah.
5. Unity of Direction
Seluruh kegiatan dalam organisasi yang mempunyai tujuan sama harus diarahkan oleh seorang manajer.
6. Subordination of Individual Interst to Generale Interest
Kepentingan seseorang tidak boleh diatas kepentingan bersama atau organisasi.
7. Renumeration
Gaji bagi pegawai merupakan harga servis atau layanan yang diberikan. Konpensasi harus adil baik bagi karyawan maupun pemilik.
8. Centralization
Standarisasi dan desentralisasi merupakan pembagian kekuasaan. Sentralisasi bisa dipakai pada organisasi yang kecil, tapi lain bagi organisasi yang besar sentralisasi tidak mungkin dapat digunakan, harus menggunakan desentralisasi. Bila peranan diberikan kepada bawahan lebih besar, maka digunakan desentralisasi.
9. Scalar Chain ( garis wewenang )
Jalan yang harus diikuti oleh semua komunikasi yang bermula dari dan kembali kekuasaan terakhir. Prinsipnya mempermudah komunikasi antar pegawai yang setingkat.
10. Order
Disini berlaku setiap tempat untuk setiap orang dan setiap orang pada tempatnya. Hendaknya setiap orang ditempatkan pada posisi yang tepat untuk mereka berdasarkan pada kemampuan, bakat dan minatnya.
11. Equty
Untuk merangsang agar pekerja melaksanakan pekerjaan dengan baik, sungguh-sungguh dan penuh kesetiaan, maka harus ada persamaan perlakuan dalam organisasi.
12. Stability of Tonure of Personel
Seseorang pegawai memerlukan penyesuaian untuk mengerjakan pekerjaan barunya agar dapat berhasil dengan baik. Apabila seseorang sering kali dipindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya akan menghambat dan membuat pekerja tersebut produktivitasnya kecil. Turn over tenaga kerja yang tinggi tidak baik bagi pelaksanaan fungsi-fungsi organisasi.
13. Initiative
Bawahan diberi kekuasaan dan kebebasan didalam mengeluarkan pendapatnya, menjalankan dan menyelesaikan rencananya, walaupun ada kesalahan yang mungkin terjadi.
14. Esprit the Corps
Persatuan adalah keleluasaan, pelaksanaan operasi organisasi perlu memiliki kebanggan, keharmonisan dan kesetiaan dari para anggotanya yang tercermin dalam semangat korps.
Teori hubungan manusiawi ( neo klasik )
Aliran ini timbul karena pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi dalam produksi dan keselarasan kerja. Tokoh-tokoh aliran hubungan manusiawi antara lain :
Hugo Munsterberg ( 1863 – 1916 )
Hugo merupakan pencetus psikologi industri sehingga dikenal sebagai bapak psikologi industri. Bukunya yaitu Psikology and Industrial Efficiensy, menguraikan bahwa untuk mencapai tujuan produktifitas harus melakukan tiga cara pertama penemuan best posibble person, kedua penciptaan best posibble work dan ketiga penggunaan best posibble effect.
Elton Mayo ( 1880 – 1949 )
Terkenal dengan percobaan-percobaan Howthorne, dimana hubungan manusiawi menggambarkan manager bertemu atau berinteraksi dengan bawahan. Bila moral dan efisiensi verja memburuk maka hubungan manusiawi dalam organisasi juga akan buruk. Mayo juga meneliti pengaruh kondisi penerangan terhadap produktifitas. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa bila kondisi penerangan naik, maka produktifitas juga akan naik dan begitupun sebaliknya. Percobaan kedua dimana bila kelompok yang terdiri dari enam orang dipisahkan dalam ruangan yang terpisah, dimana ruangan pertama kondisinya diubah setiap waktu sedang ruangan lainnya tidak mengalami perubahan. Variabel yang dirubah seperti upah, jam istirahat, jam makan, hari kerja dan sebagainya ternyata kondisi tersebut mengalami kenaikan produktivitas, ternyata kenaikan produktivitas ini bukan diakibatkan oleh intensif keuangan. Rantai reaksi emosional antar pekerja berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, perhatian khusus dan simpatik sangat berpengaruh, fenomena ini dikenal sebagai Howthorne Effect.
Teori hubungan modern ( ilmu pengetahuan ) / Teori perilaku
Dalam pengembangannya dibagi menjadi dua, pertama aliran hubungan manusiawi ( perilaku organisasi ) dan kedua berdasar pada manajemen ilmiah atau manajemen operasi.
Tokoh aliran perilaku organisasi yaitu :
o Douglas McGregor yang terkenal dengan teori X dan teori Y.
o Frederick Herzberg terkenal dengan teori motivasi higenis atau teori dua factor.
o Chris Argiris mengatakan bahwa organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya.
o Edgar Schein dinamika kelompok dalam organisasi.
o Abhraham Maslow mengemukakan tentang hirarki kebutuhan tentang perilaku manusia dan dinamika proses.
o Robert Blak dan Jane mounton mengemukakan lima gaya kepemimpinan dengan kisi-kisi manajerial ( managerial grid ).
o Rensislikert mengemukakan empat sistem manajemen dari sistem 1.explotatif, otoritatif sampai sistem 4. partisiatif kelompok.
o Fred Feidler menerapkan pendekatan contingency pada studi kepemimpinan.
** Sumbangan Aliran Perilaku Organisasi
Sumbangan aliran ini terlihat dalam peningkatan pemahaman terhadap motivasi perseorangan, perilaku kelompok, hubungan antara pribadi dalam kerja dan pentingnya kerja bagi manusia. Semua hal ini telah membuat para manajer semakin peka dan terampil dalam menangani dan berhubungan dengan bawahannya.
** Keterbatasan Aliran Perilaku Organisasi
Meskipun demikian, banyak ahli berpendapat potensi teori ini belum dikembangkan lebih lanjut. Selain itu juga banyak kritikan terhadap aliran ini, karena disamping terlalu umum, terlalu abstrak dan ruwet/rumit. Rekomendasi mereka sering berbeda satu ahli dengan ahli lainnya, sehingga manajer mengalami kesulitan menentukan pendapat yang paling baik.
Teori Aliran Kuantitatif (Riset Operasi dan Manajemen Sains)
Aliran kuantitatif mulai berkembang sejak Perang Dunia II. Pada waktu itu Inggris ingin memecahkan beberapa persoalan yang sangat kompleks dalam perang. Inggris kemudian membentuk Tim Riset Operasi (Reserch Operation), dipimpin oleh P.M.S Blackett. Tim ini terdiri dari ahli matematika, fisika, dan ilmuwan lainnya. Inggris berhasil menemukan terobosan-terobosan penting dari team tersebut. Amerika Serikat kemudian meniru, membentuk tim riset operasi seperti yang dibentuk Inggris.
Manajemen operasi merupakan variasi lain dari pendekatan kuantitatif. Beberapa contoh model manajemen operasi adalah : pengendalian persediaan seperti EOQ (Economic Order Quantity), simulasi, analisis break-event, programasi lenier (linear programming).
** Sumbangan Aliran Kuantitatif (Riset Operasi/Manajemen Sains)
Pendekatan kuantitatif memberikan sumbangan penting terutama dalam perencanaan dan pengendalian. Pendekatan tersebut juga membantu memahami persoalan manajemen yang kompleks. Dengan menggunakan model matematika, persoalan yang kompleks dapat disederhanakan.
** Keterbatasan Aliran Kuantitatif (Riset Operasi/Manajemen Sains)
Sayangnya model kuantitatif banyak menggunakan model atau simbol yang sulit dimengerti oleh kebanyakan orang, termasuk manajer. Pendekatan kuantitatif juga tidak melihat persoalan perilaku dan psikologi manusia dalam organisasi. Meskipun demikian potensi model kuantitatif belum dikembangkan sepenuhnya. Apabila dapat dikembangkan lebih lanjut pendekatan kuantitatif akan memberikan sumbangan yang lebih berarti.
MANAJEMEN DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL
Manajemen lingkungan adalah aspek-aspek dari keseluruhan manajemen (termasuk perencanaan) yang menentukan dan membawa pada implementasi kebijakan lingkungan. Manajemen lingkungan selama ini sebelum adanya ISO 14001 berada dalam kondisi terpecah-pecah dan tidak memiliki stándar tertentu dari satu daerah dengan daerah lain, dan secara internasional berbeda penerapannya antara negara satu dengan lainnya. Praktek manajemen lingkungan yang dilakukan secara sistematis, prosedural, dan dapat diulang disebut dengan Sistem Manajemen Lingkungan ( EMS ). Manajemen lingkungan saat ini telah banyak mengalami perubahan yang cukup berarti terutama dimulai Sejak awal tahun 1990. Penelitian mengenai efek dan akibat penerapan manajemen lingkungan telah banyak dilakukan terutama Sejak munculnya ISO 14001 di tahun 1996. Penerapan manajemen lingkungan yang baik di tingkat organisasi pada umumnya dibagi menjadi 3 elemen :
Perlindungan lingkungan secara fisik.
Membentuk budaya berkelanjutan dalam organisasi
Menanamkan nilai-nilai moral dan saling kepercayaan antar elemen organisasi.
DEFINISI LINGKUNGAN
Lingkungan menurut definisi umum yaitu segala sesuatu disekitar subjek manusia yang terkait dengan aktifitasnya. Elemen lingkungan adalah hal-hal yang terkait dengan : tanah, udara, air, sumber daya alam, flora, fauna, manusia, dan hubungan antar faktor-faktor tersebut. Titik sentral isu lingkungan adalah manusia. Jadi manajemen lingkungan bisa diartikan sekumpulan aktifitas merencanakan, dan menggerakkan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan kebijakan lingkungan yang telah ditetapkan.
Dalam pembahasan manajemen tidak lepas pada masalah lingkungan yang dihadapi oleh seorang manager. Perbedaan dan kondisi lingkungan akan berpengaruh terhadap konsep dan teknik serta keputusan yang akan diambil. Ada dua macam faktor lingkungan, yaitu :
1. Faktor Lingkungan Internal yaitu lingkungan yang ada didalam usahanya saja.
2. Faktor Lingkungan Eksternal yaitu unsur-unsur yang berada diluar organisasi, dimana unsure-unsur ini tidak dapat dikendalikan dan diketahui terlebih dahulu oleh manager, disamping itu juga akan mempengaruhi manager didalam pengambilan keputusan yang akan dibuat. Unsur-unsur lingkungan eksternal organisasi contohnya yaitu perubahan ekonomi, paraturan pemerintah, perilaku konsumen, perkembangan teknologi, politik dan lainnya. Lingkungan eksternal dibagi menjadi dua yaitu :
Lingkungan eksternal mikro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh langsung terhadap kegiatan manajemen yang terdiri atas penyedia, langganan, para pesaing, lembaga perbankan dan lainnya.
Lingkungan eksternal makro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh tidak langsung, seperti kondisi perekonomian, perubahan teknologi, politik, sosial dan lain sebagainya.
TANGGUNG JAWAB SOSIAL MANAJER / PERUSAHAAN
Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (selanjutnya dalam artikel akan disingkat CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.
CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang
Analisis dan pengembangan
Hari ini yang menjadi perhatian terbesar dari peran perusahaan dalam masyarakat telah ditingkatkan yaitu dengan peningkatan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan masalah etika. Masalah seperti perusakan lingkungan, perlakuan tidak layak terhadap karyawan, dan cacat produksi yang mengakibatkan ketidak nyamanan ataupun bahaya bagi konsumen adalah menjadi berita utama surat kabar. Peraturan pemerintah pada beberapa negara mengenai lingkungan hidup dan permasalahan sosial semakin tegas, juga standar dan hukum seringkali dibuat hingga melampaui batas kewenangan negara pembuat peraturan (misalnya peraturan yang dibuat oleh Uni Eropa. Beberapa investor dan perusahaan manajemen investasi telah mulai memperhatikan kebijakan CSR dari suatu perusahaan dalam membuat keputusan investasi mereka, sebuah praktek yang dikenal sebagai "Investasi bertanggung jawab sosial" (socially responsable investing).
Banyak pendukung CSR yang memisahkan CSR dari sumbangan sosial dan "perbuatan baik" (atau kedermawanan seperti misalnya yang dilakukan oleh Habitat for Humanity atau Ronald McDonald House), namun sesungguhnya sumbangan sosial merupakan bagian kecil saja dari CSR. Perusahaan di masa lampau seringkali mengeluarkan uang untuk proyek-proyek komunitas, pemberian beasiswa dan pendirian yayasan sosial. Mereka juga seringkali menganjurkan dan mendorong para pekerjanya untuk sukarelawan (volunteer) dalam mengambil bagian pada proyek komunitas sehingga menciptakan suatu itikad baik dimata komunitas tersebut yang secara langsung akan meningkatkan reputasi perusahaan serta memperkuat merek perusahaan. Dengan diterimanya konsep CSR, terutama triple bottom line, perusahaan mendapatkan kerangka baru dalam menempatkan berbagai kegiatan sosial diatas.
Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR adalah bukan hanya sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal.
Dunia bisnis selama setengah abad terakhir, telah menjelma menjadi institusi paling berkuasa diatas planet ini. Institusi yang dominan di masyarakat manapun harus mengambil tanggung jawab untuk kepentingan bersama setiap keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang diambil haruslah dilihat dalam kerangka tanggung jawab tersebut.
Sebuah definisi yang luas oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) yaitu suatu asosiasi global yang terdiri dari sekitar 200 perusahaan yang secara khusus bergerak dibidang "pembangunan berkelanjutan" (sustainable development) yang menyatakan bahwa:
" CSR adalah merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya".
Pelaporan dan pemeriksaan
Untuk menunjukkan bahwa perusahaan adalah warga dunia bisnis yang baik maka perusahaan dapat membuat pelaporan atas dilaksanakannya beberapa standar CSR termasuk dalam hal:
o Akuntabilitas atas standar AA1000 berdasarkan laporan sesuai standar John Elkington yaitu laporan yang menggunakan dasar triple bottom line (3BL).
o Global Reporting Initiative, yang mungkin merupakan acuan laporan berkelanjutan yang paling banyak digunakan sebagai standar saat ini.
o Verite, acuan pemantauan
o Laporan berdasarkan standar akuntabilitas sosial internasional SA8000.
o Standar manajemen lingkungan berdasarkan ISO 14000
Di beberapa negara dibutuhkan laporan pelaksanaan CSR, walaupun sulit diperoleh kesepakatan atas ukuran yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam aspek sosial. Sementara aspek lingkungan apalagi aspek ekonomi memang jauh lebih mudah diukur. Banyak perusahaan sekarang menggunakan audit eksternal guna memastikan kebenaran laporan tahunan perseroan yang mencakup kontribusi perusahaan dalam pembangunan berkelanjutan, biasanya diberi nama laporan CSR atau laporan keberlanjutan. Akan tetapi laporan tersebut sangat luas formatnya, gayanya dan metodologi evaluasi yang digunakan (walaupun dalam suatu industri yang sejenis). Banyak kritik mengatakan bahwa laporan ini hanyalah sekedar "pemanis bibir" (suatu basa-basi), misalnya saja pada kasus laporan tahunan CSR dari perusahaan Enron dan juga perusahaan-perusahaan rokok. Namun, dengan semakin berkembangnya konsep CSR dan metode verifikasi laporannya, kecenderungan yang sekarang terjadi adalah peningkatan kebenaran isi laporan. Bagaimanapun, laporan CSR atau laporan keberlanjutan merupakan upaya untuk meningkatkan akuntabilitas perusahaan di mata para pemangku kepentingannya.
Kasus bisnis dari CSR
Skala dan sifat keuntungan dari CSR untuk suatu organisasi dapat berbeda-beda tergantung dari sifat perusahaan tersebut dan amat sulit untuk mengukurnya walaupun banyak sekali literatur yang memuat tentang cara mengukur seperti misalnya metode "Empat belas poin balanced scorecard oleh Deming. Orlizty, Schmidt, dan Rynes menemukan suatu korelasi antara sosial / performa lingkungan hidup dan performa keuangan. Namun bisnis nampaknya tidak menguntungkan apabila diharuskan melaksanakan strategi CSR.
Hasil Survey "The Millenium Poll on CSR" (1999) yang dilakukan oleh Environics International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business Leader Forum (London) diantara 25.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika bisnis, praktek terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan, sedangkan bagi 40% citra perusahaan & brand image yang akan paling mempengaruhi kesan mereka. Hanya 1/3 yang mendasari opininya atas faktor-faktor bisnis fundamental seperti faktor finansial, ukuran perusahaan, strategi perusahaan, atau manajemen.
Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan CSR adalah ingin "menghukum" (40%) dan 50% tidak akan membeli produk dari perusahaan yang bersangkutan dan/atau bicara kepada orang lain tentang kekurangan perusahaan tersebut.
Kasus bisnis pada CSR diantara perusahaan-perusahaan biasanya berkisar satu ataupun lebih dari argumentasi dibawah ini :
** Sumber daya manusia
Program CSR dapat dilihat sebagai suatu pertolongan dalam bentuk rekrutmen tenaga kerja dan memperkerjakan masyarakat sekitar, terutama sekali dengan adanya persaingan kerja diantara para lulusan sekolah. Akan terjadi peningkatan kemungkinan untuk ditanyakannya kebijakan CSR perusahaan pada rekrutmen tenaga kerja yang berpotesi maka dengan memiliki suatu kebijakan komprehensif akan menjadi suatu nilai tambah perusahaan. CSR dapat juga digunakan untuk membentuk suatu atmosfir kerja yang nyaman diantara para staf, terutama apabila mereka dapat dilibatkan dalam "penyisihan gaji" dan aktivitas "penggalangan dana" atapun suka relawan.
** Manajemen risiko
Manajemen risiko merupakan inti dari strategi perusahaan. Reputasi yang dibentuk dengan susah payah selama bertahun-tahun dapat musnah dalam sekejap melalui insiden seperti skandal korupsi atau skandal lingkungan hidup. Kejadian ini dapat menarik perhatian yang tidak diinginkan dari penguasa, pengadilan, pemerintah dan media massa. Membentuk suatu budaya dari "mengerjakan sesuatu dengan benar" pada perusahaan dapat mengurangi risiko ini.
** Membedakan merek
Di tengah hiruk pikuknya pasar maka perusahaan berupaya keras untuk membuat suatu cara penjualan yang unik sehingga dapat membedakan produknya dari para pesaingnya di benak konsumen. CSR dapat berperan untuk menciptakan loyalitas konsumen atas dasar nilai khusus dari etika perusahaan.
** Ijin usaha
Perusahaan selalu berupaya agar menghindari gangguan dalam usahanya melalui perpajakan atau peraturan. Dengan melakukan sesuatu kebenaran secara sukarela maka mereka akan dapat meyakinkan pemerintah dan masyarakat luas bahwa mereka sangat serius dalam memperhatikan masalah kesehatan dan keselamatan, diskriminasi atau lingkungan hidup maka dengan demikian mereka dapat menghindari intervensi. Perusahaan yang membuka usaha diluar negara asalnya dapat memastikan bahwa mereka diterima dengan baik selaku warga perusahaan yang baik dengan memperhatikan kesejahteraan tenaga kerja dan akibat terhadap lingkungan hidup, sehingga dengan demikian keuntungan yang menyolok dan gaji dewan direksinya yang sangat tinggi tidak dipersoalkan.
** Motif perselisihan bisnis
Kritik atas CSR akan menyebabkan suatu alasan dimana akhirnya bisnis perusahaan dipersalahkan. Contohnya, ada kepercayaan bahwa program CSR seringkali dilakukan sebagai suatu upaya untuk mengalihkan perhatian masyarakat atas masalah etika dari bisnis utama perseroan.
Perkembangan teori manajemen pada saat ini telah berkembang dengan pesat. Tapi sampai detik ini pula Belum ada suatu teori yang bersifat umum ataupun berupa kumpulan-kumpulan hukum bagi manajemen yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Para manajemen banyak mengalami dan menjumpai pandangan-pandangan berbeda tentang manajemen, yang berbeda adalah dalam penerapannya. Dimana setiap pandangan hanya dapat diterapkan dalam berbagai masalah yang berbeda pula, sedangkan untuk masalah-masalah yang sama belum tentu dapat diterapkan.
Ada tiga teori pemikiran manajemen yaitu :
Teori manajemen klasik
Ilmu manajemen muncul setelah negara-negara Eropa Barat dan Amerika dilanda revolusi industri, yang terjadi sekitar awal abad ke-20 yaitu mulai ditinggalkannya prinsip-prinsip lama yang sudah tidak efektif dan efisien lagi. Ada dua tokoh yang mengawali munculnya manajemen, yaitu :
1. Robert Owen ( 1971 – 1858 )
Dimulai pada tahun 1800-an sebagai manager pabrik permintalan kapas di New Lanark, Scotlandia. Robert Owen mencurahkan perhatiaannya pada penggunaan faktor produksi produksi tenaga kerja. Dari hasil pengamatannya disimpulkan bahwa bilamana terhadap mesin diadakan suatu perawatan yang baik akan memberikan keuntungan kepada perusahaan, demikian pula apabila tenaga kerja dipelihara dan dirawat (dalam arti adanya perhatian baik kompensasi, kesehatan, tunjangan dan lain sebagainya) oleh pimpinan perusahaan akan memberikan keuntungan pada perusahaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kuantitas dan kualitas hasil pekerjaan dipengaruhi oleh situasi ekstern dan intern dari pekerjaan. Atas hasil penelitiannya Robert Owen dikenal sebagai Bapak Manajemen Personalia.
2. Charles Babbage ( 1792 – 1871 )
Charles Babbage adalah seorang Profesor Matemátika dari Inggris yang menaruh perhatian dan minat pada bidang manajemen. Perhatiannya diarahkan dalam hal pembagian kerja (devision of labour), yang mempunyai beberapa keunggulan, yaitu :
1. Waktu yang diperlukan untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang baru.
2. Banyaknya waktu yang terbuang bila seseorang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dan orang tersebut harus menyesuaikan kembali pada pekerjaan barunya sehingga akan menghambat kemajuan dan keterampilan pekerja, untuk itu diperlukan spesialisasi dalam pekerjaannya.
3. Kecakapan dan keahlian seseorang bertambah karena seorang pekerja bekerja terus menerus dalam tugasnya.
4. Adanya perhatian pada pekerjaannya sehingga dapat meresapi alat-alatnya karena perhatiannya pada itu-itu saja.
Kontribusi lain dari Charles Babbage yaitu menciptakan mesin hitung (calculator) mekanis yang pertama, mengembangkan program-program permainan untuk komputer, mengembangkan kerja sama yang saling menguntungkan antara para pekerja dengan pemilik perusahaan, juga membuat skema perencanaan pembagian keuntungan.
Teori manajemen klasik juga terbagi dalam dua pemikiran yaitu teori manajemen ilmiah dan teori organisasi klasik.
Teori manajemen ilmiah.
Tokoh-tokoh dari teori manajemen ilmiah antara lain :
Frederick Winslow Taylor
Pertama kali manajemen ilmiah atau manajemen yang menggunakan ilmu pengetahuan dibahas pada tahun 1900an. Taylor adalah manager dan penasehat perusahaan dan merupakan salah seorang tokoh terbesar manajemen. Taylor dikenal sebagai bapak manajemen ilmiah (scientifick management). Dari hasil penelitian dan analisanya taylor mengemukakan empat prinsip Scientific Management, yaitu :
a) Menghilangkan sistem coba-coba dan menerapkan metode-metode ilmu pengetahuan disetiap unsur-unsur kegiatan.
b) Memilih pekerjaan terbaik untuk setiap tugas tertentu selanjutnya memberikan latihan dan pendidikan kepada pekerja.
c) Setiap petugas harus menerapkan hasil-hasil ilmu pengetahuan didalam menjalankan tugasnya.
d) Harus dijalin kerja sama yang baik antara pimpinan dan pekerja.
Karya Taylor lainnya yaitu mengenai upah perpotong minimum diberikan kepada pekerja yang menghasilkan sama dengan stándar atau dibawah stándar yang telah ditentukan, sedangkan upah per potong maksimum diberikan kepada pekerja yang menghasilkan diatas stándar. Sistem upah per potong ini lebih dikenal dengan The Taylor Differential Rate System.
Frank Bunker Gilbreth dan Lilian Gilbreth ( 1868 – 1924 dan 1878 – 1917 ).
Suami istri yang berkecimpung dalam mengembangkan manajemen ilmiah. Frank adalah pelopor study gerak dan waktu, mengemukakan beberapa teknik manajemen yang di ilhami oleh pandapat taylor. Dia tertarik pada pengerjaan suatu pekerjaan yang memperoleh effisiensi tertinggi. Sedangkan Lilian Gilbreth cenderung tertarik pada aspek-aspek dalam kerja, seperti penyeleksian penerimaan tenaga kerja baru, penempatan dan latihan bagi tenaga kerja baru. Bukunya yang berjudul The Pshikology of Management menyatakan bahwa tujuan akhir dari manajemen ilmiah yaitu membantu para karyawan untuk meraih potensinya sebagai mahluk hidup.
Hendry Laurance Gantt ( 1861 – 1919 )
Hendry merupakan asisten dari Taylor, dia berdiri sendiri sebagai seorang konsultan. Adapun gagasan yang dicetuskannya adalah :
a) Kerjasama yang saling menguntungkan antara manager dan tenaga kerja untuk mencapai tujuan bersama.
b) Mengadakan seleksi ilmiah terhadap tenaga kerja.
c) Pembayar upah pegawai dengan menggunakan sistem bonus.
d) Penggunaan instruksi kerja yang terperinci.
Harrington Emerson ( 1853 – 1931 )
Prinsip pokoknya adalah tentang tujuan, dimana dari hasil penelitiannya menunjukan kebenaran prinsip yaitu uang akan lebih berhasil bila mengetahui tujuan penggunaannya. Bukti dari pendapat Emerson yaitu adanya istilah Management by Objek (MBO).
Teori organisasi klasik
Tokoh-tokoh teori organisasi klasik antara lain yaitu :
Hanry Fayol ( 1841 – 1925 )
Fayol adalah seorang industrialis Perancis. Fayol mengatakan bahwa teori dan teknik administrasi merupakan dasar pengelolaan organisasi yang kompleks, ini diungkapkan dalam bukunya yang berjudul Administration Industrielle et General atau General and Industrial Management yang ditulis pada tahun 1908 oleh Costance Storrs.
Fayol membagi manajemen menjadi lima unsur yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian dan pengawasan. Fungsi ini dikenal sebagai Fungsionalisme.
Fayol selanjutnya membagi enam kegiatan manajemen yaitu : 1. teknik produksi dan manufakturing produk, 2. Komersial, 3. Keuangan, 4. Keamanan, 5. Akuntansi, dan 6. Manajerial.
Hendry Fayol juga mengemukakan 14 prinsip manajemen yaitu :
1. Devision of work
Adanya spesialisasi dalam pekerjaan, dimana dengan spesialisasi dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan kerja. Tujuannya adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan terbaik dengan usaha yang sama.
2. Uathority and Responsibility
Wewenang yaitu hak untuk memberi perintah dan kekuasaan untuk meminta dipatuhi.
Tanggung jawab yaitu tugas dan fungsi yang harus dikerjakan, untuk ini diperlukan wewenang dari pihak diatasnya. Semua ini diperlukan sangsi agar dipatuhi oleh orang yang menerima.
3. Dicipline
Melakukan apa sudah menjadi persetujuan bersama, disiplin ini Sangat penting dalam tercapainya tujuan bersama, sebab tanpa ini tidak akan mencapai tujuan.
4. Unity of Command
Setiap bawahan hanya menerima instruksi dari seorang atasan saja untuk menghilangkan kebingungan dan saling lempar tanggung jawab. Bila hal ini dilanggar maka wewenang akan berkurang, disiplin terancam dan stabilitas akan goyah.
5. Unity of Direction
Seluruh kegiatan dalam organisasi yang mempunyai tujuan sama harus diarahkan oleh seorang manajer.
6. Subordination of Individual Interst to Generale Interest
Kepentingan seseorang tidak boleh diatas kepentingan bersama atau organisasi.
7. Renumeration
Gaji bagi pegawai merupakan harga servis atau layanan yang diberikan. Konpensasi harus adil baik bagi karyawan maupun pemilik.
8. Centralization
Standarisasi dan desentralisasi merupakan pembagian kekuasaan. Sentralisasi bisa dipakai pada organisasi yang kecil, tapi lain bagi organisasi yang besar sentralisasi tidak mungkin dapat digunakan, harus menggunakan desentralisasi. Bila peranan diberikan kepada bawahan lebih besar, maka digunakan desentralisasi.
9. Scalar Chain ( garis wewenang )
Jalan yang harus diikuti oleh semua komunikasi yang bermula dari dan kembali kekuasaan terakhir. Prinsipnya mempermudah komunikasi antar pegawai yang setingkat.
10. Order
Disini berlaku setiap tempat untuk setiap orang dan setiap orang pada tempatnya. Hendaknya setiap orang ditempatkan pada posisi yang tepat untuk mereka berdasarkan pada kemampuan, bakat dan minatnya.
11. Equty
Untuk merangsang agar pekerja melaksanakan pekerjaan dengan baik, sungguh-sungguh dan penuh kesetiaan, maka harus ada persamaan perlakuan dalam organisasi.
12. Stability of Tonure of Personel
Seseorang pegawai memerlukan penyesuaian untuk mengerjakan pekerjaan barunya agar dapat berhasil dengan baik. Apabila seseorang sering kali dipindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya akan menghambat dan membuat pekerja tersebut produktivitasnya kecil. Turn over tenaga kerja yang tinggi tidak baik bagi pelaksanaan fungsi-fungsi organisasi.
13. Initiative
Bawahan diberi kekuasaan dan kebebasan didalam mengeluarkan pendapatnya, menjalankan dan menyelesaikan rencananya, walaupun ada kesalahan yang mungkin terjadi.
14. Esprit the Corps
Persatuan adalah keleluasaan, pelaksanaan operasi organisasi perlu memiliki kebanggan, keharmonisan dan kesetiaan dari para anggotanya yang tercermin dalam semangat korps.
Teori hubungan manusiawi ( neo klasik )
Aliran ini timbul karena pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi dalam produksi dan keselarasan kerja. Tokoh-tokoh aliran hubungan manusiawi antara lain :
Hugo Munsterberg ( 1863 – 1916 )
Hugo merupakan pencetus psikologi industri sehingga dikenal sebagai bapak psikologi industri. Bukunya yaitu Psikology and Industrial Efficiensy, menguraikan bahwa untuk mencapai tujuan produktifitas harus melakukan tiga cara pertama penemuan best posibble person, kedua penciptaan best posibble work dan ketiga penggunaan best posibble effect.
Elton Mayo ( 1880 – 1949 )
Terkenal dengan percobaan-percobaan Howthorne, dimana hubungan manusiawi menggambarkan manager bertemu atau berinteraksi dengan bawahan. Bila moral dan efisiensi verja memburuk maka hubungan manusiawi dalam organisasi juga akan buruk. Mayo juga meneliti pengaruh kondisi penerangan terhadap produktifitas. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa bila kondisi penerangan naik, maka produktifitas juga akan naik dan begitupun sebaliknya. Percobaan kedua dimana bila kelompok yang terdiri dari enam orang dipisahkan dalam ruangan yang terpisah, dimana ruangan pertama kondisinya diubah setiap waktu sedang ruangan lainnya tidak mengalami perubahan. Variabel yang dirubah seperti upah, jam istirahat, jam makan, hari kerja dan sebagainya ternyata kondisi tersebut mengalami kenaikan produktivitas, ternyata kenaikan produktivitas ini bukan diakibatkan oleh intensif keuangan. Rantai reaksi emosional antar pekerja berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, perhatian khusus dan simpatik sangat berpengaruh, fenomena ini dikenal sebagai Howthorne Effect.
Teori hubungan modern ( ilmu pengetahuan ) / Teori perilaku
Dalam pengembangannya dibagi menjadi dua, pertama aliran hubungan manusiawi ( perilaku organisasi ) dan kedua berdasar pada manajemen ilmiah atau manajemen operasi.
Tokoh aliran perilaku organisasi yaitu :
o Douglas McGregor yang terkenal dengan teori X dan teori Y.
o Frederick Herzberg terkenal dengan teori motivasi higenis atau teori dua factor.
o Chris Argiris mengatakan bahwa organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya.
o Edgar Schein dinamika kelompok dalam organisasi.
o Abhraham Maslow mengemukakan tentang hirarki kebutuhan tentang perilaku manusia dan dinamika proses.
o Robert Blak dan Jane mounton mengemukakan lima gaya kepemimpinan dengan kisi-kisi manajerial ( managerial grid ).
o Rensislikert mengemukakan empat sistem manajemen dari sistem 1.explotatif, otoritatif sampai sistem 4. partisiatif kelompok.
o Fred Feidler menerapkan pendekatan contingency pada studi kepemimpinan.
** Sumbangan Aliran Perilaku Organisasi
Sumbangan aliran ini terlihat dalam peningkatan pemahaman terhadap motivasi perseorangan, perilaku kelompok, hubungan antara pribadi dalam kerja dan pentingnya kerja bagi manusia. Semua hal ini telah membuat para manajer semakin peka dan terampil dalam menangani dan berhubungan dengan bawahannya.
** Keterbatasan Aliran Perilaku Organisasi
Meskipun demikian, banyak ahli berpendapat potensi teori ini belum dikembangkan lebih lanjut. Selain itu juga banyak kritikan terhadap aliran ini, karena disamping terlalu umum, terlalu abstrak dan ruwet/rumit. Rekomendasi mereka sering berbeda satu ahli dengan ahli lainnya, sehingga manajer mengalami kesulitan menentukan pendapat yang paling baik.
Teori Aliran Kuantitatif (Riset Operasi dan Manajemen Sains)
Aliran kuantitatif mulai berkembang sejak Perang Dunia II. Pada waktu itu Inggris ingin memecahkan beberapa persoalan yang sangat kompleks dalam perang. Inggris kemudian membentuk Tim Riset Operasi (Reserch Operation), dipimpin oleh P.M.S Blackett. Tim ini terdiri dari ahli matematika, fisika, dan ilmuwan lainnya. Inggris berhasil menemukan terobosan-terobosan penting dari team tersebut. Amerika Serikat kemudian meniru, membentuk tim riset operasi seperti yang dibentuk Inggris.
Manajemen operasi merupakan variasi lain dari pendekatan kuantitatif. Beberapa contoh model manajemen operasi adalah : pengendalian persediaan seperti EOQ (Economic Order Quantity), simulasi, analisis break-event, programasi lenier (linear programming).
** Sumbangan Aliran Kuantitatif (Riset Operasi/Manajemen Sains)
Pendekatan kuantitatif memberikan sumbangan penting terutama dalam perencanaan dan pengendalian. Pendekatan tersebut juga membantu memahami persoalan manajemen yang kompleks. Dengan menggunakan model matematika, persoalan yang kompleks dapat disederhanakan.
** Keterbatasan Aliran Kuantitatif (Riset Operasi/Manajemen Sains)
Sayangnya model kuantitatif banyak menggunakan model atau simbol yang sulit dimengerti oleh kebanyakan orang, termasuk manajer. Pendekatan kuantitatif juga tidak melihat persoalan perilaku dan psikologi manusia dalam organisasi. Meskipun demikian potensi model kuantitatif belum dikembangkan sepenuhnya. Apabila dapat dikembangkan lebih lanjut pendekatan kuantitatif akan memberikan sumbangan yang lebih berarti.
MANAJEMEN DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL
Manajemen lingkungan adalah aspek-aspek dari keseluruhan manajemen (termasuk perencanaan) yang menentukan dan membawa pada implementasi kebijakan lingkungan. Manajemen lingkungan selama ini sebelum adanya ISO 14001 berada dalam kondisi terpecah-pecah dan tidak memiliki stándar tertentu dari satu daerah dengan daerah lain, dan secara internasional berbeda penerapannya antara negara satu dengan lainnya. Praktek manajemen lingkungan yang dilakukan secara sistematis, prosedural, dan dapat diulang disebut dengan Sistem Manajemen Lingkungan ( EMS ). Manajemen lingkungan saat ini telah banyak mengalami perubahan yang cukup berarti terutama dimulai Sejak awal tahun 1990. Penelitian mengenai efek dan akibat penerapan manajemen lingkungan telah banyak dilakukan terutama Sejak munculnya ISO 14001 di tahun 1996. Penerapan manajemen lingkungan yang baik di tingkat organisasi pada umumnya dibagi menjadi 3 elemen :
Perlindungan lingkungan secara fisik.
Membentuk budaya berkelanjutan dalam organisasi
Menanamkan nilai-nilai moral dan saling kepercayaan antar elemen organisasi.
DEFINISI LINGKUNGAN
Lingkungan menurut definisi umum yaitu segala sesuatu disekitar subjek manusia yang terkait dengan aktifitasnya. Elemen lingkungan adalah hal-hal yang terkait dengan : tanah, udara, air, sumber daya alam, flora, fauna, manusia, dan hubungan antar faktor-faktor tersebut. Titik sentral isu lingkungan adalah manusia. Jadi manajemen lingkungan bisa diartikan sekumpulan aktifitas merencanakan, dan menggerakkan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan kebijakan lingkungan yang telah ditetapkan.
Dalam pembahasan manajemen tidak lepas pada masalah lingkungan yang dihadapi oleh seorang manager. Perbedaan dan kondisi lingkungan akan berpengaruh terhadap konsep dan teknik serta keputusan yang akan diambil. Ada dua macam faktor lingkungan, yaitu :
1. Faktor Lingkungan Internal yaitu lingkungan yang ada didalam usahanya saja.
2. Faktor Lingkungan Eksternal yaitu unsur-unsur yang berada diluar organisasi, dimana unsure-unsur ini tidak dapat dikendalikan dan diketahui terlebih dahulu oleh manager, disamping itu juga akan mempengaruhi manager didalam pengambilan keputusan yang akan dibuat. Unsur-unsur lingkungan eksternal organisasi contohnya yaitu perubahan ekonomi, paraturan pemerintah, perilaku konsumen, perkembangan teknologi, politik dan lainnya. Lingkungan eksternal dibagi menjadi dua yaitu :
Lingkungan eksternal mikro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh langsung terhadap kegiatan manajemen yang terdiri atas penyedia, langganan, para pesaing, lembaga perbankan dan lainnya.
Lingkungan eksternal makro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh tidak langsung, seperti kondisi perekonomian, perubahan teknologi, politik, sosial dan lain sebagainya.
TANGGUNG JAWAB SOSIAL MANAJER / PERUSAHAAN
Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (selanjutnya dalam artikel akan disingkat CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.
CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang
Analisis dan pengembangan
Hari ini yang menjadi perhatian terbesar dari peran perusahaan dalam masyarakat telah ditingkatkan yaitu dengan peningkatan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan masalah etika. Masalah seperti perusakan lingkungan, perlakuan tidak layak terhadap karyawan, dan cacat produksi yang mengakibatkan ketidak nyamanan ataupun bahaya bagi konsumen adalah menjadi berita utama surat kabar. Peraturan pemerintah pada beberapa negara mengenai lingkungan hidup dan permasalahan sosial semakin tegas, juga standar dan hukum seringkali dibuat hingga melampaui batas kewenangan negara pembuat peraturan (misalnya peraturan yang dibuat oleh Uni Eropa. Beberapa investor dan perusahaan manajemen investasi telah mulai memperhatikan kebijakan CSR dari suatu perusahaan dalam membuat keputusan investasi mereka, sebuah praktek yang dikenal sebagai "Investasi bertanggung jawab sosial" (socially responsable investing).
Banyak pendukung CSR yang memisahkan CSR dari sumbangan sosial dan "perbuatan baik" (atau kedermawanan seperti misalnya yang dilakukan oleh Habitat for Humanity atau Ronald McDonald House), namun sesungguhnya sumbangan sosial merupakan bagian kecil saja dari CSR. Perusahaan di masa lampau seringkali mengeluarkan uang untuk proyek-proyek komunitas, pemberian beasiswa dan pendirian yayasan sosial. Mereka juga seringkali menganjurkan dan mendorong para pekerjanya untuk sukarelawan (volunteer) dalam mengambil bagian pada proyek komunitas sehingga menciptakan suatu itikad baik dimata komunitas tersebut yang secara langsung akan meningkatkan reputasi perusahaan serta memperkuat merek perusahaan. Dengan diterimanya konsep CSR, terutama triple bottom line, perusahaan mendapatkan kerangka baru dalam menempatkan berbagai kegiatan sosial diatas.
Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR adalah bukan hanya sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal.
Dunia bisnis selama setengah abad terakhir, telah menjelma menjadi institusi paling berkuasa diatas planet ini. Institusi yang dominan di masyarakat manapun harus mengambil tanggung jawab untuk kepentingan bersama setiap keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang diambil haruslah dilihat dalam kerangka tanggung jawab tersebut.
Sebuah definisi yang luas oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) yaitu suatu asosiasi global yang terdiri dari sekitar 200 perusahaan yang secara khusus bergerak dibidang "pembangunan berkelanjutan" (sustainable development) yang menyatakan bahwa:
" CSR adalah merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya".
Pelaporan dan pemeriksaan
Untuk menunjukkan bahwa perusahaan adalah warga dunia bisnis yang baik maka perusahaan dapat membuat pelaporan atas dilaksanakannya beberapa standar CSR termasuk dalam hal:
o Akuntabilitas atas standar AA1000 berdasarkan laporan sesuai standar John Elkington yaitu laporan yang menggunakan dasar triple bottom line (3BL).
o Global Reporting Initiative, yang mungkin merupakan acuan laporan berkelanjutan yang paling banyak digunakan sebagai standar saat ini.
o Verite, acuan pemantauan
o Laporan berdasarkan standar akuntabilitas sosial internasional SA8000.
o Standar manajemen lingkungan berdasarkan ISO 14000
Di beberapa negara dibutuhkan laporan pelaksanaan CSR, walaupun sulit diperoleh kesepakatan atas ukuran yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam aspek sosial. Sementara aspek lingkungan apalagi aspek ekonomi memang jauh lebih mudah diukur. Banyak perusahaan sekarang menggunakan audit eksternal guna memastikan kebenaran laporan tahunan perseroan yang mencakup kontribusi perusahaan dalam pembangunan berkelanjutan, biasanya diberi nama laporan CSR atau laporan keberlanjutan. Akan tetapi laporan tersebut sangat luas formatnya, gayanya dan metodologi evaluasi yang digunakan (walaupun dalam suatu industri yang sejenis). Banyak kritik mengatakan bahwa laporan ini hanyalah sekedar "pemanis bibir" (suatu basa-basi), misalnya saja pada kasus laporan tahunan CSR dari perusahaan Enron dan juga perusahaan-perusahaan rokok. Namun, dengan semakin berkembangnya konsep CSR dan metode verifikasi laporannya, kecenderungan yang sekarang terjadi adalah peningkatan kebenaran isi laporan. Bagaimanapun, laporan CSR atau laporan keberlanjutan merupakan upaya untuk meningkatkan akuntabilitas perusahaan di mata para pemangku kepentingannya.
Kasus bisnis dari CSR
Skala dan sifat keuntungan dari CSR untuk suatu organisasi dapat berbeda-beda tergantung dari sifat perusahaan tersebut dan amat sulit untuk mengukurnya walaupun banyak sekali literatur yang memuat tentang cara mengukur seperti misalnya metode "Empat belas poin balanced scorecard oleh Deming. Orlizty, Schmidt, dan Rynes menemukan suatu korelasi antara sosial / performa lingkungan hidup dan performa keuangan. Namun bisnis nampaknya tidak menguntungkan apabila diharuskan melaksanakan strategi CSR.
Hasil Survey "The Millenium Poll on CSR" (1999) yang dilakukan oleh Environics International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business Leader Forum (London) diantara 25.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika bisnis, praktek terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan, sedangkan bagi 40% citra perusahaan & brand image yang akan paling mempengaruhi kesan mereka. Hanya 1/3 yang mendasari opininya atas faktor-faktor bisnis fundamental seperti faktor finansial, ukuran perusahaan, strategi perusahaan, atau manajemen.
Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan CSR adalah ingin "menghukum" (40%) dan 50% tidak akan membeli produk dari perusahaan yang bersangkutan dan/atau bicara kepada orang lain tentang kekurangan perusahaan tersebut.
Kasus bisnis pada CSR diantara perusahaan-perusahaan biasanya berkisar satu ataupun lebih dari argumentasi dibawah ini :
** Sumber daya manusia
Program CSR dapat dilihat sebagai suatu pertolongan dalam bentuk rekrutmen tenaga kerja dan memperkerjakan masyarakat sekitar, terutama sekali dengan adanya persaingan kerja diantara para lulusan sekolah. Akan terjadi peningkatan kemungkinan untuk ditanyakannya kebijakan CSR perusahaan pada rekrutmen tenaga kerja yang berpotesi maka dengan memiliki suatu kebijakan komprehensif akan menjadi suatu nilai tambah perusahaan. CSR dapat juga digunakan untuk membentuk suatu atmosfir kerja yang nyaman diantara para staf, terutama apabila mereka dapat dilibatkan dalam "penyisihan gaji" dan aktivitas "penggalangan dana" atapun suka relawan.
** Manajemen risiko
Manajemen risiko merupakan inti dari strategi perusahaan. Reputasi yang dibentuk dengan susah payah selama bertahun-tahun dapat musnah dalam sekejap melalui insiden seperti skandal korupsi atau skandal lingkungan hidup. Kejadian ini dapat menarik perhatian yang tidak diinginkan dari penguasa, pengadilan, pemerintah dan media massa. Membentuk suatu budaya dari "mengerjakan sesuatu dengan benar" pada perusahaan dapat mengurangi risiko ini.
** Membedakan merek
Di tengah hiruk pikuknya pasar maka perusahaan berupaya keras untuk membuat suatu cara penjualan yang unik sehingga dapat membedakan produknya dari para pesaingnya di benak konsumen. CSR dapat berperan untuk menciptakan loyalitas konsumen atas dasar nilai khusus dari etika perusahaan.
** Ijin usaha
Perusahaan selalu berupaya agar menghindari gangguan dalam usahanya melalui perpajakan atau peraturan. Dengan melakukan sesuatu kebenaran secara sukarela maka mereka akan dapat meyakinkan pemerintah dan masyarakat luas bahwa mereka sangat serius dalam memperhatikan masalah kesehatan dan keselamatan, diskriminasi atau lingkungan hidup maka dengan demikian mereka dapat menghindari intervensi. Perusahaan yang membuka usaha diluar negara asalnya dapat memastikan bahwa mereka diterima dengan baik selaku warga perusahaan yang baik dengan memperhatikan kesejahteraan tenaga kerja dan akibat terhadap lingkungan hidup, sehingga dengan demikian keuntungan yang menyolok dan gaji dewan direksinya yang sangat tinggi tidak dipersoalkan.
** Motif perselisihan bisnis
Kritik atas CSR akan menyebabkan suatu alasan dimana akhirnya bisnis perusahaan dipersalahkan. Contohnya, ada kepercayaan bahwa program CSR seringkali dilakukan sebagai suatu upaya untuk mengalihkan perhatian masyarakat atas masalah etika dari bisnis utama perseroan.
Jumat, 30 September 2011
MENGENAL KEBUDAYAAN JAWA
Kebudayaan Jawa merupakan salah satu sosok kebudayaan yang tua. Kebudayaan Jawa mengakar di Jawa Tengah bermula dari kebudayaan nenek moyang yang bermukim di tepian Sungai Bengawan Solo pada ribuan tahun sebelum Masehi. Fosil manusia Jawa purba yang kini menghuni Museum Sangiran di Kabupaten Sragen, merupakan saksi sejarah, betapa tuanya bumi Jawa Tengah sebagai kawasan pemukiman yang dengan sendirinya merupakan suatu kawasan budaya. Dari kebudayaan purba itulah kemudian tumbuh dan berkemb
Kata klasik ini berasal dari kata Clacius, yaitu nama orang yang telah berhasil menciptakan karya sastra yang mempunyai “nilai tinggi”. Maka karya sastra yang tinggi nilainya hasil karya Clacius itu dinamakan “Clacici”. Padahal Clacici adalah golongan ningrat/bangsawan, sedangkan Clacius termasuk golongan ningrat, oleh karena itu hasil karya seni yang mempunyai nilai tinggi disebut “seni klasik”.
Bengawan Solo bukan hanya terkenal dengan lagu ciptaan Gesang akan tetapi lebih daripada itu lembahnya terkenal sebagai tempat dimana banyak sekali diketemukan fosil dan peninggalan awal sejarah kehidupan di atas bumi ini.
Pada tahun 1891 Eugene Dubois menemukan sisa-sisa manusia purba yang diberi nama “Phitecanthropus Erectus” di daerah Trinil, Ngawi Karesidenan Madiun.
CONTOH GAMBAR :
Ternyata fosil-fosil itu lebih purba (tua) dan lebih primitif daripada fosil-fosil Neanderthal yang ditemukan di Eropa sebelumnya. Penggalian-penggalian diteruskan hingga pada sekitar tahun 1930-1931 ditemukan lagi fosil manusia di Ngandong dan di Kedungbrubus daerah Sangiran. Fosil ini lebih tua dari yang ditemukan di Jerman maupun di Peking. Berbeda dengan penemuan di bagian dunia lain, penemuan fosil-fosil pulau Jawa didapat pada semua lapisan Pleistoceen dan tidak hanya pada satu lapisan saja. Hingga nampak jelas perkembangan manusia sejak dari bentuk ‘keorangan’nya yang mula-mula (homonide), sedang dari bagian lain di dunia penemuan-penemuan itu tidak memberi gambaran yang sedemikian lengkap. Manusia purba itu diperkirakan hidup dalam kelompok-kelompok kecil bahkan mungkin dalam keluarga-keluarga yang terdiri dari enam shingga duabelas individu. Mereka hidup berburu binatang di sepanjang lembah-lembah sungai. Cara hidup seperti ini agaknya tetap berlangsung selama satu juta tahun. Kemudian diketemukan sisa-sisa artefak yang terdiri dari alat-alat kapak batu di sebuah situs di dekat desa Pacitan, dalam lapisan bumi yang berdasarkan data geologi diperkirakan berumur 800.00 tahun dan diasosiasikan dengan fosil Pithecanthropus yang telah berevolusi lebih jauh. Dengan demikian diperkirakan bahwa sejak paling sedikit 800.000 tahun yang lalu para pemburu di pulau Jawa sudah memiliki suatu kebudayaan.
Manusia dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan yang erat sekali. Kedua-duanya tidak mungkin dipisahkan. Ada manusia ada kebudayaan, tidak akan ada kebudayaan jika tidak ada pendukungnya, yaitu manusia. Akan tetapi manusia itu hidupnya tidak berapa lama, ia lalu mati. Maka untuk melangsungkan kebudayaan, pendukungnya harus lebih dari satu orang, bahkan harus lebih dari satu turunan. Jadi harus diteruskan kepada anak cucu keturunan selanjutnya.
Kebudayaan Jawa klasik yang keagungannya diakui oleh dunia internasional dapat dilihat pada sejumlah warisan sejarah yang berupa candi, stupa, bahasa, sastra, kesenian dan adat istiadat. Berikut adalah contoh gambar candi-candi pada masa peninggalan prasejarah.
Candi Borobudur di dekat Magelang :
Candi Mendut, desa Mendut, kabupaten Magelang :
Candi Pawon berada diantara candi Mendut dan Borobudur :
Candi Prambanan di dekat Klaten :
Candi Dieng, kabupaten banjarnegara, Jawa Tengah :
Candi Gedongsongo, desa Candi, kabupaten Semarang, Jawa Tengah :
Candi Sukuh, kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah :
Teks-teks sastra yang terpahat di batu-batu prasasti, tergores di daun lontar dan tertulis di kitab-kitab merupakan khasanah sastra Jawa klasik yang hingga kini tidak habis-habisnya dikaji para ilmuwan. Ada pula warisan kebudayaan yang bermutu tinggi dalam wujud seni tari, seni musik, seni rupa, seni pedalangan,seni bangunan (arsitektur),senibusana,adatistiadat,dsbnya.
Masyarakat Jawa Tengah sebagai ahli waris kebudayaan Jawa klasik bukanlah masyarakat yang homogen atau sewarna, melainkan sebuah masyarakat besar yang mekar dalam keanekaragaman budaya. Hal itu tercermin pada tumbuhnya wilayah-wilayah budaya yang pada pokoknya terdiri atas wilayah budaya Negarigung, wilayah budaya Banyumasan dan wilayah budaya Pesisiran.
Wilayah budaya Negarigung yang mencakup daerah Surakarta – Yogyakarta dan sekitarnya merupakan wilayah budaya yang bergayutan dengan tradisikraton(Surakarta dan Yogyakarta). Wilayah budaya Banyumasan menjangkau daerah Banyumas, Kedu dan Bagelen. Sedangkan wilayah budaya pesisiran meliputi daerah Pantai Utara Jawa Tengah yang memanjang dari Timur ke Barat.
Keragaman budaya tersebut merupakan kondisi dasar yang menguntungkan bagi mekarnya kreatifitas cipta, ras dan karsa yang terwujud pada sikap budaya.
Di daerah Jawa Tengah segala macam bidang seni tumbuh dan berkembang dengan baik, dan hal ini dapat kita saksikan pada peninggalan-peninggalan yang ada sekarang.
Provinsi Jawa Tengah yang merupakan satu dari sepuluh DTW (Daerah Tujuan Wisata) di Indonesia dapat dengan mudah dijangkau dari segala penjuru, baik darat, laut maupun udara. Provinsi ini telah melewati sejarah yang panjang, dari jaman purba hingga sekarang.
Dalam usaha memperkenalkan daerah Jawa Tengah yang kaya budaya dan potensi alamnya, Provinsi Jawa Tengah sebagaimana provinsi-provinsi lain di Indonesia, mempunyai anjungan daerah di Taman Mini “Indonesia Indah” yang juga disebut “Anjungan Jawa Tengah”. Anjungan Jawa Tengah Taman Mini “Indonesia Indah” merupakan “show window” dari daerah Jawa Tengah.
Anjungan Jawa Tengah di Taman Mini “Indonesia Indah” dibangun untuk membawakan wajah budaya dan pembangunan Jawa Tengah pada umunya. Bangunan induk beserta bangunan lain di seputarnya secara keseluruhan merupakan kompleks perumahan yang dinamakan “Padepokan Jawa Tengah”, yang berarsitektur Jawa asli.
Bangunan induknya berupa “Pendopo Agung”, tiruan dari Pendopo Agung Istana Mangkunegaran di Surakarta, yang diakui sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa. Propinsi Jawa Tengah juga terkenal dengan sebutan “The Island of Temples”, karena memang di Jawa Tengah bertebaran candi-candi. Miniatur dari candi Borobudur, Prambanan dan Mendut ditampilkan pula di Padepokan Jawa Tengah. Padepokan Jawa Tengah juga merupakan tempat untuk mengenal seni bangunan Jawa yang tidak hanya berupa bangunan rumah tempat tinggal tetapi juga seni bangunan peninggalan dari jaman Sanjayawangça dan Syailendrawangça.
Pendopo Agung yang berbentuk ”Joglo Trajumas” itu berkesan anggun karena atapnya yang luas dengan ditopang 4 (empat) Soko guru (tiang pokok), 12 (dua belas) Soko Goco dan 20 (dua puluh) Soko Rowo. Kesemuanya membuat penampilan bangunan itu berkesan momot, artinya berkemampuan menampung segala hal, sesuai dengan fungsinya sebagai tempat menerima tamu. Bangunan Pendopo Agung ini masih dihubungkan dengan ruang Pringgitan, yang aslinya sebagai tempat pertunjukan ringgit atau wayang kulit. Pringgitan ini berarsitektur Limas. Bangunan lain adalah bentuk-bentuk rumah adat “Joglo Tajuk Mangkurat”, “Joglo Pangrawit Apitan” dan rumah bercorak “Doro Gepak”.
Sesuai dengan fungsinya Anjungan Jawa Tengah selalu mempergelarkan kesenia-kesenian daerah yang secara tetap didatangkan dari Kabupaten-kabupaten / Kotamadya di Provinsi Jawa Tengah di samping pergelaran kesenian dari sanggar-sanggar yang ada di Ibukota, dengan tidak meninggalkan keadiluhungan nilai-nilai budaya Jawa yang hingga kini masih tampak mewarnai berbagai aspek seni budaya itu sendiri, adat-istiadat dan tata cara kehidupan masyarakat Jawa Tengah.
Bangunan Joglo Pangrawit Apitan di Anjungan Jawa Tengah TMII terletak bersebelahan dengan sebuah panggung terbuka yang berlatar belakang sebuah bukit dengan bangunan Makara terbuat dari batu cadas hitam bertuliskan kata-kata “Ojo Dumeh” dalam huruf Jawa berukuran besar. Perkataan Ojo Dumeh mempunyai makna yang dalam, sebab artinya, “Jangan Sombong”, sebuah anjuran untuk senantiasa mampu mengendalikan diri, justru di saat seseorang merasa mempunyai keberhasilan. Di panggung inilah pengunjung dapat menyaksikan pergelaran acara khusus Anjungan yang biasanya merupakan acara-acara pilihan.
Dibandingkan dengan Bali, Jawa lebih terbuka terhadap konstruk waktu linear sebagaimana dikenalkan oleh Islam dan Barat (Lombard, 1996, jilid 2). Ada arah tertentu pada perulangan alur waktu, namun kadang arah ini tidak ditampilkan secara jelas. Meluasnya penggunaan sengkalan/kronogram yang merupakan serangkaian kata atau sebentuk sosok (misalnya Semar atau Togog) yang dapat diinterpretasikan secara numeric sehingga menunjukkan angka tahun merupakan salah satu penanda keinginan untuk menandai sesuatu dalam kerangka waktu yang bergerak maju tapi sekaligus keengganan menampilkan tahun tersebut secara eksplisit sehingga dengan mudah dapat diurutkan sesamanya dan dihitung lintasan yang telah ditempuh. Secara sosial, penerapan kalender dengan kerangka waktu siklikal terbatas penggunaannya terutama pada lingkungan keluarga dan lokalitas tertentu (Anderson, 1990:35n45) sedangkan pada lingkup yang lebih luas dan lebih terbuka terhadap pengaruh luar diatur oleh kalender dengan kerangka waktu linear. Dengan menyangsikan peran kerangka pemahaman waktu linear pada budaya Jawa, Alton Becker (1995:23-70) dengan tegas menyatakan bahwa dalam sistem pemikiran Jawa tatanan ruang (spatial order) lebih diutamakan dalam mengorganisasikan fenomena dibandingkan tatanan waktu (temporal order). Lebih lanjut dia membandingkan antara perkembangan dramaturgi dalam pertunjukan wayang, dan runtutan plot dalam drama ideal menurut Aristoteles yang banyak mempengaruhi teater Barat. Pada ke dua pertunjukan tersebut terdapat rumusan kelengkapan – suatu satuan pementasan haruslah lengkap – namun terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. Perbedaan mendasar antara keduanya adalah tradisi drama Barat menyandarkan rumusan tentang drama yang lengkap pada kausalitas yang dikerangkakan oleh runtun waktu, sementara tradisi drama Jawa berdasarkan pada kebetulan yang dikerangkakan oleh konstelasi ruang. Rumusan karakterisik Jawa tersebut dia paparkan sebagai berikut: “ Suatu lakon wayang, bagaimanapun juga, harus diawali dan diakhiri pada tempat tertentu; dia tidak dapat di awali di sembarang tempat meskipun dapat di sembarang waktu. Dia juga harus melintasi tempat tertentu ditengahnya. Dengan demikian lakon wayang awal, tengah dan akhir yang didasarkan pada ruang ketimbang waktu” (Becker, 1995:41).
Wayang Kulit Kala Bendana :
Dalam konstruk spasial ini, konflik pada lakon wayang terbentuk terutama melalui serangkaian kebetulan untuk menjelaskan mengapa suatu hal terjadi dan pihak-pihak yang berbeda bertemu; suatu landasan yang dijauhi pada plot drama Barat. Sang pahlawan tidak harus memiliki konflik kepentingan dengan lawan-lawannya. Arjuna dan Cakil bertempur semata karena keduanya kebetulan bertemu di jalan tanpa harus terdapat permusuhan karena konflik kepentingan. Kiranya dalam hal ini harus pula diingat bahwa peperangan Arjuna – Cakil tidak bisa dipahami dalam konteks yang amat sederhana, karena sesungguhnya ia mempunyai banyak keterkaitan masalah, termasuk ruang dan waktu. Ia merupakan bagian dari pada yang disebut „perang kembang‟ (kusumayudha) pada episode tengah, Pathet Sanga. Oleh karenanya ia terjadi semasa ‘Gara-gara’. Selain tampilan fisik juga mempunyai makna simbolik, bahwa senantiasa ada „gara-gara’ (godaan, pangrencana) setiap kali tujuan suci diikrarkan dan diusahakan. Secara teknis ia juga merupakan „batu ujian‟ bagi para dalang untuk menampilkan kepiawaiannya dalam memainkan wayang.
Rumusan spasial ini hadir dalam satu set yang lengkap. Becker mendefinisikan rumusan spasial berbasis tiga dalam pentas wayang: adegan pertemuan di balai persidangan agung di awal, adegan di alam pada pertengahan dan perang di akhir. Meskipun persisten struktur dramaturgi ini sangat fleksibel untuk membagi dan mengembangkan lakon. Rumusan kelengkapan serupa kita dapati pada petungan, cara penghitungan yang dipergunakan orang Jawa untuk merumuskan aspek numeric suatu ruang, khususnya ruang domestik. Cara yang juga dipergunakan untuk merumuskan waktu ini didasarkan pada kelengkapan elemen-elemen suatu set yang berulang. Meskipun hasilnya berupa dimensi elemen bangunan, petungan tidak menghasilkan proporsi maupun skala ruang yang tertentu yang dapat dirasakan. Sebagaima na sistem kalender siklikal, petungan menunjukkan ruang macam apa (dan bukan ruang sebesar apa) yang tepat. Yang menjadi perhatian sistem penghitungan ini adalah kesejahteraan yang dipancarkan suatu ruang dan kecocokannya bagi peruntukan tertentu.
Dalam menentukan ukuran elemen bangunan, petungan menggunakan suatu ukuran ragawi dari pemilik bangunan seperti kaki, jengkal, hasta maupun depa. Penggunaan satuan ragawi ini menunjukkan bahwa ruang pada dasarnya adalah ekstensi keberadaan pemiliknya. Karakter suatu bilangan ukuran dapat dirumuskan secara matematis menjadi 5x + n dengan x adalah bilangan pengali manapun dan n adalah konstanta penentu karakter. Karakteristik ruang yang terbentuk sebagaimana dirumuskan dalam konstanta n lebih mementingkan kecocokan guna suatu ruang dengan karakternya dari pada memberikan penilaian positif/negatif. Tidak ada bilangan n yang begitu bagusnya sehingga cocok untuk semua tujuan maupun sebaliknya yang harus selalu dihindari. Bilangan n = 1 yang disimbolkan sebagai Sri yang paling mensejahterakan-pun hanya diperuntukkan bagi rumah belakang tempat penghuni tinggal meskipun bilangan ini memiliki semua karakteristik unggulan.
Dengan menggunakan unit-unit pengukuran antropometrik yang didasarkan pada tubuh pemilik rumah, metode petungan di atas mengindikasikan bahwa ruang yang dihuni pada dasarnya adalah ekstensi tubuh pemiliknya, yang dalam hal ini berhubungan dengan peran dia sebagai penghuni dan penguasa ruang. Petungan ditujukan untuk mencapai kesejahteraan pada suatu ruang, yang dengan demikian akan tercapai bila terbentuk hubungan yang semestinya antara ruang dan kekuasaan yang mengontrolnya. Untuk mengelola suatu teritori, raja-raja Jawa menggunakan cacah – satuan luasan lahan dengan orang yang mengerjakan yang akan memberi hasil tertentu – sebagai unit penghitungan. Suatu ruang akan diperhitungkan jika ada yang mengontrol dan hasil yang diharapkan. Karena dianggap tidak memiliki nilai, lahan yang belum terjamah tidak diperhitungkan. Penguasa Jawa sebenarnya menguasai cacah dalam jumlah tertentu dari pada suatu wilayah utuh dengan batas yang jelas. Pada pembagian kerajaan Mataram menjadi dua di pertengahan abad ke-18, yang dibagi kepada ke dua raja adalah cacah dalam jumlah tertentu yang terserak di berbagai tempat sehingga tidak membentuk satuan luasan wilayah yang utuh yang berbatas jelas. Kewenangan lelaki dalam membentuk ruang dan mengontrol teritori direpresentasikan dalam sejumlah simbolisme phallus (alat kelamin lelaki) yang menunjukkan hubungan yang erat antara kekuasaan dan kesuburan. Di antara pusaka yang disimpan di keraton Surakarta adalah Kyai Cengkal Baladewa yang berupa tongkat pengukur tanah yang dianugerahkan oleh Baginda. Pemberian lahan adalah sepenggal kewenangan kerajaan yang dilimpahkan kepada seseorang yang berjasa. Lahan itu hadiah tapi sekaligus pengikat bagi orang tersebut untuk tetap setia dan patuh sehingga harus mengekspresikan kekuasaan sang pemberi (tanah lungguh atau apanase seorang pejabat bisaanya tidak dapat diwariskan sehingga tetap berada di bawah kewenangan raja). Untuk menunjukkan secara simbolis kekuasaan Baginda atas wilayahnya – yang berarti kemampuannya untuk mengontrol dan menyejahterakan – tongkat Kyai Cengkal Baladewa tersebut berukuran sejauh jarak antara ujung alat kelamin raja dengan jatuhnya air seninya (Pemberton, 1994: 32; Revianto, 2000: 13-14).
Berikut adalah perhitungan Almanak atau Serat Kalang. Sebelum kita membahas masalah tersebut, akan dikutip artikel Rudy Subanindra yang bertajuk „Anakronisme dan Filosofi Kalender Jawa‟ (2000) antara lain tertulis sebagai berikut. Aspek realitas kejadian dengan aspek „inter-kontaminasi’ dimensi falakiah atau getaran sinergi astronomik pada zaman sekarang sering dianggap tidak modern dan rasional. Kasarnya, realitas kejadian sering dianggap tidak ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Ghoib, tetapi lebih ditentukan oleh upaya semata-mata rasional nyata manusia atau bangsa itu sendiri. Analisis ini bukan berarti berkonotasi menafikan „otonomisasi‟ penentu nasib oleh umat atau bangsa itu sendiri. Sebab umat manusia yang lebih mem-panglima-kan rasio dan teknologi cenderung mengesampingkan „Maha Sistem‟ yang selalu secara „ingrated circuit’ berada „latent’ dibalik sistem yang diciptakan manusia. Maka ketika orang Barat mulai jenuh dengan modernitas super teknologi hingga pada gilirannya sebagian pemikirnya menjadi kurang puas dengan batas-atas paradigma realitas dan rasionalitas, kemudian mereka meloncat kembali pada rambahan apresiasi dan analisasi terhadap obyek-obyek fenomenal alam semesta, baik makrokosmik maupun mikrokosmik. Mereka kembali menyadari bahwa sehat dan waras raga saja tidak cukup untuk memberikan pre-agregasi anatomis manusia untuk bisa hidup, sadar, gerak, merasa dan berpikir. Jelas bahwa pre-agresasi „jagad cilik’ saja masih sedemikian misterius. Belum lagi otomatisasi tata surya dan angkasa. Maka orang Barat kini mulai kembali menyadari tentang masih membahananya jurang anakronisme kebudayaan Barat terhadap komprehensi filosofi „Mamayu Hayuning Bawana’. Anakronisme disini dimaknai sebagai wahana cipta, rasa, akal, dan wacana perilaku yang ‘keconthalan’ (terbirit-birit) atau sebaliknya „kebat kliwat’ (terlalu cepat, hingga kelewatan) dalam menyikapi irama keseimbangan alam semesta dan kultur global dalam masing-masing konteksnya. Namun anehnya dalam lingkup budaya kita sendiri, holisme komprehensi yang sebetulnya justru telah diawali oleh Sultan Agung dengan penciptaan Kalender Jawa dengan berbagai penetapan valensi variable waktu (neptu, titi dan mongso), ternyata justru banyak ditinggalkan oleh orang Jawa yang sebagian masih ‘kemaruk’ dan gandrung (tergila-gila) modernitas. Super interaksi alami dalam „mekanisme‟. Segala zat dalam aransemen alam semesta sesungguhnya sudah sedemikian rupa diciptakan sejak awal oleh Yang Maha Khalik. Segala ciptaan teknologi „Barat‟, sesungguhnya merupakan pengejawantahan realitas dari sifat-sifat kesemestaan yang telah ada. Hal ini bisa kita saksikan dalam karya-karya teknologi dan elektronika sampai masa kini, misalnya: energy listrik, energy nuklir, sistem radio, televisi, pesawat terbang, sistem komputer dan sebagainya. Maka, meskipun segala segi „rahasia alam‟ seolah sudah ter-ejawantah dalam teori ilmu teknologi dan ilmu-ilmu lain, tetapi sejuta medan variable yang menantang dalam misteri alam semesta tentu dirasakan sungguh masih sangat luas, bahkan tetap tak terhingga. Inilah kemahaan kehidupan sekaligus misterinya. Itulah pula sebabnya dunia gambling, baik di bidang politik, keuangan, ekonomi, perdagangan ataupun kemajuan-kemajuan umat manusia sampai ke teknologi perang bintang, berbagai rekayasa bio-teknologi, cloning, senjata nuklir, penerbangan ke luar angkasa, penelitian ke planit lain dan sebagainya, masih terus dikembang-citakan. Sebaliknya, berbagai kejadian ‘meta-rasional’ agaknya juga kembali mulai actual, diperhatikan dan diteliti secara lebih bersemangat oleh dunia Barat. Berbagai contoh gejala itu bisa kita saksikan lewat televisi. Peluang penelitian yang agaknya belum mampu diperhatikan sampai sekarang secara „adequate‟ deskriptif epistemologis (ilmiah metodologis) & ontologis (jabaran rasional dengan rujukan tata astronomi semesta) adalah: Bahwa dimensi falakiah dan astronomik dalam lingkup makrokosmos kesemestaan, pasti memiliki daya dampak terhadap seluruh supra, mid dan subsistem gerak-gerik unsur-unsur mikrokosmos alam semesta seisinya. Termasuk terhadap gejolak temperasi sensitivitas kita, peaking, konjungsi psikologis, passing intelegensia, momentum hadirnya screen indera keenam dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi lantaran kita adalah umat ciptaan-Nya yang paling sempurna dan dimuliakan-Nya sekaligus penuh misteri, disbanding flora, fauna dan makhluk lainnya.
Ilham Sultan Agung, Raja Mataram ke-III sebagai pencipta Tarikh Jawi, ilham Raja Numa Pompilus dan Kaisar Yulius selaku Pontifex Maximus sebagai pencipta Tarikh Romawi Kuno, ilham Paus Gregorius VIII sebagai pendekrit koreksi Tarikh Masehi 1582, ilham Kanjeng Sinuhun Paku Buwana VII dalam mencipta Pranotomongso Jawi, ilham filsuf Kong Hu Cu (Confusius) dalam menciptakan Tarikh Imlek dan sebagainya, tentu bukan ilham wantahan (vulgar). Tarikh sebagai suatu sistem pegangan waktu bagi berbagai umat, tentulah diciptakan/didekritkan setelah proses „ilham‟ yang sudah transcendental ke alam „dimensi ke-4‟, serta melalui kecanggihan akurasi ataupun sofistikasi pemikiran dan perhitungan-perhitungan astronomic dan sangat makrokosmis, serta didorong oleh „radiasi para energi doyo linuwih‟ (RPEDL) tertentu. Sebab, seperti diketahui pada setiap model ciptaan tarikh atau pada sistem Penanggalan, selalu saja diikuti oleh berbagai „suplemen‟ rincian berdimensi ‘astrofalakiah’. Sebagai misal, pada lingkup sistem tarikh Masehi, akan kita dapati Astrologi, Palmistry dan lain-lain. Pada Tarikh Imlek, maka hitungan falakiah ramal-penujuman PATKWA ciptaan Raja Hok Hi (Fu Hsi) ternyata sudah dipergunakan sejak 59 abad yang lalu. Maka „suplemen‟ Tarikh Jawi, juga bukan main komplitnya. Mungkin bahkan yang paling komplit. Hal ini bisa kita simak dalam berbagai Primbon Jawi. Berbeda dengan tingkat epistemology dan ontology pada dimensi penciptaan sistem Tarikh, maka dimensi penciptaan „suplemen-suplemen‟ ini justru tampak lebih misterius, dis-epistemologik dan bahkan dis-ontologik. Kita ambil contoh misalnya dalam „suplemen‟ Tarikh Jawi. Unsur daur HARI dan PASARAN di dalam Primbon Jawi itu telah diberi index atau valensi yang biasa disebut NEPTU. Dengan demikian setiap masing-masing HARI dan masing-masing PASARAN telah diberi valensi-valensi tertentu oleh ‘legenda’. Meskipun sudah ada rujukan rasionalisasi tentang perhitungan ketemunya formulasi legenda NEPTU, tetapi agaknya belum legitimatif secara keilmiahan karena belum pernah terjadi apresiasi antar para pakar Tarikh Jawi untuk menjumbuhkan (menyesuaikan) epistemoloi dan ontology deskripsinya secara „legitimate‟.
ang sosok kebudayaan Jawa klasik yang hingga kini terus bergerak menuju kebudayaan Indonesia.
Kata klasik ini berasal dari kata Clacius, yaitu nama orang yang telah berhasil menciptakan karya sastra yang mempunyai “nilai tinggi”. Maka karya sastra yang tinggi nilainya hasil karya Clacius itu dinamakan “Clacici”. Padahal Clacici adalah golongan ningrat/bangsawan, sedangkan Clacius termasuk golongan ningrat, oleh karena itu hasil karya seni yang mempunyai nilai tinggi disebut “seni klasik”.
Bengawan Solo bukan hanya terkenal dengan lagu ciptaan Gesang akan tetapi lebih daripada itu lembahnya terkenal sebagai tempat dimana banyak sekali diketemukan fosil dan peninggalan awal sejarah kehidupan di atas bumi ini.
Pada tahun 1891 Eugene Dubois menemukan sisa-sisa manusia purba yang diberi nama “Phitecanthropus Erectus” di daerah Trinil, Ngawi Karesidenan Madiun.
CONTOH GAMBAR :
Ternyata fosil-fosil itu lebih purba (tua) dan lebih primitif daripada fosil-fosil Neanderthal yang ditemukan di Eropa sebelumnya. Penggalian-penggalian diteruskan hingga pada sekitar tahun 1930-1931 ditemukan lagi fosil manusia di Ngandong dan di Kedungbrubus daerah Sangiran. Fosil ini lebih tua dari yang ditemukan di Jerman maupun di Peking. Berbeda dengan penemuan di bagian dunia lain, penemuan fosil-fosil pulau Jawa didapat pada semua lapisan Pleistoceen dan tidak hanya pada satu lapisan saja. Hingga nampak jelas perkembangan manusia sejak dari bentuk ‘keorangan’nya yang mula-mula (homonide), sedang dari bagian lain di dunia penemuan-penemuan itu tidak memberi gambaran yang sedemikian lengkap. Manusia purba itu diperkirakan hidup dalam kelompok-kelompok kecil bahkan mungkin dalam keluarga-keluarga yang terdiri dari enam shingga duabelas individu. Mereka hidup berburu binatang di sepanjang lembah-lembah sungai. Cara hidup seperti ini agaknya tetap berlangsung selama satu juta tahun. Kemudian diketemukan sisa-sisa artefak yang terdiri dari alat-alat kapak batu di sebuah situs di dekat desa Pacitan, dalam lapisan bumi yang berdasarkan data geologi diperkirakan berumur 800.00 tahun dan diasosiasikan dengan fosil Pithecanthropus yang telah berevolusi lebih jauh. Dengan demikian diperkirakan bahwa sejak paling sedikit 800.000 tahun yang lalu para pemburu di pulau Jawa sudah memiliki suatu kebudayaan.
Manusia dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan yang erat sekali. Kedua-duanya tidak mungkin dipisahkan. Ada manusia ada kebudayaan, tidak akan ada kebudayaan jika tidak ada pendukungnya, yaitu manusia. Akan tetapi manusia itu hidupnya tidak berapa lama, ia lalu mati. Maka untuk melangsungkan kebudayaan, pendukungnya harus lebih dari satu orang, bahkan harus lebih dari satu turunan. Jadi harus diteruskan kepada anak cucu keturunan selanjutnya.
Kebudayaan Jawa klasik yang keagungannya diakui oleh dunia internasional dapat dilihat pada sejumlah warisan sejarah yang berupa candi, stupa, bahasa, sastra, kesenian dan adat istiadat. Berikut adalah contoh gambar candi-candi pada masa peninggalan prasejarah.
Candi Borobudur di dekat Magelang :
Candi Mendut, desa Mendut, kabupaten Magelang :
Candi Pawon berada diantara candi Mendut dan Borobudur :
Candi Prambanan di dekat Klaten :
Candi Dieng, kabupaten banjarnegara, Jawa Tengah :
Candi Gedongsongo, desa Candi, kabupaten Semarang, Jawa Tengah :
Candi Sukuh, kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah :
Teks-teks sastra yang terpahat di batu-batu prasasti, tergores di daun lontar dan tertulis di kitab-kitab merupakan khasanah sastra Jawa klasik yang hingga kini tidak habis-habisnya dikaji para ilmuwan. Ada pula warisan kebudayaan yang bermutu tinggi dalam wujud seni tari, seni musik, seni rupa, seni pedalangan,seni bangunan (arsitektur),senibusana,adatistiadat,dsbnya.
Masyarakat Jawa Tengah sebagai ahli waris kebudayaan Jawa klasik bukanlah masyarakat yang homogen atau sewarna, melainkan sebuah masyarakat besar yang mekar dalam keanekaragaman budaya. Hal itu tercermin pada tumbuhnya wilayah-wilayah budaya yang pada pokoknya terdiri atas wilayah budaya Negarigung, wilayah budaya Banyumasan dan wilayah budaya Pesisiran.
Wilayah budaya Negarigung yang mencakup daerah Surakarta – Yogyakarta dan sekitarnya merupakan wilayah budaya yang bergayutan dengan tradisikraton(Surakarta dan Yogyakarta). Wilayah budaya Banyumasan menjangkau daerah Banyumas, Kedu dan Bagelen. Sedangkan wilayah budaya pesisiran meliputi daerah Pantai Utara Jawa Tengah yang memanjang dari Timur ke Barat.
Keragaman budaya tersebut merupakan kondisi dasar yang menguntungkan bagi mekarnya kreatifitas cipta, ras dan karsa yang terwujud pada sikap budaya.
Di daerah Jawa Tengah segala macam bidang seni tumbuh dan berkembang dengan baik, dan hal ini dapat kita saksikan pada peninggalan-peninggalan yang ada sekarang.
Provinsi Jawa Tengah yang merupakan satu dari sepuluh DTW (Daerah Tujuan Wisata) di Indonesia dapat dengan mudah dijangkau dari segala penjuru, baik darat, laut maupun udara. Provinsi ini telah melewati sejarah yang panjang, dari jaman purba hingga sekarang.
Dalam usaha memperkenalkan daerah Jawa Tengah yang kaya budaya dan potensi alamnya, Provinsi Jawa Tengah sebagaimana provinsi-provinsi lain di Indonesia, mempunyai anjungan daerah di Taman Mini “Indonesia Indah” yang juga disebut “Anjungan Jawa Tengah”. Anjungan Jawa Tengah Taman Mini “Indonesia Indah” merupakan “show window” dari daerah Jawa Tengah.
Anjungan Jawa Tengah di Taman Mini “Indonesia Indah” dibangun untuk membawakan wajah budaya dan pembangunan Jawa Tengah pada umunya. Bangunan induk beserta bangunan lain di seputarnya secara keseluruhan merupakan kompleks perumahan yang dinamakan “Padepokan Jawa Tengah”, yang berarsitektur Jawa asli.
Bangunan induknya berupa “Pendopo Agung”, tiruan dari Pendopo Agung Istana Mangkunegaran di Surakarta, yang diakui sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa. Propinsi Jawa Tengah juga terkenal dengan sebutan “The Island of Temples”, karena memang di Jawa Tengah bertebaran candi-candi. Miniatur dari candi Borobudur, Prambanan dan Mendut ditampilkan pula di Padepokan Jawa Tengah. Padepokan Jawa Tengah juga merupakan tempat untuk mengenal seni bangunan Jawa yang tidak hanya berupa bangunan rumah tempat tinggal tetapi juga seni bangunan peninggalan dari jaman Sanjayawangça dan Syailendrawangça.
Pendopo Agung yang berbentuk ”Joglo Trajumas” itu berkesan anggun karena atapnya yang luas dengan ditopang 4 (empat) Soko guru (tiang pokok), 12 (dua belas) Soko Goco dan 20 (dua puluh) Soko Rowo. Kesemuanya membuat penampilan bangunan itu berkesan momot, artinya berkemampuan menampung segala hal, sesuai dengan fungsinya sebagai tempat menerima tamu. Bangunan Pendopo Agung ini masih dihubungkan dengan ruang Pringgitan, yang aslinya sebagai tempat pertunjukan ringgit atau wayang kulit. Pringgitan ini berarsitektur Limas. Bangunan lain adalah bentuk-bentuk rumah adat “Joglo Tajuk Mangkurat”, “Joglo Pangrawit Apitan” dan rumah bercorak “Doro Gepak”.
Sesuai dengan fungsinya Anjungan Jawa Tengah selalu mempergelarkan kesenia-kesenian daerah yang secara tetap didatangkan dari Kabupaten-kabupaten / Kotamadya di Provinsi Jawa Tengah di samping pergelaran kesenian dari sanggar-sanggar yang ada di Ibukota, dengan tidak meninggalkan keadiluhungan nilai-nilai budaya Jawa yang hingga kini masih tampak mewarnai berbagai aspek seni budaya itu sendiri, adat-istiadat dan tata cara kehidupan masyarakat Jawa Tengah.
Bangunan Joglo Pangrawit Apitan di Anjungan Jawa Tengah TMII terletak bersebelahan dengan sebuah panggung terbuka yang berlatar belakang sebuah bukit dengan bangunan Makara terbuat dari batu cadas hitam bertuliskan kata-kata “Ojo Dumeh” dalam huruf Jawa berukuran besar. Perkataan Ojo Dumeh mempunyai makna yang dalam, sebab artinya, “Jangan Sombong”, sebuah anjuran untuk senantiasa mampu mengendalikan diri, justru di saat seseorang merasa mempunyai keberhasilan. Di panggung inilah pengunjung dapat menyaksikan pergelaran acara khusus Anjungan yang biasanya merupakan acara-acara pilihan.
Dibandingkan dengan Bali, Jawa lebih terbuka terhadap konstruk waktu linear sebagaimana dikenalkan oleh Islam dan Barat (Lombard, 1996, jilid 2). Ada arah tertentu pada perulangan alur waktu, namun kadang arah ini tidak ditampilkan secara jelas. Meluasnya penggunaan sengkalan/kronogram yang merupakan serangkaian kata atau sebentuk sosok (misalnya Semar atau Togog) yang dapat diinterpretasikan secara numeric sehingga menunjukkan angka tahun merupakan salah satu penanda keinginan untuk menandai sesuatu dalam kerangka waktu yang bergerak maju tapi sekaligus keengganan menampilkan tahun tersebut secara eksplisit sehingga dengan mudah dapat diurutkan sesamanya dan dihitung lintasan yang telah ditempuh. Secara sosial, penerapan kalender dengan kerangka waktu siklikal terbatas penggunaannya terutama pada lingkungan keluarga dan lokalitas tertentu (Anderson, 1990:35n45) sedangkan pada lingkup yang lebih luas dan lebih terbuka terhadap pengaruh luar diatur oleh kalender dengan kerangka waktu linear. Dengan menyangsikan peran kerangka pemahaman waktu linear pada budaya Jawa, Alton Becker (1995:23-70) dengan tegas menyatakan bahwa dalam sistem pemikiran Jawa tatanan ruang (spatial order) lebih diutamakan dalam mengorganisasikan fenomena dibandingkan tatanan waktu (temporal order). Lebih lanjut dia membandingkan antara perkembangan dramaturgi dalam pertunjukan wayang, dan runtutan plot dalam drama ideal menurut Aristoteles yang banyak mempengaruhi teater Barat. Pada ke dua pertunjukan tersebut terdapat rumusan kelengkapan – suatu satuan pementasan haruslah lengkap – namun terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. Perbedaan mendasar antara keduanya adalah tradisi drama Barat menyandarkan rumusan tentang drama yang lengkap pada kausalitas yang dikerangkakan oleh runtun waktu, sementara tradisi drama Jawa berdasarkan pada kebetulan yang dikerangkakan oleh konstelasi ruang. Rumusan karakterisik Jawa tersebut dia paparkan sebagai berikut: “ Suatu lakon wayang, bagaimanapun juga, harus diawali dan diakhiri pada tempat tertentu; dia tidak dapat di awali di sembarang tempat meskipun dapat di sembarang waktu. Dia juga harus melintasi tempat tertentu ditengahnya. Dengan demikian lakon wayang awal, tengah dan akhir yang didasarkan pada ruang ketimbang waktu” (Becker, 1995:41).
Wayang Kulit Kala Bendana :
Dalam konstruk spasial ini, konflik pada lakon wayang terbentuk terutama melalui serangkaian kebetulan untuk menjelaskan mengapa suatu hal terjadi dan pihak-pihak yang berbeda bertemu; suatu landasan yang dijauhi pada plot drama Barat. Sang pahlawan tidak harus memiliki konflik kepentingan dengan lawan-lawannya. Arjuna dan Cakil bertempur semata karena keduanya kebetulan bertemu di jalan tanpa harus terdapat permusuhan karena konflik kepentingan. Kiranya dalam hal ini harus pula diingat bahwa peperangan Arjuna – Cakil tidak bisa dipahami dalam konteks yang amat sederhana, karena sesungguhnya ia mempunyai banyak keterkaitan masalah, termasuk ruang dan waktu. Ia merupakan bagian dari pada yang disebut „perang kembang‟ (kusumayudha) pada episode tengah, Pathet Sanga. Oleh karenanya ia terjadi semasa ‘Gara-gara’. Selain tampilan fisik juga mempunyai makna simbolik, bahwa senantiasa ada „gara-gara’ (godaan, pangrencana) setiap kali tujuan suci diikrarkan dan diusahakan. Secara teknis ia juga merupakan „batu ujian‟ bagi para dalang untuk menampilkan kepiawaiannya dalam memainkan wayang.
Rumusan spasial ini hadir dalam satu set yang lengkap. Becker mendefinisikan rumusan spasial berbasis tiga dalam pentas wayang: adegan pertemuan di balai persidangan agung di awal, adegan di alam pada pertengahan dan perang di akhir. Meskipun persisten struktur dramaturgi ini sangat fleksibel untuk membagi dan mengembangkan lakon. Rumusan kelengkapan serupa kita dapati pada petungan, cara penghitungan yang dipergunakan orang Jawa untuk merumuskan aspek numeric suatu ruang, khususnya ruang domestik. Cara yang juga dipergunakan untuk merumuskan waktu ini didasarkan pada kelengkapan elemen-elemen suatu set yang berulang. Meskipun hasilnya berupa dimensi elemen bangunan, petungan tidak menghasilkan proporsi maupun skala ruang yang tertentu yang dapat dirasakan. Sebagaima na sistem kalender siklikal, petungan menunjukkan ruang macam apa (dan bukan ruang sebesar apa) yang tepat. Yang menjadi perhatian sistem penghitungan ini adalah kesejahteraan yang dipancarkan suatu ruang dan kecocokannya bagi peruntukan tertentu.
Dalam menentukan ukuran elemen bangunan, petungan menggunakan suatu ukuran ragawi dari pemilik bangunan seperti kaki, jengkal, hasta maupun depa. Penggunaan satuan ragawi ini menunjukkan bahwa ruang pada dasarnya adalah ekstensi keberadaan pemiliknya. Karakter suatu bilangan ukuran dapat dirumuskan secara matematis menjadi 5x + n dengan x adalah bilangan pengali manapun dan n adalah konstanta penentu karakter. Karakteristik ruang yang terbentuk sebagaimana dirumuskan dalam konstanta n lebih mementingkan kecocokan guna suatu ruang dengan karakternya dari pada memberikan penilaian positif/negatif. Tidak ada bilangan n yang begitu bagusnya sehingga cocok untuk semua tujuan maupun sebaliknya yang harus selalu dihindari. Bilangan n = 1 yang disimbolkan sebagai Sri yang paling mensejahterakan-pun hanya diperuntukkan bagi rumah belakang tempat penghuni tinggal meskipun bilangan ini memiliki semua karakteristik unggulan.
Dengan menggunakan unit-unit pengukuran antropometrik yang didasarkan pada tubuh pemilik rumah, metode petungan di atas mengindikasikan bahwa ruang yang dihuni pada dasarnya adalah ekstensi tubuh pemiliknya, yang dalam hal ini berhubungan dengan peran dia sebagai penghuni dan penguasa ruang. Petungan ditujukan untuk mencapai kesejahteraan pada suatu ruang, yang dengan demikian akan tercapai bila terbentuk hubungan yang semestinya antara ruang dan kekuasaan yang mengontrolnya. Untuk mengelola suatu teritori, raja-raja Jawa menggunakan cacah – satuan luasan lahan dengan orang yang mengerjakan yang akan memberi hasil tertentu – sebagai unit penghitungan. Suatu ruang akan diperhitungkan jika ada yang mengontrol dan hasil yang diharapkan. Karena dianggap tidak memiliki nilai, lahan yang belum terjamah tidak diperhitungkan. Penguasa Jawa sebenarnya menguasai cacah dalam jumlah tertentu dari pada suatu wilayah utuh dengan batas yang jelas. Pada pembagian kerajaan Mataram menjadi dua di pertengahan abad ke-18, yang dibagi kepada ke dua raja adalah cacah dalam jumlah tertentu yang terserak di berbagai tempat sehingga tidak membentuk satuan luasan wilayah yang utuh yang berbatas jelas. Kewenangan lelaki dalam membentuk ruang dan mengontrol teritori direpresentasikan dalam sejumlah simbolisme phallus (alat kelamin lelaki) yang menunjukkan hubungan yang erat antara kekuasaan dan kesuburan. Di antara pusaka yang disimpan di keraton Surakarta adalah Kyai Cengkal Baladewa yang berupa tongkat pengukur tanah yang dianugerahkan oleh Baginda. Pemberian lahan adalah sepenggal kewenangan kerajaan yang dilimpahkan kepada seseorang yang berjasa. Lahan itu hadiah tapi sekaligus pengikat bagi orang tersebut untuk tetap setia dan patuh sehingga harus mengekspresikan kekuasaan sang pemberi (tanah lungguh atau apanase seorang pejabat bisaanya tidak dapat diwariskan sehingga tetap berada di bawah kewenangan raja). Untuk menunjukkan secara simbolis kekuasaan Baginda atas wilayahnya – yang berarti kemampuannya untuk mengontrol dan menyejahterakan – tongkat Kyai Cengkal Baladewa tersebut berukuran sejauh jarak antara ujung alat kelamin raja dengan jatuhnya air seninya (Pemberton, 1994: 32; Revianto, 2000: 13-14).
Berikut adalah perhitungan Almanak atau Serat Kalang. Sebelum kita membahas masalah tersebut, akan dikutip artikel Rudy Subanindra yang bertajuk „Anakronisme dan Filosofi Kalender Jawa‟ (2000) antara lain tertulis sebagai berikut. Aspek realitas kejadian dengan aspek „inter-kontaminasi’ dimensi falakiah atau getaran sinergi astronomik pada zaman sekarang sering dianggap tidak modern dan rasional. Kasarnya, realitas kejadian sering dianggap tidak ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Ghoib, tetapi lebih ditentukan oleh upaya semata-mata rasional nyata manusia atau bangsa itu sendiri. Analisis ini bukan berarti berkonotasi menafikan „otonomisasi‟ penentu nasib oleh umat atau bangsa itu sendiri. Sebab umat manusia yang lebih mem-panglima-kan rasio dan teknologi cenderung mengesampingkan „Maha Sistem‟ yang selalu secara „ingrated circuit’ berada „latent’ dibalik sistem yang diciptakan manusia. Maka ketika orang Barat mulai jenuh dengan modernitas super teknologi hingga pada gilirannya sebagian pemikirnya menjadi kurang puas dengan batas-atas paradigma realitas dan rasionalitas, kemudian mereka meloncat kembali pada rambahan apresiasi dan analisasi terhadap obyek-obyek fenomenal alam semesta, baik makrokosmik maupun mikrokosmik. Mereka kembali menyadari bahwa sehat dan waras raga saja tidak cukup untuk memberikan pre-agregasi anatomis manusia untuk bisa hidup, sadar, gerak, merasa dan berpikir. Jelas bahwa pre-agresasi „jagad cilik’ saja masih sedemikian misterius. Belum lagi otomatisasi tata surya dan angkasa. Maka orang Barat kini mulai kembali menyadari tentang masih membahananya jurang anakronisme kebudayaan Barat terhadap komprehensi filosofi „Mamayu Hayuning Bawana’. Anakronisme disini dimaknai sebagai wahana cipta, rasa, akal, dan wacana perilaku yang ‘keconthalan’ (terbirit-birit) atau sebaliknya „kebat kliwat’ (terlalu cepat, hingga kelewatan) dalam menyikapi irama keseimbangan alam semesta dan kultur global dalam masing-masing konteksnya. Namun anehnya dalam lingkup budaya kita sendiri, holisme komprehensi yang sebetulnya justru telah diawali oleh Sultan Agung dengan penciptaan Kalender Jawa dengan berbagai penetapan valensi variable waktu (neptu, titi dan mongso), ternyata justru banyak ditinggalkan oleh orang Jawa yang sebagian masih ‘kemaruk’ dan gandrung (tergila-gila) modernitas. Super interaksi alami dalam „mekanisme‟. Segala zat dalam aransemen alam semesta sesungguhnya sudah sedemikian rupa diciptakan sejak awal oleh Yang Maha Khalik. Segala ciptaan teknologi „Barat‟, sesungguhnya merupakan pengejawantahan realitas dari sifat-sifat kesemestaan yang telah ada. Hal ini bisa kita saksikan dalam karya-karya teknologi dan elektronika sampai masa kini, misalnya: energy listrik, energy nuklir, sistem radio, televisi, pesawat terbang, sistem komputer dan sebagainya. Maka, meskipun segala segi „rahasia alam‟ seolah sudah ter-ejawantah dalam teori ilmu teknologi dan ilmu-ilmu lain, tetapi sejuta medan variable yang menantang dalam misteri alam semesta tentu dirasakan sungguh masih sangat luas, bahkan tetap tak terhingga. Inilah kemahaan kehidupan sekaligus misterinya. Itulah pula sebabnya dunia gambling, baik di bidang politik, keuangan, ekonomi, perdagangan ataupun kemajuan-kemajuan umat manusia sampai ke teknologi perang bintang, berbagai rekayasa bio-teknologi, cloning, senjata nuklir, penerbangan ke luar angkasa, penelitian ke planit lain dan sebagainya, masih terus dikembang-citakan. Sebaliknya, berbagai kejadian ‘meta-rasional’ agaknya juga kembali mulai actual, diperhatikan dan diteliti secara lebih bersemangat oleh dunia Barat. Berbagai contoh gejala itu bisa kita saksikan lewat televisi. Peluang penelitian yang agaknya belum mampu diperhatikan sampai sekarang secara „adequate‟ deskriptif epistemologis (ilmiah metodologis) & ontologis (jabaran rasional dengan rujukan tata astronomi semesta) adalah: Bahwa dimensi falakiah dan astronomik dalam lingkup makrokosmos kesemestaan, pasti memiliki daya dampak terhadap seluruh supra, mid dan subsistem gerak-gerik unsur-unsur mikrokosmos alam semesta seisinya. Termasuk terhadap gejolak temperasi sensitivitas kita, peaking, konjungsi psikologis, passing intelegensia, momentum hadirnya screen indera keenam dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi lantaran kita adalah umat ciptaan-Nya yang paling sempurna dan dimuliakan-Nya sekaligus penuh misteri, disbanding flora, fauna dan makhluk lainnya.
Ilham Sultan Agung, Raja Mataram ke-III sebagai pencipta Tarikh Jawi, ilham Raja Numa Pompilus dan Kaisar Yulius selaku Pontifex Maximus sebagai pencipta Tarikh Romawi Kuno, ilham Paus Gregorius VIII sebagai pendekrit koreksi Tarikh Masehi 1582, ilham Kanjeng Sinuhun Paku Buwana VII dalam mencipta Pranotomongso Jawi, ilham filsuf Kong Hu Cu (Confusius) dalam menciptakan Tarikh Imlek dan sebagainya, tentu bukan ilham wantahan (vulgar). Tarikh sebagai suatu sistem pegangan waktu bagi berbagai umat, tentulah diciptakan/didekritkan setelah proses „ilham‟ yang sudah transcendental ke alam „dimensi ke-4‟, serta melalui kecanggihan akurasi ataupun sofistikasi pemikiran dan perhitungan-perhitungan astronomic dan sangat makrokosmis, serta didorong oleh „radiasi para energi doyo linuwih‟ (RPEDL) tertentu. Sebab, seperti diketahui pada setiap model ciptaan tarikh atau pada sistem Penanggalan, selalu saja diikuti oleh berbagai „suplemen‟ rincian berdimensi ‘astrofalakiah’. Sebagai misal, pada lingkup sistem tarikh Masehi, akan kita dapati Astrologi, Palmistry dan lain-lain. Pada Tarikh Imlek, maka hitungan falakiah ramal-penujuman PATKWA ciptaan Raja Hok Hi (Fu Hsi) ternyata sudah dipergunakan sejak 59 abad yang lalu. Maka „suplemen‟ Tarikh Jawi, juga bukan main komplitnya. Mungkin bahkan yang paling komplit. Hal ini bisa kita simak dalam berbagai Primbon Jawi. Berbeda dengan tingkat epistemology dan ontology pada dimensi penciptaan sistem Tarikh, maka dimensi penciptaan „suplemen-suplemen‟ ini justru tampak lebih misterius, dis-epistemologik dan bahkan dis-ontologik. Kita ambil contoh misalnya dalam „suplemen‟ Tarikh Jawi. Unsur daur HARI dan PASARAN di dalam Primbon Jawi itu telah diberi index atau valensi yang biasa disebut NEPTU. Dengan demikian setiap masing-masing HARI dan masing-masing PASARAN telah diberi valensi-valensi tertentu oleh ‘legenda’. Meskipun sudah ada rujukan rasionalisasi tentang perhitungan ketemunya formulasi legenda NEPTU, tetapi agaknya belum legitimatif secara keilmiahan karena belum pernah terjadi apresiasi antar para pakar Tarikh Jawi untuk menjumbuhkan (menyesuaikan) epistemoloi dan ontology deskripsinya secara „legitimate‟.
Langganan:
Postingan (Atom)







