Sabtu, 23 Juni 2012

Produk Domestik Regional Bruto(PDRB) Kota Bekasi Tahun 2001-2011

Nama kelompok:
1. Nonik (15110023)
2. Siti Nurfana Sabatian (16110606)
3. Vicky Ariesca Merliana (19110701)

2ka11

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA BEKASI
TAHUN 2001-2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT atas selesainya penyusunan publikasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota Bekasi tahun 2001-2011. Publikasi PDRB ini,antara lain memuat informasi tentang gambaran umum,struktur perekonomian,pertumbuhan ekonomi,pendapatan regional dan pendapatan per kapita penduduk kota Bekasi. Data tersebut diharapkan bermanfaat bagi para pengambil kebijakan,khususnya Pemerintah Kota Bekasi dan pengguna data lainnya agar perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi kebijakan pembangunan menjadi lebih terarah.
Mengingat betapa pentingnya data PDRB ini terus diupayakan penyempurnaan penyajiannya dengan harapan data PDRB ini dapat bermanfaat lebih optimal bagi para pengguna data. Atas bantuan dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih,semoga publikasi ini dapat bermanfaat.

KU APBD
TAHUN ANGGARAN 2012



Daftar Isi
Kata pengantar................................................................................................i
Daftar isi.........................................................................................................ii

I.Pendahuluan.................................................................................................1
1.1 Latar belakang...........................................................................................1
1.2 Maksud dan tujuan....................................................................................1
1.3 Manfaat.....................................................................................................1
1.4 Arti dan pengertian PDRB.........................................................................1

II.PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Tahun Sebelumnya...................2
2.2 Rencana Target Ekonomi Makro 2012.......................................................3



I.PENDAHULUAN

1
1 1.1 LATAR BELAKANG

Untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Kota Bekasi dengan struktur ekonomi yang diharapkan,makapembangunan di suatu wilayah perlu direncanakan dan dievaluasi dengan baik terhadap hasil yang telah dicapai.oleh karena itu,perencanaan dan evaluasi pembangunan di Kota Bekasi agar lebih terarah dan terpadu maka pembangunan di Kota Bekasi harus dilandaskan pada statistik yang baik dan cermat,salah satunya adalah data statistik Produk Domestik Regional Bruto(PDRB).

1 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Penyusunan data statisti PDRB dimaksud untuk menyajikan data statistik atau indikator berupa:
1.laju pertumbuhan perekonomian suatudaerah, baik secara menyeluruh maupun sektoral
2. tingkat kemakmuran melalui besarnya pendapatan per kapita (dalam hal ini lebih lengkap dengan tersedinya data PDRB daerah lain sebagai pembanding)

1 1.3 MANFAAT
Publikasi PDRB tahun 2001-2011 ini bermanfaat antara lain:
1. sebagai bahan evalusi pelaksanaan pembangunan ekonomi pada periode tahun 2001-2011.
2. sebagai bahan perencanaan bidang/aspek ekonomi baik jangka pendek maupun rencana pembangunan jangka menengah baik bagi pemerintah ,dunia usaha maupun masyarakat luas.

1 1.4 ARTI DAN PENGERTIAN PDRB
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah total nilai produk barang dan jasa yang diproduksi di wilayah (regional) tertentu dalam kurun waktu tertentu (satu tahun). Disebutkan bahwa besaran PDRB dapat dihitung melalui pengukuran arus sirkulasi (circular flow), dan pengukurannya dapat dibedakan menjadi tiga cara:
1.metode total keluaran (total-output method)
2.metode pengeluaran atar keluaran(spending-on-output method)
3.dan metode pendapatan dari produksi (income from-production method).
PDB berbeda dari produk nasional bruto karena memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri yang bekerja di negara tersebut. Sehingga PDB hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. Sebaliknya, PNB memperhatikan asal usul faktor produksi yang digunakan.



II. PEMBAHASAN

2.1 PERKEMBANGAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO TAHUN SEBELUMNYA

Pembangunan ekonomi Kota Bekasisepanjang2001‐2011 berdasarkan perkembangan indikator ekonomi makro menunjukkan trend meningkat dari tahun ke‐tahun, yangantara lain dapat dilihat dari trend pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto(PDRB).
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kota Bekasi tahun 2010 meningkat sebesar11,36%, yaitu dari Rp.31.475.387,86(dalamjutarupiah)padatahun2009 menjadiRp.35.049.860,54(dalamjutarupiah)padatahun2010. Nilai peningkatan tersebut lebih tinggidibandingkan peningkatan tahun 2009 daritahun 2008 yang mencapai 6,6%, yaitudari Rp.29.525.360,31(dalamjutarupiah)tahun2008 menjadiRp.31.475.387,86(dalamjutarupiah)tahun2009. Selanjutnya,PDRB Kota Bekasiterakhir tahun 2010 Atas Dasar Harga Konstan (2000) meningkat sebesar5,40%,yaitu dari Rp.14.622.593,74(dalamjutarupiah)tahun2009 menjadiRp.15.412.543,42(dalamjutarupiah)tahun2010. Nilai peningkatan tersebut lebihtinggidibandingkan dengan peningkatan tahun 2009 dari tahun2008 yang mencapai 4,13%, yaitu dari Rp.14.042.404,20(dalamjutarupiah)tahun2008 menjadiRp.14.622.593,74(dalamjutarupiah)tahun2009.

tabel 2.1
Produk Domestik Regional Bruto
Kota Bekasi Atas dasar Harga Berlaku Tahun2007–2010(JutaRupiah)





gambar 2.2
komposisi nilai kontribusi sektoral terhadap
pembentukan PDRB ADHB kota bekasi tahun 2010





pada gambar 2.2 disajikan trend perkembangan LPE kota bekasi dalam kurun waktu hampir 1 dekade tahun (2001-2009). yang menunjukan kinerja perekonomian kota bekasi relatif fluktuatif. Sejak tahun 2001, trend perkembangan LPE Kota Bekasi menunjukkan kondisi cukup baik dengan pertumbuhan relati moderat. Namun pada tahun 2007 ­­seiring dengan terjadinya krisis ekonomi nasional yang berimbas pada berbagai sektor kegiatan ekonomi ditingkat regional maupun lokal­­­ kinerja perekonomian Kota Bekasi mengalami penurunan tingkat pertumbuhan. Kinerja perekonomian Kota Bekasi pada tahun 2008 menunjukkan penurunan yangcukupsignifikan yaitu hanya mencapai 5,94% atau lebih rendah dibandingkan tahun2007 yangmencapai 6,44%.


gambar 2.3
perkembangan LPE kota bekasi tahun 2001-2011 atas dasar harga berlaku





2.2 RENCANA TARGET EKONOMI MAKRO 2012

sebelumnya serta mempertimbangkan kondisi umum perekonomian nasional dan regional Jawa Barat, perkembangan ekonomi KotaBekasi tahun 2012 dalam konteks makro regional diperkirakan akan terus berkembang dan tumbuh secara dinamis dalam kerangka pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
fokus kebijakan perekonomian Kota Bekasi dalam konteks mendorong sekaligus menjamin terjadinya pertumbuhan dinamisadalah:

1. Mempertahankan dan meningkatkanlaju pertumbuhan sektor industri manufakturdengan tingkat pertumbuhan minimal 5,30% melalui paketpemberian intensif kemudahan perijinan.
2. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah menjadi 5,25%.
3. Meningkatkan kualitas belanja pemerintah melalui peningkatan belanja investasi.
4. Meningkatkan investasi menjadi 12,5%.
5. Menggali dan mengoptimalkan potensi ekonomilokal(localeconomicdevelopment).
6. Menumbuhkan ekonomi kerakyatan melalui peningkatan kualitasdan kuantitas UMKM dankoperasi.



daftar pustaka :
http://bekasikota.go.id/files/fck/KU%20APBD.pdf

Selasa, 24 April 2012

ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN DAGING SAPI DI INDONESIA

NAMA KELOMPOK :
• NONIK
• SITI NURFANA SABATIAN
• VICKY ARIESCA MERLIANA

ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN DAGING SAPI DI INDONESIA
( supply and demand analysis of beef meat in indonesia )


Nyak Ilham

pusat penelitian dan pengembangan sosial ekonomi pertanian

SEMINAR NASIONAL TEKNOLOGI PETERNAKAN DAN VETERINER 2001
HALAMAN : 385 - 403


PENDAHULUAN
selama periode 1987-1996 rataan laju peningkatan konsumsi daging sebesar 7,36 % per tahun (ditjen peternakan,1997). kontribusi daging sapi (21,27%), pada periode yang sama konsumsi daging sapi tumbuh sebesar 4,43%, sedankan produksi yang sebagian besar berasal dari peternakan rakyat, populasinya hanya tumbuh 2,33%. tanpa upaya peningkatan produksi, diduga akan terjadi pengurasan populasi.

PERMASALAHN YANG DIKAJI ADALAH :
1. faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran, permintaan dan harga daging sapi domestik.
2. faktor-faktor ynag mempengaruhi volume dan harga sapi impor.
3. respon penawaran, permintaan, dan harga daging sapi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya.

PENILITIAN INI BERTUJUAN UNTUK :
1. menganalisis faktor yang mempengaruhi pemakaian daging sapi dari peternakan rakyat, industri peternakan rakyat dan impr, permintaan dan harga-harga daging sapi di indonesia.
2. menganalisis respon penawaran, permintaan dan harga daging sapi terhadap perubahan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

TINJAUAN PUSTAKA
• HALLAM, D. 1990. Econometric Modelling of Agricultural Commodity Markets. Antony Rowe Ltd.,

Chippenham, Wiltshire. London and New York

• HENDERSON, J.M. and R.E. QUANDT. 1980. Microeconomic Theory: A Mathematical Approach. McGraw-Hill

International Book Company. London.

• INTRILIGATOR, M.D. 1978. Econometric Model, Techniques, and Applications. Prentice-Hall, Inc. New Jersey

• KOUTSOYIANNIS, A. 1977. Theory of Econometrics 2nd Ed. The Macmillan Press Ltd. United Kingdom.

• LABYS, W.C. 1975. Quantitative Models of Commodity Markets. Ballineger Publishing Company. Cambridge,

Mass. USA.

• LINDERT, P.H. dan C.P. KINDLEBERGER. 1993. Ekonomi Internasional. Alih Bahasa: Ir. Burhanuddin Abdullah,

M.A. Edisis Kedelapan. Penerbit Erlangga. Jakarta

• NASUTION, A. 1983. Sistim Komoditi Protein Hewani. Forum Agro Ekonomi. Vol. 2, No. 2: 29–42. Pusat

• Penelitian Agro Ekonomi. Badan Litbang Pertanian. Bogor

• NOPIRIN. 1996. Ekonomi Internasional. Edisi 3. BPFE. Yogyakarta.

• PURCELL, W.D. 1979. Agricultural Marketing, System, Coordination, Cash and Future Price. Reston, Virginia.

• RUSASTRA, I.W. 1987. Prakiraan Produksi dan Kebutuhan Produk Pangan Ternak di Indonesia. Forum Agro Ekonomi, Vol. 5, No. 1 & 2: 15–21. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. Badan Litbang Pertanian. Bogor.

• SUDARYANTO, T., R. SAYUTI, dan T.D. SOEDJANA. 1995. Pendugaan Parameter Permintaan Hasil Ternak di Beberapa Propinsi Sumatera dan Kalimantan. Jurnal Penelitian Peternakan Indonesia. No. 2: 22–35. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Litbang Pertanian. Bogor.


• SYUKUR, M., SUMARYANTO, dan C. MUSLIM. 1993. Pola Pelayanan Kredit untuk Masyarakat Berpendapatan Rendah di Pedesaan Jawa Barat. Forum Agro Ekonomi. Vol. 11 (2): 1–13. Pusat Penelitian SosialEkonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Bogor.

• TOMEK, W.G. and K.L. ROBINSON. 1981. Agricultural Products Prices. Third Edition. Cornell University Press. Ithaca and London.

• UNITED NATIONS. 1992–1997. Statistical Indicators for Asia and The Pacific Economic and Social Commissionfor Asia and The Pacific. New York.

• WOHLGENANT, M.K. and W.F. HAHN. 1982. Dynamic Adjustment in Monthly Consumer Demand for Meats American Journal of Agricultural Economics.
• ZELLNER, A. and H. THEIL. 1962. Three-Stage Least Squares: Simultaneous Estimation of Simultaneous Equations. Aconometrica. Vol. 30 (1): 54–78.

HIPOTESIS :

• Fungsi penawaran daging sapi
Fungsi penawaran dapat diturunkan dengan memaksimumkan fungsi keuntungan (HENDERSON AND QUANDT, 1980).


1. fungsi produksi daging sapi diformulasikan : Q = f (S, P, L, T, D, O
2. fungsi biaya produksi dirumuskan: C = PS * S + PP * P + W * L + PO * O + CO
3. fungsi keuntungan: π = PQ * f(S, P, L, T, D, O)-(PS * S + PP * P + W * L + PO * O +CO)
4. fungsi penawaran daging sapi diformulasikan: QS = f(PQ, PS, PP, W, T, M, B, QS-1)


Ket: Q = jumlah daging sapi S = jumlah sapi bakalan
P = jumlah pakan sapi L = jumlah tenaga kerja
T = teknologi D = lama pemeliharaan
O = faktor produksi lain C = biaya total
CO = biaya tetap π = keuntungan
PQ = harga daging sapi B = tingkat suku bunga bank
T = teknologi (Inseminasi Buatan) M = musim
QS-1 = lag penawaran daging sapi



• Fungsi permintaan daging sapi

Fungsi permintaan dapat diturunkan dari fungsi utilitas konsumen yang dimaksimumkan
dengan kendala tingkat pendapatan (HENDERSON and QUANDT, 1980)
1. fungsi utilitas konsumen daging sapi diformulasikan: U = u (Q, R)
2. fungsi kendala pada tingkat pendapatan tertentu (Yo) bagi konsumen Yo = PQ * Q + PR * R
3. fungsi lagrange : V = u (Q, R) + λ (Yo–PQ* Q-PR * R)
4.fungsi permintaan daging sapi diformulasikan: Qd = f (PQ, PR, Yo, JPt, Qd-1)

ket : U = total utilitas mengkonsumsi daging sapi
R = konsumsi komoditas lain
JPt = Jumlah penduduk
Qd-1 = Permintaan daging sapi tahun sebelumnya


• Ekspor Impor

Perbedaan harga merupakan salah satu penyebab terjadinya perdagangan antar negara (lokasi),dimana suatu produk cenderung bergerak dari daerah surplus ke daerah defisit, sampai perbedaan,harga mendekati biaya transfer (PURCELL, 1979; TOMEK and ROBINSON, 1990). Perbedaan harga tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan penawaran dan permintaan pada sentra produsen dan sentra konsumen, dapat juga disebabkan oleh perubahan nilai tukar mata uang negara eksportir dan importir (LABYS, 1975). persamaan impor daging sapi Indonesia diformulasikan sebagai berikut:
M = f(PBI, TRI, GNP, NTR, M-1)
dimana:
M = volume impor daging sapi PBI = harga daging sapi impor
TRI = tarif impor daging sapi GNP= pendapatan nasional bruto
NTR= nilai tukar rupiah terhadap dollar AS M-1 = lag impor

• Harga Daging Sapi

Harga daging sapi di pasar ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran (HENDERSON and QUANDT, 1980). Model pasar yang demikian didasarkan pada teori keseimbangan pasar (theory of market equilibrium) (KOUTSOYIANNIS, 1977). studi ini digunakan model disequilibrium, dimana persamaan harga diformulasikan sebagai berikut: PQ = f ( PQL, Qd, St, PQ-1) Dimana PQL merupakan harga produk pada level pasar yang berbeda dan St adalah stok daging sapi pada tahun t.

• Elastisitas

Untuk mendapatkan ukuran kuantitatif respon suatu fungsi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya, digunakan konsep elastisitas. rumus sebagai berikut: E-SR = δYt / δXt * Xt/Yt dan E-LR= E-SR /1-b .
Ket: B = parameter dugaan peubah lag endogen Xt = rata-rata peubah eksogen
Yt = rata-rata peubah endogen
• Spesifikasi model ekonomi daging sapi

Model yang digunakan dalam studi ini adalah model ekonometrika. Model ekonometrika adalah suatu model statistika yang menghubungkan peubah-peubah ekonomi dari suatu fenomena ekonomi yang mencakup unsur stokastik (INTRILIGATOR, 1978). Model dirumuskan dalam bentuk
persamaan linier additive, yang berjumlah 14 persamaan, terdiri dari tujuh persamaan struktural dan tujuh persamaan identitas dengan jumlah peubah curent endogenous. Persamaan terdiri dan
empat blok, yaitu penawaran, permintaan, harga, dan ekspor-impor dunia.
Variabel yang digunakan:
- Penawaran daging sapi
- Permintaan daging sapi
- Ekspor impor
- Harga daging sapi
- elastisitas

SAMPLING :

• Hasil pendugaan parameter dan uji statistik model penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia, periode 1990-1997
• Nilai elastisitas peubah-peubah yang berpengaruh nyata terhadap penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia
• Sumber data penelitian analisis penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia Peubah Notasi Satuan Sumber


KESIMPULAN :

• Penawaran peternakan rakyat dipengaruhi oleh selisih harga daging sapi dengan harga sapi domestik dan penawaran industri peternakan rakyat. Penawaran peternakan rakyat responsif terhadap perubahan selisih harga daging sapi dengan harga sapi domestik. Keberadaan industri peternakan berpengaruh negatif terhadap penawaran usaha peternakan rakyat. Jika tidak ada pengendalian oleh pemerintah desakan penawaran daging sapi industri peternakan ini akan semakin nyata. Kegiatan IB yang diharapkan dapat meningkatkan produksi daging, belum memberikan pengaruh yang nyata dalam usaha peternakan rakyat.
• Usaha peternakan sapi potong rakyat masih belum bankable. Padahal usaha penggemukan sapi potong dengan periode penggemukan 3–6 bulan cukup berkembang dan menjanjikan keuntungan yang cukup baik. Masalahnya sebagian peternak terbatas modalnya, sehingga mereka hanya memelihara dalam jumlah terbatas. Pada daerah-daerah tertentu dimana potensi pakannya memadai,skala pemilikan masih potensial untuk ditingkatkan.
• Permintaan daging sapi dipengaruhi oleh harga daging sapi dan harga ikan, serta responsif terhadap perubahan harga daging, artinya daging sapi masih merupakan barang mewah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Keputusan mengkonsumsi daging sapi tidak hanya ditentukan oleh pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh tingkat pendidikan dan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas sosial ekonomi.
• Harga daging sapi domestik dipengaruhi oleh harga daging impor, harga sapi domestik, dan penawaran daging sapi domestik. Namun harga daging sapi domestik tidak responsif terhadap perubahan seluruh peubah yang mempengaruhinya. Ini menunjukkan pasar daging sapi di Indonesia pada periode ini banyak dikendalikan oleh pemerintah, terutama pada sisi penawaran.


KETERBATASAN :

Untuk mendukung program pembangunan sapi potong di Indonesia, diperlukan upaya pengadaan sapi bakalan lokal berkualitas dari pihak pengusaha industri peternakan rakyat. Namun usaha ini diperkirakan belum memberikan keuntungan yang layak, sehingga belum ada diantara mereka yang bergerak pada usaha ini. Salah satu upaya pengadaan sapi bakalan lokal ini melalui pengadaan paket program sapi potong kombinasi antara program penggemukkan dengan pembibitan, yang sedang dikembangkan pada beberapa daerah.

IMPLIKASI :

Hasil pendugaan model Secara menyeluruh persamaan yang ada mampu menjelaskan sistem persamaan simultan dengan nilai R2 terbobot sebesar 0,89. Untuk masing-masing persamaan, nilai statistik F cukup tinggi, yaitu antara 6,42–77,26. Demikian juga nilai koefisien determinasi (R2), yaitu antara 0,65– 0,95. Menurut kriteria ekonomi, semua tanda parameter sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan nilai DW dan Dh, dari tiap persamaan tidak ada masalah serial korelasi yang berarti.
Penawaran industri peternakan rakyat (feedlotter) memberikan pengaruh negatif dan nyata secara statistik terhadap penawaran peternakan rakyat. Namun demikian penawaran peternakan rakyat tidak responsif terhadap perubahan penawaran industri peternakan rakyat. Hal ini antara lain disebabkan oleh pangsa produksi daging sapi dari industri peternakan rakyat masih relatif kecil dan dikonsumsi oleh konsumen tertentu pada daerah tertentu pula, terutama konsumen menengah ke atas di daerah perkotaan, khususnya Jawa Barat dan DKI Jakarta.

SISTEM EKONOMI INDONESIA

1.       Sistem

Sistem adalah suatu organisasi besar yang menjalin berbagai subyek dan obyek serta perangkat kelembagaan dalam suatu tatanan tertentu.

Subyek dan obyek:

·   Sistem kemayaraatan: orang atau masyarakat
·   Sistem kehidupan/lingkungan: makluk hidup dan benda alam
·   Sistem peralatan: barang/alat
·   Sistem informasi: data, catatan, dan fakta

Perangkat kelembagaan: lembaga/wadah subyek melakukan hubungan, cara dan mekanisme yang menjalin hubungan
Tatanan/kaidah: norma/peraturan yang mengatur hubungan subyek/obyek agar berjalan serasi.

2.       Sistem ekonomi dan politik
Dumairy (1996), sistem ekonomi adalah sistem yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan.

Sistem ekonomi:

·   Subyek/obyek: manusia (subyke) dan barang ekonomi (obyek)
·   Perangkat kelembagaan: lembaga ekonomi formal dan non formal dan cara serta mekanisme hubungan
·   Tatanan: hukum dan peraturan perekonomian

Sheridan (1998), economic system refers to the way people perform economic activities in their search for personal happiness.

Sanusi (2000) sistem ekonomi merupakan suatu organisasi yang terdiri dari sejumlah lembaga/pranata (ekonomi, sosial dan ide) yang saling mempengaruhi yang ditujukan ke arah pemecahan masalah pokok setiap perekonomian... produksi, distribusi, konsumsi.

Sanusi (2000), perbedaan antar sistem ekonomi dilihat dari ciri:

a)    Kebebasan konsumen dalam memilih barang dan jasa yang dibutuhkan
b)    Kebebasan masyarakat memilih lapangan kerja
c)    Pengaturan pemilihan/pemakaian alat produksi
d)    Pemilihan usaha yang dimanifestasikan dalam tanggungjawab manajer
e)    Pengaturan atas keuntungan usaha yang diperoleh
f)      Pengaturan motivasi usaha
g)    Pembentukan harga barang konsumsi dan produksi
h)    Penentuan pertumbuhan ekonomi
i)      Pengendalian stabilitas ekonomi
j)      Pengambilan keputusan
k)    Pelaksanaan pemerataan kesejahteraan

1.       Kapitalisme dan Sosialisme

Sistem Ekonomi yang esktrim:

(a) Sistem ekonomi kapitalis

·         Pengakuan terhadap kepemilikan individu terhadap sumber ekonomi
·         Kompetisi antar individu dalam memenihi kebutuhan hidup dan persaingan antar badan usaha untuk mengejar keuntungan
·         Tidak batasan bagi individu dalam menerima imbalan atas prestasi kerjanya
·         Campur tangan pemerintah sangat minim
·         Mekanisme pasar akan menyelesaikan persoalan ekonomi
·         USA

 (b) Sistem ekonomi sosialis

·         Kepemilikan oleh negara terhadap sumber ekonomi
·         Penekanan terhadap kebersamaan dalam menjalankan dan memajukan perekonomian
·         Imbalan yang diterima oleh individu berdasarkan kebutuhan, bukan prestasi kerja
·         Campur tangan pemerintah sangat tinggi
·         Persoalan ekonomi harus dikendalikan oleh pemerintah pusat
·         USSR

(c) Sistem ekonomi campuran

·         Kepemilikan oleh individu terhadap sumber ekonomi diakui negara
·         Kompetisi antar individu dalam memenihi kebutuhan hidup dan persaingan antar badan usaha untuk mengejar keuntungan
·         Imbalan yang diterima oleh individu berdasarkan kebutuhan, bukan prestasi kerja
·         Campur tangan pemerintah hanya untuk bidang tertentu seperti bidang yang diperlukan oleh seluruh masyarakat (listrik dan air)
·         Mekanisme pasar akan menyelesaikan persoalan ekonomi dengan beberapa hal perlu adanya campur tangan pemerintah

2.       Persaingan terkendali

Untuk mengetahui sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara, maka perlu dianalisis kandungan faktor-faktor tersebut diatas.

Sistem ekonomi Indonesia (sistem persaingan terkendali);

·         Bukan kapitalis dan bukan sosialis. Indoensia mengakui kepemilikan individu terhadap sumber ekonomi, kecuali sumber ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara sesuai dengan UUD 45.
·         Pengakuan terhadap kompetisi antar individu dalam meningkatkan taraf hidup dan antar badan usaha untuk mencari keuntungan, tapi pemerintah juga mengatur bidang pendidikan, ketenagakerjaan, persaingan, dan membuka prioritas usaha.
·         Pengakuan terhadap penerimaan imbalan oleh individu  atas prestasi kerja dan badan usaha dalam mencari keuntungan. Pemerintah mengatur upah kerja minimum dan hukum perburuhan.
·         Pengelolaan ekonomi tidak sepenuhnya percaya kepada pasar. Pemerintah juga bermain dalam perekonomian melalui BUMN dan BUMD serta departemen teknis untuk membantu meningkatkan kemampuan wirausahawan (UKM) dan membantu permodalan.


3.       Kadar Kapitalisme dan Sosialisme

Unsur kapitalisme dan sosialisme yang ada dalam sistem ekonomi Indonesia dapat dilihat dari sudut berikut ini:

(a) Pendekatan faktual struktural yakni menelaah peranan pemerintah dalam perekonomian

Pendekatan untuk mengukur kadar campur tangan pemerintah menggunakan kesamaan Agregat Keynesian.

Y = C + I + G + (X-M)
Y adalah pendatan nasional.

Berdasarkan humus tersebut dapat dilihat peranan pemerintah melalui variable G (pengeluaran pemerintah) dan I (investasi yang dilakukan oleh pemerintah) serta (X-M) yang dilakukan oleh pemerintah.

Pengukuran kadar pemerintah juga dapat dilihat dari peranan pemerintah secara sektoral terutama dalam pengaturan bisnis dan penentuan harga. Pemerintah hampir mengatur bisnis dan harga untuk setiap sector usaha.

(b) Pendekatan sejarah yakni menelusuri pengorganisasian perekonomian Indoensia dari waktu ke waktu.

Berdasarkan sejarah, Indonesia dalam pengeloaan ekonomi tidak pernah terlalu berat kepada kapitalisme atau sosialisme.

Percobaan  untuk mengikuti sistem kapitalis yang dilakukan oleh berbagai kabinet menghasilkan keterpurukan ekonomi hinggá akhir tahun 1959.

Percobaan  untuk mengikuti sistem sosialis yang dilakukan oleh Presiden I menghasilkan keterpurukan ekonomi hiinggá akhir tahun 1965.

Minggu, 11 Maret 2012

Teori penawaran dan permintaan (bahasa Inggris: supply and demand) dalam ilmu ekonomi, adalah penggambarkan atas hubungan-hubungan di pasar, antara para calon pembeli dan penjual dari suatu barang. Model penawaran dan permintaan digunakan untuk menentukan harga dan kuantitas yang terjual di pasar. Model ini sangat penting untuk melakukan analisis ekonomi mikro terhadap perilaku serta interaksi para pembeli dan penjual. Ia juga digunakan sebagai titik tolak bagi berbagai model dan teori ekonomi lainnya. Model ini memperkirakan bahwa dalam suatu pasar yang kompetitif, harga akan berfungsi sebagai penyeimbang antara kuantitas yang diminta oleh konsumen dan kuantitas yang ditawarkan oleh produsen, sehingga terciptalah keseimbangan ekonomi antara harga dan kuantitas. Model ini mengakomodasi kemungkian adanya faktor-faktor yang dapat mengubah keseimbangan, yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk terjadinya pergeseran dari permintaan atau penawaran.

PENGERTIAN PENAWARAN
Penawaran adalah jumlah barang atau jasa yang tersedia dan dapat dijual oleh penjual pada berbagai tingkat harga, dan pada waktu tertentu. Beberapa faktor yang mempengaruhi penawaran:

* Harga barang itu sendiri.
* Harga sumber produksi.
* Tingkat produksi.
* Ekspektasi/perkiraan.

Jenis-jenis Penawaran
A. Penawaran individu adlaha penawaran yangdilakuakn oleh satu orang penjual dan atau produsen
B. Penawaran pasar adalah penjumlahan dari penawaran individu.

HUKUM PENAWARAN
Hukum penawaran menyatakan semkain tinggi harga suatu barang semakin banyak jumlah barang yang dibutuhkan, semakin rendah harga suatu barang semakin sedikit jumlah barang yang ditawarkan. Hukum penawaran juga bersifat ceteris paribus. Hal ini menunjukkan hubungan yang positif antara harga barang atua jasa dengan kuantitas yang ditawarkan.


Dari tabel di atas menyatakan bahwa pada tingakt harga yang tinggi jumlah barang atau jasa yang ditawarkan banyak, kemudian harga turun secara perlahan mengakibatkan jumlah penawaran akan semakin menurun pula. Begitu juga kurva penawaran yang berbentuk garis dari kiri bawah ke kanan atas atau berslope positif. Yang menunjukkan bahwa apabila terjadi penurunan harga, maka akan disertai dengan penurunan jumlah penawaran terhadap barang dan jasa.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penawaran :
a. Harga barang dan jasa.
b. Harga input atau biaya produksi.
c. Teknologi produksi.
d. Keuntungan yang diinginkan oleh produsen.
e. Banyaknya penjual atau pesaing.

Penawaran Pergeseran Kurva Penawaran
Jika terjadi perubahan harga pada factor-faktor yang mempengaruhi penawaran selain harga, maka akan mengakibatkan kurva penawaran akan bergeser. Bahwa setiap perubahan yang mengakibatkan pertambahan jumlah penawaran pada tingkat harga tertentu, maka akan menggeser kurva penawaran ke kanan begitu juga apabila setiap perubahan yang menunjukkan jumlah penawaran pada tingkat harga tertentu, maka akan menggeser kurva penawaran ke kiri.

Secara umum fungsi penawaran ditulis sebagai berikut

Untuk menentukan persamaan fungsi penawaran melalui dua titik A Q1, Q2 dan B Q2, P2 dengan rumus :

Contoh :
Pada saat harga Rp. 700,00 jumlah abrang yang ditawarkan 30 unit kemudian harga naik menjadi Rp. 1.000,00 jumlah barang yang ditawarkan sebanyak 50 unit, bagaimana fungsi penawarannya ?
Jawab :
P – 700 = 15 Q – 30
P – 700 = 15 Q – 450
P = 15Q + 700 – 450
P = 15 Q + 250
P-700 = Q – 30

PENGERTIAN PERMINTAAN
Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang ingin dan mampu dibeli oleh konsumen, pada berbagai tingkat harga, dan pada waktu tertentu. Beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan :

* Harga barang itu sendiri.
* Harga barang lain yang berkaitan.
* Tingkat pendapatan.
* Selera konsumen.
* Ekspektasi/perkiraan.

Jenis-jenis permintaan
A.Berdasarkan daya beli

1)Permintaan efektif, yaitu permintaan terhadap barang atau jasa yang disertai daya beli dan melakukan transaksi.
2)Permintaan potensial, yaitu permintaan terhadap barang atua jasa yang disertai daya beli tetapi konsumen masih mempertimbangkan transaksinya (belum dilakukan transaksi)
3)Permintaan absolute, yaitu permintaan terhadap barang/jasa yang tidak disertai daya beli.

B.Berdasarkan jumlah yang melakukan permintaan

1)Permintaan individu adalah permintaan seseorang terhadap barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
2)Permintaan kelompok adalah permintaan dari sekelompok orang atau masyarakat pada saat yang bersamaan (penjumlahan permintaan individu)

HUKUM PERMINTAAN
Hukum permintaan menyatakan bahwa harga sebuah barang meningkat, kuantitas (jumlah) uang diminta akan turun, sebaliknya jumlah (kuantitas) barang yang diminta naik. Jika harga sebuah barang mengalami penurunan. Dalam hal ini kuantitas yang diminta berhubungan negative dengan harga barang. Hokum yang berlaku dalam ilmu ekonomi tidaklah berlaku mutlak tetapi bersifat ceteris paribus.

Faktor penyebab tidak berlakunya hokum permintaan :
a. Permintaan barang-barang bernilai prestise
b. Harapan harga suatu barang akan berubah
c. Hubungan kuantitas harga
d. Barang inferior

Schedule dan Kurva Permintaan

Schedule permintaan adlaha sebuah table yang memperlihatkan hubungan antara harga barang dan kuantitas yang diminta, sedangkan kurva permintaan adlaha grafik yang memuat hubungan antara harga sebuah barang dan kuantaitas yang diminta.
Perhatikan contoh berikut ini !



Dari tabel di atas dapat dikethaui bahwa tingkat harga yang tinggi jumlah barnag yang diminta sedikit kemudian harga diturunkan secara perlahan-lahan mengakibatkan jumlah permintaan semakin bertambah.

Pergeseran Kurva Permintaan
Jika terjadi perubahan pada factor-faktor yang mempengaruhi permintaan selain harga, maka akan mengakibatkan kurva permintaan bergeser bahwa setiap perubahan yang mengakibatkan pertambahan jumlah permintaan pada tingkat harga tertentu, maka akan menggeserkan kurva permintaan ke kanan, begitu pula apabila setiap perubahan yang menurunkan jumlah permintaan pada tingkat harga tertentu, maka akan menggeserkan kurva permintaan ke kiri.

Bentuk umum fungsi permintaan adalah sebagai berikut :

dimana :
Q = jumlah barang yang diminta
a = konstanta
b = koefisien pengaruh atau slope
p = harga

Contoh :
Pada saat harga RP. 2.000,00 jumlah permintaan sebesar 800 unit, kemudian pada saat harga naik Rp. 3.000,00 jumlah permintaan 600 unit, tentukan fungsi permintaannya !
Jawab :
Q = a – bp
800 = a – 2.000b
600 = a – 3.000b
200 = – 1.000b
b = 5 – masukan persamaan 1
800 = a – 200 (5)
800 = a – 10.000
a = 10.800
fungsi a =  Q = a – bp  Q = 10.800 – 5p
DASAR SISTEM INFORMASI

I. Pengertian Sistem Operasi
Tanpa software, sebuah komputer secara mendasar tidaklah berguna. Dengan software, Komputer kita dapat menyimpan , memproses dan mengambil informasi. Software dalam komputer terbagi dua yaitu systems programs dan application programs. Applications programs dapat menyelesaikan masalah dari pemakai sedangkan systems program adalah yang memanajemen opearsi dari komputer itu sendiri. Yanh paling mendasar dari sustu system programs adalah Operating System (system operasi). Dimana system Operasi ini yang mengontrol semua sumber daya komputer dan memberikan fasilitas yang lebih banyak agar application programs dapat bekerja.
Atau system operasi dapat didefinisikan sebagai program dasar atau pendahuluan yang mengandung program-program untuk mengatur kerja komputer secara mendasar seperti unit masukan, unit keluaran, mengatur table pengkodean, mengatur memory, mengatur processor, membaca data yang diketik dan menyimpan file.
Bagian – bagian dari system operasi secara garis besar dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : Control Program dan Service Program. Kedua bagian ini mempunyai fungsi sendiri – sendiri namun masih tetap terkait hubungan satu dengan lainnya, dengan hardware, penakai dan dengan program aplikasi.
Control Program berfungsi untuk mengatur kerja input dan output, berkomunikasi dengan operator atau programmer, menghandle masalah interupsi, mencatat kegiatan yang ada dan menghandle masalah multi programming.
Sedangkan Servive Program berfungsi untuk mengambil program yang ada serta menterjemahkannya dan merawat system library.

II. Lapisan Dalam Siatem Operasi
Lapisan dalam system operasi terbagi atas enam lapisan, yaitu :

Lapisan 0 : Penempatan prosessor dan multi programming
Lapisan 1 : Memanajemen memory.
Lapisan 2 : Menangani komunikasi antar proses dan operator console.
Lapisan 3 : Memanajemen peralatan Input/Output.
Lapisan 4 : Dimana user menemukan program
Lapisan 5 : Tempat proses dari operator sistem

III. Proses Booting
Komputer terdiri dari sekelompok peralatan serta instruksi / program yang satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan, baik diantara peralatan itu sendiri maupun antara peralatan dengan instruksi / program. Semuanya merupakan satuan yang saling bekerja sama dan saling tergantung satu dengan lainnnya.
Ada tiga komponen utama dalam sebuah system komputer yaitu :
1. Mikroprosessor / CPU (central Processing Unit )
2. BIOS ( Basic Input Output System )
3. DOS (Disk Operating System )
Hubungan ke tiga komponen di atas adalah :


Penjelasan :
- mikroprosessor adalah otak dari komputer yang harus diberi petunjuk apa yang harus dilakukan
- instruksi pertama kali diberikan oleh BIOS. Instruksi ini secara sistematis menguji semua komponen komputer, menginisialisasikan hardware, menentukan tipe dari Video Disley Adapter. Selanjutnya melacak EGA BIOS atau VGA BIOS. Jika ditemukan maka system BIOS akan di eksekusi.
- Tahap beriktunya memerikasa keberadaan disket di drive pertama, jika tidak ditemukan disket di drive pertama maka PC akan mengeksekusi program BASIC dari ROM (Read Only Memory).
- Jika di drive pertama ada disket, maka BIOS akan memeriksa apakah disket tersebut mempunyai system operasi DOS, jika tidak ada, BIOS akan mencoba mencari informasi di harddisk.
Rangakaian proses ini disebut BOOTSTRAPPING atau proses BOOTING.

IV. INSTALASI SISTEM OPERASI
Agar komputer dapat digunakan, pertama kali system operasi harus sudah terinstall pada komputer. Berikut contoh instalasi system operasi windows.
Menginstall Windows 7 :
Langkah – langkah :
1.Nyalakan komputer sampai ada C prompt atau C:\>
2.Masukkan disket pertama (disk#1 setup) Windows 7 full version ke drive A:
3.Pindahkan drive aktif dari drive C ke drive A dengan mengetikkan perintah C:\>A: ENTER
4.Kemudian pada posisi A prompt, ketikkan pereintah A>SETUP ENTER
5.Selanjutnya ikuti perintah yang diinginkan oleh windows 7 ketika proses instalasi sedang berlangsung.